Ensiklopedia PemimpinHeadlineTiga Cara Mengenali Diri Sendiri (Self Awareness)

Redaksi Pemimpin.IDApril 2, 202197
pexels-michaela-295826

Oleh : Shania Aulia (Volunteer Research Team Pemimpin.id)

 

Sebagian besar dari kita percaya bahwa untuk menjadi seorang pemimpin hal utama yang kita harus pahami adalah diri kita sendiri. Begitu juga menurut Pemimpin.id. Namun, apakah yakin cara yang selama ini kita gunakan untuk mengenali diri sudah benar? Atau justru kita memaksa diri untuk meyakini hanya karena kita ingin diakui sebagai orang yang demikian? Tasha Eurich mencoba menjelaskan lebih dalam mengenai konsep pemahaman diri tersebut.

Apa Itu Self Awareness?
Terdapat dua tipe self awareness

Menurut Eurich, konsep self awareness bukan hanya mengenai kesadaran diri seseorang mengenai dirinya sendiri, tapi juga bagaimana kesadaran orang lain mengenai diri seseorang. Maka, dibutuhkan adanya kombinasi dari pemahaman internal dan eksternal.

Kesadaran diri internal dikaitkan dengan posisi yang lebih tinggi , kepuasan hubungan, kontrol pribadi dan sosial, dan kebahagiaan. Dengan kata lain, kesadaran diri ini dapat dilihat dengan mengenali apa dan bagaimana value, passion, kecocokan dengan lingkungan, reaksi kita terhadap segala sesuatu, dan dampak yang ingin kita berikan kepada orang lain. Sementara itu, kesadaran diri eksternal berarti memahami bagaimana orang lain memandang kita dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang sama yang disebutkan sebelumnya.

Penelitian Eurich menunjukkan bahwa orang yang tahu bagaimana orang lain melihatnya lebih terampil dalam menunjukkan empati dan mengambil sudut pandang orang lain. Penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui bagaimana pandangan anggotanya terhadap diri mereka agar hubungan dapat terjalin lebih baik.

Jika digambarkan dalam sebuah matriks akan terlihat seperti berikut:

Sumber: Harvard Business Review

 

Pengalaman dan Kekuasaan Menghambat Kesadaran Diri

Tingginya jabatan seseorang dan banyaknya pengalaman yang dimiliki tidak menjamin seseorang sadar akan dirinya. Menurut Eurich, “Meskipun kebanyakan orang percaya bahwa mereka sadar diri, hanya 10-15% orang responden yang benar-benar memenuhi kriteria.”

Hal tersebut terjadi karena dua hal:

  1. Kebanyakan pemimpin senior memiliki lebih sedikit orang di atasnya yang dapat memberikan feedback yang jujur. Maka, tidak banyak masukan yang bisa diterima dan dijadikan bahan evaluasi.
  2. Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin, semakin tidak nyaman orang-orang untuk memberi mereka feedback yang konstruktif.

Padahal, kesuksesan seorang pemimpin dalam memimpin dilihat dari bagaimana tingkat efektivitasnya. Hal tersebut didapatkan melalui feedback yang kritis baik dari atasan, rekan kerja, karyawan, dewan direksi, dan stakeholder lainnya. Dengan begitu, mereka akan menjadi lebih sadar diri dalam melakukan setiap tindakan dan hal tersebut dianggap lebih efektif oleh orang lain.

 

Introspeksi Tidak Selalu Meningkatkan Kesadaran Diri

Kebanyakan orang melakukan introspeksi diri dengan alasan untuk mengetahui kesadaran akan diri mereka, tetapi penelitian Eurich menyatakan sebaliknya. Bukan karena introspeksi itu kurang efektif untuk mengenali diri, tetapi kebanyakan orang tidak melakukannya dengan benar. Kita lebih sering menggunakan kata “Mengapa” untuk menemukan sebuah solusi.

Padahal, kita cenderung sulit mengakses pikiran bawah sadar, perasaan, dan motif yang sedang kita cari dengan bertanya “Mengapa”. Maka dari itu, banyak yang terjebak dan mengira sudah menemukan jawaban yang terasa benar, tetapi seringkali salah. Maka, sebagai seorang pemimpin, disarankan lebih baik menggunakan kata “Apa” daripada “Mengapa” dalam mempertanyakan sesuatu agar jawaban yang diterima lebih jelas dan tidak cenderung menghakimi.

Dalam penelitiannya, Eurich memberikan contoh kasus dari Paul, seorang pebisnis. Dalam kasus tersebut, diketahui Paul mengetahui bahwa usahanya sudah tidak menguntungkan lagi. Pada awalnya ia menanyakan “Mengapa saya tidak bisa membalikkan keadaan?” Namun, dia segera menyadari bahwa dia tidak punya waktu atau energi untuk menyalahkan dirinya sendiri. Dia harus memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian dia mulai bertanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk bergerak maju dengan cara yang meminimalkan dampak terhadap pelanggan dan karyawan?” Akhirnya, dia segera membuat rencana dan mampu menemukan cara kreatif untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin untuk orang lain sambil mempertahankan bisnisnya. Dari cerita tersebut, disimpulkan bahwa kata “Apa” dianggap lebih baik dan membangun daripada kata “Mengapa”.

 

Referensi 

Eurich, T. (2018, January 4). What self-awareness really is (and how to cultivate it). Harvard Business Review. https://hbr.org/2018/01/what-self-awareness-really-is-and-how-to-cultivate-it#

 

Photo by: Michaela

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.