https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/11/chris-slupski-LeHpD4Jq_cU-unsplash-1280x853.jpg

Aksi telah menjadi hal yang familiar bagi kalangan pemuda, terutama mahasiswa. Sudah menjadi agenda wajib di seluruh kampus-kampus di Indonesia untuk menanamkan pengetahuan dan semangat ambil peran dalam turun aksi. Orasi dan narasi didengungkan, bahwa jalan aksi menjadi salah satu langkah kebaikan untuk memperbaiki kondisi bangsa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2015, 90% pemuda yakin bahwa kebijakan pemerintah adalah jalan paling efektif untuk mewujudkan perbaikan. Karena itu, sekitar 3 dari 4 pemuda percaya, kalau aksilah yang dapat mengubah kepentingan pemangku kebijakan tersebut menuju kemaslahatan.

Dalam penelitian yang sama, mereka mengutarakan alasan turun aksi, yakni  79% pemuda mengaku memilih turun aksi karena memiliki kepedulian terhadap isu yang sedang diangkat, 56% diantaranya memilih aksi karena dapat bertemu dengan teman seperjuangan dan sepemikiran, dan 46% memilih aksi karena beranggapan jalan ini akan membantu mereka dikemudian hari.

Selaras dengan penelitian tersebut, Pemimpin.id melakukan survei terhadap 50 Pemuda untuk mengetahui alasan mereka turun aksi, berikut adalah beberapa alasan responden mengikuti aksi:

  1.  90% responden merasa memiliki empati terhadap isu yang sedang diangkat (isu tersebut telah menjadi isu bersama)
  2. 63,5% responden merasa memiliki keluhan yang ingin diperjuangkan.
  3. 55,8% responden merasa bagian dari sebuah  kelompok yang sedang melakukan aksi (seperti BEM, Organisasi masyarakat, dan sebagainya)
  4. 53,8% responden merasa bahwa kebijakan dapat mengalami perubahan, salah satunya dengan aksi demonstrasi.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, hampir di seluruh belahan dunia terjadi aksi besar-besaran seperti RUU ekstradisi Hongkong, penolakan elite politik Chile, kenaikan harga bahan bakar di Ekuador, aksi penurunan Presiden Evo Morales, aksi protes di Timur Tengah, dan berbagai aksi terkait iklim di negara barat. Secara khusus di Indonesia, dalam dua tahun terakhir terjadi dua aksi besar, yaitu Reformasi dikorupsi pada tahun 2019 dan yang terbaru mosi tidak percaya terkait omnibus law, dan menariknya, dari semua aksi-aksi tersebut didominasi oleh generasi Z yang lahir di kisaran 1996 keatas.

Generasi Z di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 72,8 juta atau 27% dari penduduk Indonesia memungkinkan mereka memiliki kesempatan membuat massa aksi yang besar. Lahirnya mereka di zaman yang penuh dengan perkembangan teknologi internet dan kondisi pasca reformasi, membuat mereka lebih leluasa dalam berekspresi.

Lebih Terdidik

Generasi Z merupakan generasi yang sedang beranjak dewasa, mereka sudah mulai bisa mengikuti pemilu, mencari pekerjaan, mulai memahami kondisi politik dan ekonomi, serta isu sosial lainnya. Generasi ini juga generasi yang lebih terdidik dari generasi sebelumnya. Dalam perbandingan jumlah sarjana saja, generasi ini diisi 1 banding 2, berbeda dengan generasi baby boomers yang diisi 1 banding 4, generasi X 1 banding 4, dan generasi Y 1 banding 3. Sebagai generasi yang lebih terdidik secara formal, hal inilah yang membuat generasi ini lebih mudah dalam memahami sebuah isu.

 

Efek Media Sosial

Selanjutnya generasi Z memiliki keunggulan menikmati perkembangan teknologi internet dalam komunikasi dan informasi terutama media sosial. Generasi ini menjadi lebih mudah terhubung dalam perencanaan dan pelaksanaan massa aksi. Media sosial juga dapat menjadi wadah propaganda isu dalam berbagai bentuk. Penyebarannya pun dapat menjadi lebih luas,  ditambah dengan bumbu kreativitas, sehingga isu menjadi viral. Inilah yang membuat isu dapat tersebarkan dan akhirnya melahirkan mobilisasi massa yang lebih besar.

“Lahirnya mereka di zaman yang penuh dengan perkembangan teknologi internet dan kondisi pasca reformasi, membuat mereka lebih leluasa dalam berekspresi”

 

Sebagai seorang pemimpin muda, kamu bisa menjadikan aksi sebagai salah satu jalan perjuangan, dengan tetap memperjuangkan nilai-nilai kebermanfaatan. Manfaatkan media sosial dan bungkus aksimu dengan bentuk-bentuk yang menarik dan kreatif sehingga menjadi aksi yang elegan tanpa anarkis. Jangan sampai aksi demonstrasimu hanya menjadi ajang narsis dan eksis tanpa substansi yaa. Jadi, mari suarakan pendapatmu dan lantangkan! 

Redaksi Pemimpin.ID