InspirasiTips Stay Cool di Lingkungan “Bertoxic” ala Buku Filosofi Teras

Redaksi Pemimpin.IDDecember 5, 2019595
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/Anti-Toxic-1280x853.jpeg

Apa yang kamu rasakan ketika ada orang yang membuat kamu sakit hati dan kecewa? Apakah hal itu sangat memengaruhi tindakanmu setelahnya? Jika memang begitu, tampaknya kamu perlu berlatih untuk mengendalikan diri. Bagaimana caranya?

Ada sebuah buku menarik yang bisa jadi referensi untuk melatih diri agar memiliki mental yang tangguh.Buku itu berjudul Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring (2019).

Dari judulnya, mungkin kita mengira kalau buku ini sangat filosofis, membahas ilmu-ilmu filsafat yang abstrak, pelik, dan susah dipahami. Namun seperti peribahasa, jangan menilai buku hanya dari judul sampulnya. Penulis berhasil meracik pengetahuan filosofi dengan ringan, jenaka dan mudah dimengerti.

Buku setebal 344 halaman ini sangat tepat untuk melatih personal leadership kita. Mengapa demikian? Penulis mengadopsi tulisan – tulisan filsuf Stoa (penganut nilai Filosofi Teras) seperti Marcus Aurelius yang menulis buku berjudul Meditations, serta para filsuf Stoa lainnya untuk menyadari bahwa sejatinya manusia memiliki dua dikotomi kendali.

Kedua dikotomi tersebut adalah sesuatu yang berada di bawah kendali kita dan tidak berada di bawah kendali kita. Manusia perlu menyadari bahwa dirinya tidak punya kendali atas semua hal yang ada di dunia. Dengan begitu, mereka semestinya tidak punya alasan untuk larut dalam kekecewaan jika apa yang dikejarnya tak kunjung dia dapatkan.

Filosofi Teras juga mengajarkan pembacanya untuk belajar melepas segala hal yang tidak membawa perasaan positif dan konstruktif, serta kembali fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Itulah mengapa buku ini sangat penting untuk dibaca, setidaknya untuk belajar memimpin diri kita sendiri.

Filosofi Teras pun mengingatkan pada pembaca bahwa semua yang negatif datangnya dari luar diri manusia. Manusia perlu melihatnya secara objektif dan menggunakan nalarnya untuk merespons energi negatif dengan bijak. Artinya apa tuh?

Jadi begini pemimpin muda, apa yang ada di luar kita, termasuk energi negatif itu sendiri (seperti tindakan yang memicu timbulnya rasa marah, kecewa, sakit hati), itu semua berada di luar kendali kita. Suka-suka orang lah mau bikin kita kesal, marah atau kecewa, karena kuncinya ada di kita.

Kalau kita mau kecewa, marah atas tindakan mereka, berarti kita mengizinkan perasaan negatif itu menguasai diri kita. Padahal, kita punya keleluasaan yang lebih besar lho, untuk memilih perasaan yang lebih positif.

Marcus Aurelius/sumber : henrymanampiring.com

Nah, karena semua perasaan negatif itu berada di luar kendali kita, kita hanya bisa mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan. Apakah itu? Itu adalah persepsi, interpretasi atau pemaknaan terhadap energi negatif yang menghampiri diri kita tadi.

Ada banyak pilihan persepsi yang bisa kita ambil : apakah kita ingin kecewa dan marah atau kita memilih untuk menggunakan nalar kita, mencerna secara baik stimulus yang datang pada diri kita, dan memilih untuk bersikap tenang dalam merespons energi negatif itu. Kamu bakal pilih yang mana nih kira-kira?

Supaya enggak terlalu abstrak, kita cari contoh penerapan Filosofi Teras dalam kehidupan sehari-hari, yah!

Penulis, Henry Manampiring memberikan contoh ketika seorang pemuda ingin mengajak gebetannya untuk kencan pertama. Keduanya dirundung kecemasan yang sama. Mereka mencemaskan, pakaian seperti apa yang harus dipakai, penampilan seperti apa yang membuat mereka terlihat lebih memesona. Di sinilah Filosofi Teras juga tepat untuk diimplementasikan.

Ilustrasi

Si pemuda ini sebenarnya bisa memetakan, hal apa saja yang bisa mereka kendalikan, misal berpakaian rapih, sopan, ramah, dan datang tepat waktu. Sejauh apa yang sudah dilakukan oleh pemuda adalah yang terbaik yang bisa dilakukannya, di situlah sang pemuda sudah memainkan kendalinya. Tak ada lagi yang perlu dicemasakan.

“Relax and enjoy the result”, tulis Henry Manampiring dalam bukunya.

Lalu kalau pada akhirnya perasaan si gadis biasa saja, bagaimana? Filosofi Teras justru menyarankan agar kita bisa menerima itu, karena perasaan gadis bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan.

Saat kita mengurangi memusingkan hal-hal di luar kendali diri sendiri, seperti, “Duh, kelihatan ganteng atau gentong ya di mata dia? Kelihatan pintar gak ya? Bapaknya tadi impressed enggak ya sama saya? dan lain-lain, kita jadi lebih memiliki waktu dan energi untuk hal-hal lain yang bisa dilakukan dan justru meningkatkan daya tarik kita di mata seseorang.

Ilustrasi

Begitulah kira-kira Filosofi Teras memainkan perannya dalam kehidupan manusia zaman now.

Itu baru contoh dalam kehidupan asmara masa muda. Tentu, masih banyak contoh lain yang membuat kita dihadapkan pada banyak energi negatif, seperti di lingkungan kerja, organisasi atau komunitas bahkan sampai pergaulan di media sosial.

Jangan lari, hadapi itu dengan tenang dan gunakan nalar. Sadari bahwa ada hal yang bisa kamu kendalikan dan tidak bisa kamu kendalikan. Dengan menyadari itu, kamu bisa fokus pada apa yang ingin kamu capai. Selamat belajar, Pemimpin Muda!

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020