JurnalTingkatkan Kreativitas Tim Kamu!

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/08/margarida-csilva-cQCqoTjr0B4-unsplash-1280x853.jpg

Perkembangan lingkungan kerja yang menjadi semakin dinamis menuntut ide-ide dan solusi yang baru dan kreatif dari individu yang bekerja di dalamnya. Kreativitas merupakan karakteristik individu yang semakin dibutuhkan dan diinginkan oleh perusahaan di abad ke-21. Karakteristik tersebut tidak hanya dibutuhkan dalam bidang kerja kreatif atau artistik, melainkan juga perusahaan lain yang ingin menghasilkan produk atau jasa yang berbeda dan dapat menarik perhatian konsumen. Walaupun dengan adanya ketertarikan tinggi terhadap kreativitas, terkadang perusahaan masih belum memfasilitasi kesempatan bagi anggota tim untuk memaksimalkan potensi kreatifnya.

Bahkan, sikap kita terhadap kreativitas di pekerjaan dapat dipengaruhi oleh bias-bias yang tidak kita sadari. Catt (2011) dari Cornell University menyebutkan adanya anti-creativity bias. Ide-ide kreatif merupakan gagasan baru dan tidak konvensional, sehingga secara tidak sadar dapat memicu perasaan ketidakpastian yang mampu membuat individu kurang nyaman. Oleh karena itu, individu dalam perusahaan atau organisasi dapat menolak ide-ide tersebut. 

Selain masalah dalam penerimaan ide kreatif, ada juga kendala dalam hal penyampaiannya. Menurut Goncalo dan Katz (2019), kreativitas tidak hanya melibatkan penghasilan ide-ide baru, namun juga keberanian untuk mengekspresikan ide-ide tersebut kepada anggota tim lain. Mengapa? Karena ide-ide kreatif yang dihasilkan seseorang tidak akan lepas dengan preferensi, pengalaman, dan bahkan kepribadian mereka. Oleh karena itu, proses kreatif terkadang terasa sebagai proses self-disclosure (mengungkapkan informasi mengenai diri sendiri). “When people are being creative, they’re not just solving problems. They’re actually revealing something deeply personal,” kata Goncalo.

Jika mengamati masalah ini, maka salah satu solusi yang tepat dalam memfasilitasi kreativitas di pekerjaan adalah membangun lingkungan yang mengedepankan psychological safety (keamanan psikologis). Penelitian dari Taha et al. (2016) there is strong positive relationship between employees’ willingness to produce new ideas and atmosphere of psychological safety. Psychological safety dapat membuat individu merasa nyaman untuk berpendapat dan berdebat tanpa rasa takut untuk membuat kesalahan.

Merujuk pada metafora “kreativitas seperti karaoke” oleh David dan Tom Kelley, individu membutuhkan psychological safety supaya mereka merasa aman dan termotivasi untuk mengutarakan ide-ide kreatifnya. Selain itu, organisasi juga sebaiknya mendorong fleksibilitas dalam bekerja dan menciptakan proses yang memberikan anggota kebebasan untuk menjadi kreatif.

Kemudian, ketika individu merasa aman secara psikologis, faktor self-disclosure dalam kreativitas pun bisa dimanfaatkan secara positif, yaitu memperkuat hubungan antara anggota tim. Aktivitas kreatif bersama, seperti brainstorming kelompok, dapat mendorong para anggota untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Tetapi, untuk memastikan bahwa ide-ide yang dihasilkan oleh anggota tim benar-benar tertampung dan dipertimbangkan bagi organisasi, anti-creativity bias yang tadi disebutkan wajib diatasi juga. Menurut Harvard Business Review, “apabila kreativitas dalam kelompok terhambat, langkah pertama bagi seorang pemimpin adalah untuk memeriksa apakah terdapat faktor-faktor yang bisa menghambat mereka dalam berpikir”. Cara utama untuk mengatasi bias adalah untuk mengidentifikasinya dan menantangnya.

Setelah membahas ini, sekarang kita tahu bahwa manfaat dari inovasi dan ide-ide kreatif tidak akan terlihat apabila ide-ide tersebut tidak disampaikan. Maka, cara kita menyikapi kreativitas dalam organisasi atau perusahaan memiliki peran yang sama besarnya dengan kreativitas itu sendiri. Catt (2019) mengatakannya terbaik: “The field of creativity may need to shift its current focus from identifying how to generate more creative ideas to identify how to help innovative institutions recognize and accept creativity”.

 

Referensi

Buchanan, L. (2013, October). Why creativity is like karaoke. Inc. https://www.inc.com/magazine/201310/leigh-buchanan/why-creativity-is-like-karaoke.html

Cornell University. (2011, September 5). Why we crave creativity but reject creative ideas. ScienceDaily. Retrieved August 8, 2020 from www.sciencedaily.com/releases/2011/09/110903142411.htm 

Goncalo, J. A., & Katz, J. H. (2020). Your soul spills out: The creative act feels self-disclosing. Personality and Social Psychology Bulletin, 46(5), 679-692. https://doi.org/10.1177/0146167219873480

Shambaugh, R. (2019, January 31). How to unlock yout team’s creativity. Harvard Business Review. https://hbr.org/2019/01/how-to-unlock-your-teams-creativity

University of Illinois at Urbana-Champaign, News Bureau. (2019, September 4). As an act of self-disclosure, workplace creativity can be risky business. ScienceDaily. Retrieved August 7, 2020 from www.sciencedaily.com/releases/2019/09/190904113210.htm

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020