JurnalLeaders StoryWaspada Bias Kognitif dalam Mengambil Keputusan

Redaksi Pemimpin.IDJuly 20, 2020155
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/07/justin-luebke-BkkVcWUgwEk-unsplash-1280x854.jpg

Otak kita adalah alat utama yang kita gunakan dalam mengambil keputusan. Otak manusia berfungsi dalam menerima, menilai, dan menginterpretasi informasi. Informasi tersebut bisa kita gunakan sekarang atau simpan untuk masa yang akan datang. 

Tetapi, karena adanya banyak informasi yang terus menerus harus kita terima dan proses, otak kita akan terdorong untuk membuat “jalan pintas” bagi kita dalam berpikir. Dalam pembuatan jalan pintas tersebut, otak kita bisa menemukan eror yang bisa mengganggu kita dalam memproses informasi lain. Eror tersebut bisa disebutkan sebagai bias kognitif.

Bias kognitif dapat memengaruhi cara kita memahami dunia dan mencapai sebuah keputusan. Ternyata, semua orang pasti menampilkan bias kognitif.

Ketika membuat penilaian dan keputusan tentang lingkungan sekitar, kita tidak akan selalu berpikir objektif. Proses berpikir kita bisa secara tidak sadar dipengaruhi oleh peristiwa masa lalu atau informasi yang pernah kita pelajari. Kalau kita tidak hati-hati, bias kognitif bisa mengarahkan kita pada penilaian yang salah dan keputusan yang tidak tepat.

Menurut Michael Brainard, psikolog organisasi dan industri dari Brainard Strategy, bias kognitif mendorong kita untuk melihat dunia secara terdistorsi. Oleh karena itu, kita sebagai manusia tidak melihat dunia apa adanya, melainkan dunia yang kita inginkan.

Ada banyak macam bias kognitif yang memengaruhi proses berpikir kita dalam bekerja maupun beraktivitas sehari-hari. Sekarang, akan kita bahas 3 macam yang dapat berpengaruh besar dalam pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin.

  1. Confirmation bias

Mungkin kamu pernah dengar istilah ini tetapi tidak mengerti apa artinya. Confirmation bias seringkali dibahas dalam perbincangan modern, karena berada dalam era informasi bisa memudahkan kita untuk jatuh ke dalamnya.

Secara umum, confirmation bias adalah kecenderungan untuk mengumpulkan informasi yang mendukung dan menegaskan ide-ide yang sudah kita miliki. 

Kamu terjebak dalam bias kognitif ini ketika kamu mengejar bukti pendukung ide kamu, tetapi menolak atau bahkan tidak mencari mencari bukti bagi ide yang bertentangan.

  1. Anchoring bias

Arti dari kata “anchor” adalah jangkar. Maka, anchoring bias adalah kecenderungan untuk terlalu bergantung atau “berjangkar” pada informasi pertama yang diketahui.

Daniel Kahneman, psikolog, peraih hadiah Nobel, dan penulis buku Thinking, Fast and Slow, mengatakan kalau secara sistematis, otak manusia akan mengambil informasi pertama yang diterima, dan menginterpretasi hal-hal lain berdasarkan kesimpulan yang diambilnya dari informasi pertama tersebut. 

Sumber : Toa Heftiba – Unsplash

Dalam kata lain, ketika kamu mencoba membuat keputusan, kamu kemungkinan sering menggunakan sebuah “jangkar” atau patokan sebagai referensi di tahap awal. Ternyata, informasi pertama yang menjadi jangkar tersebut dapat memengaruhi keputusan yang akhirnya kita ambil.

Misalnya, kamu ingin membeli sepatu. Sepatu pertama yang kamu lihat di toko memiliki harga sebesar 1,5 juta rupiah. Lalu, sepatu kedua yang kamu lihat berharga 1,2 juta rupiah. Walaupun secara objektif 1,2 juta rupiah adalah harga yang mahal, kamu akan menginterpretasinya sebagai sepatu yang murah, karena informasi pertama yang menjadi patokanmu adalah 1,5 juta rupiah. Dan pada akhirnya kamu mungkin akan membeli sepatu kedua tersebut.

Namun, keputusanmu bisa berbeda apabila sepatu pertama yang kamu lihat memiliki harga 1 juta rupiah. Kalau hal tersebut terjadi, kemungkinan besar kamu akan memandang sepatu yang berharga 1,2 juta rupiah sebagai mahal.

  1. Self-serving bias

Suka tidak suka, kemungkinan besar kita semua pernah jatuh ke dalam perangkap self-serving bias. Bias ini adalah ketika kamu cenderung menyalahkan faktor eksternal ketika gagal tetapi memuji diri sendiri ketika mengalami kesuksesan.

Misalnya, ketika kamu sedang bermain bola basket. Ketika kamu berhasil mencetak poin untuk tim kamu, kamu merasa bangga terhadap diri dan kemampuanmu. Namun ternyata, tim lawanmu yang memenangkan pertandingannya. Merasa kecewa, kamu menyalahkan kegagalanmu pada faktor lain, seperti anggota tim kamu, waktu yang terlalu singkat, atau bahkan sepatu yang kurang nyaman.

Self-serving bias memang bekerja untuk melindungi self-esteem (harga diri) kita. Tetapi, karena itu, kita jadi terhalang untuk memandang situasi secara objektif. Pada akhirnya, akan sulit bagi kita untuk belajar dari kesalahan kita dan berkembang untuk ke depannya.

Masih ada banyak lagi bias kognitif yang dapat memengaruhi kita berpikir maupun menginterpretasi informasi. Michael Brainard mengatakan bahwa kita memerlukan 2 hal, yaitu kerendahan hati dan sikap disiplin. 

Langkah pertama yang kamu bisa lakukan untuk menghindari pengaruh bias adalah mengakui bahwa kamu memilikinya. Kemudian, pahami apa saja bias-bias tersebut dan melawannya. Berusaha untuk menjadi lebih disiplin dalam menerima dan menggunakan informasi. Cari informasi dari berbagai sumber dan sudut pandang. Kemudian, informasi yang kamu sudah dapatkan sebaiknya dipandang secara kritis.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.ID 2019 - 2020