Acara PemimpinThe Untold Story of Motherhood

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/02/ytb-terajar4100-1280x720.jpg

Menurut beberapa orang, karakteristik ibu yang ideal adalah ibu yang bisa melahirkan secara normal dan memberi ASI penuh selama 2 tahun. Namun, ada juga yang menyampaikan ibu yang ideal adalah yang bisa melakukan pekerjaan rumah dan tetap produktif bekerja. Lantas, bagaimana ibu yang ideal menurutmu?

Berangkat dari pertanyaan tersebut Teras Belajar kembali hadir dengan membawakan topik The Untold Story of Motherhood. Bisa dibilang diskusi kali ini cukup banyak menjadi pengingat bagi kita di masa lalu tentang perjuangan seorang ibu yang selalu mendukung kita hingga saat ini. Tak heran jika narasumber menyeka air mata mereka sambil menyampaikan materi karena mengingat perjuangan seorang ibu yang begitu luar biasanya hingga tak ternilai.

Menurut Mbak Chichi (Group Head IT Business Partner at Paragon Tech and Innovation), hal yang paling diingat dari ibunya adalah selalu menekankan untuk belajar dan banyak memberikan larangan. Namun, justru itu yang menjadi hal paling dirindukan. Mbak Chichi sadar jika dulu ibunya tidak melarang banyak hal mungkin dia tidak akan menjadi pribadi yang sekarang karena keluar dari batasan. Beliau juga menyampaikan bahwa ibu adalah orang yang berdoa paling rajin dan berhati lapang. 

Selanjutnya, Mbak Tita (Founder of Ganara Art Mari Berbagi Seni), bercerita bahwa the best feeling being mom menurutnya adalah ketika dia bisa merasakan mencintai seseorang tanpa syarat. Dia juga menambahkan bahwa tidak ada ibu yang ideal karena pasti setiap ibu akan dihadapkan dengan banyak tantangannya masing-masing. Namun, itu tidak masalah, sebab yang terpenting adalah ketika seorang ibu bisa menghadapi tantangan itu, tetap mengasihi, dan mengayomi anaknya dengan baik. Mbak Tita berharap kepada peserta untuk berhenti mengotak-kotakkan stigma ibu yang ideal karena setiap keputusan ibu, baik bekerja atau di rumah, pasti memiliki alasannya sendiri.

Terakhir, bagi Mbak Maghleb (Operation team at Maxima), merasa dibutuhkan oleh anak adalah the best feeling being mom menurutnya. Selain itu, menjadi ibu adalah alasan utama Mbak Maghleb berkembang menuju pribadi yang lebih baik. Dalam perjalanannya selama menjadi ibu, Mbak Maghleb pernah mengalami kegalauan yang panjang karena merasa kehilangan identitas dirinya yang dulunya serba sibuk dengan kegiatan kampus. Itu sangat kontras bila dibandingkan dengan kegiatannya yang sekarang hanya di rumah dan mengurus pekerjaan domestik. Namun, saat ini keadaannya sudah membaik dan dia sudah mulai menerima kondisi ini, berkat saran yang diberikan oleh psikolognya.

Pada saat sesi tanya jawab, terdapat peserta yang bertanya mengenai pertimbangan apa yang menguatkan ketiga narasumber untuk memutuskan pilihan yang saat ini mereka jalani. 

Mbak Maghleb menyampaikan bahwa kita harus menemukan core identity yang solid agar ketika perjalanan hidup memaksa kita  melepas semua atribut kita, kita masih bisa memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Caranya ialah dengan pertama, melakukan journaling dan self talk dan kedua dengan melakukan self care secara rutin.

Mbak Tita menyarankan untuk menemukan kebahagiaan versi diri sendiri dengan cara mendengarkan suara hati. Yang terakhir, Mbak Chichi menyarankan untuk menemukan the strong why dalam diri agar menjadi penguat ketika sedang burnout. Kesimpulannya, tidak ada definisi ibu yang ideal menurut ketiga narasumber. Setiap ibu akan dihadapkan dengan tantangannya masing-masing. Ingat saja, yang terpenting adalah ketika seorang ibu bisa menyelesaikan tantangan tersebut dengan baik, memberikan kasih sayang secara utuh, dan bisa mengayomi keluarganya dengan baik. Mari berhenti mengotak-kotakkan sosok ibu ke dalam dikotomi ideal dan tak ideal.

Avatar

Redaksi Pemimpin.ID