Leaders StoryThink Outside the Box: Gimana Caranya?

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/08/diana-parkhouse-H8sqvuLE2CQ-unsplash-1280x853.jpg

Think outside the box!

Kemungkinan besar kamu pernah mendengar kata-kata ini. Barangkali ada seorang pengajar atau supervisor yang mengatakannya kepada kamu, atau bisa saja kamu mendengar dari sebuah film atau membaca dari sebuah buku. Meskipun demikian, hal tersebut menjelaskan kalau kata-kata “think outside the box” kerap kita temukan sehari-hari dan dijunjung tinggi oleh banyak orang.

Namun, pertanyaannya adalah: Apakah kamu sudah menerapkan praktik “think outside the box” dengan benar?

Jika jawaban kamu belum, sayangnya kamu tidak sendirian, loh. Ternyata, implementasi praktik ini juga masih jarang terlihat di dunia kerja. Isunya adalah masih banyak individu yang belum memahami apa itu box yang mendikte cara mereka bekerja, sehingga mereka juga tidak mengetahui cara berpikir di luarnya.

Faktor lain adalah banyaknya peraturan dan prosedur di organisasi yang lama-lama bisa berkembang menjadi rutinitas anggota dalam menjalankan pekerjaannya. Menurut Francesca Gino, profesor Harvard Business School, kita berpotensi untuk terjebak dalam rutinitas yang nyaman, yaitu cara berpikir dan bertindak yang seragam dan konsisten, sebab situasi tersebut membuat kita merasa aman. Sebaliknya, penyimpangan dari kebiasaan memiliki potensi kerugian yang besar. 

“Standar bekerja dalam organisasi dapat memainkan peran penting dalam membentuk kinerja dari waktu ke waktu. Namun, mereka juga dapat membuat pikiran kita terjebak, mengurangi keterlibatan dalam bekerja, dan membatasi kemampuan kita untuk berinovasi atau menampilkan performa pada tingkat tinggi,” kata Gino.

Praktik “think outside the box” sebaiknya dibiasakan, baik dalam budaya organisasi maupun oleh masing-masing individu, karena menerapkannya berarti kamu bersedia untuk mempertimbangkan berbagai solusi dan metode untuk mencapai hasil yang diinginkan. Gino sendiri menggunakan istilah “constructive nonconformity” untuk menjelaskan praktik tersebut. 

Istilah “constructive nonconformity” menandakan bahwa “thinking outside the box” merupakan praktik yang melawan konformitas. Dalam kata lain, individu menghadapi masalah dengan cara yang tidak konvensional, melainkan mereka berpikir secara kreatif dan menantang ide-ide dan praktik yang tradisional atau rutin.

Tetapi, ada satu hal lagi yang perlu diingat. Karena dalam praktiknya melibatkan melawan konformitas, maka dalam “thinking outside the box” kita memerlukan sebuah boks. Michael Bahr merupakan seorang pengajar, dan ia mengatakan bahwa muridnya membutuhkan struktur supaya mereka bisa keluar dari struktur tersebut.

Benar tidak? Misalnya, ketika kamu ingin berhasil dalam suatu bidang, misalnya membuat startup yang inovatif dan berbeda dari perusahaan lain, kamu harus mengetahui, memahami, dan menerima boks kamu terlebih dahulu. Kamu harus memahami tentang cara membuat startup dan bagaimana sebuah perusahaan biasanya dijalankan. 

Pengetahuan terhadap bidang kamu serta ide-ide konvensional dalam bidang tersebut harus kamu kenali, karena kalau tidak, bagaimana kamu mengetahui bahwa ide kamu unik?

Jadi sebenarnya, apakah struktur dan standar itu baik, atau buruk? Kemungkinan jawaban yang paling benar adalah cara kamu memandang struktur tersebut. Jika kamu mampu memanfaatkan struktur tersebut sebagai sarana belajar, maka kamu memiliki potensi untuk menggunakan hal yang kamu pelajari tersebut untuk berpikir kreatif.

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020