InspirasiTeka-Teki Hidup yang Harus Kamu Pecahkan Sendiri

adminAugust 10, 201941
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/08/kolaborasi-1280x853.jpg

Kalau sudah menonton film The Imitation Game, pasti tidak asing lagi dengan enigma. Dalam film tersebut Benedict Cumberbacth (yang dikenal dengan Sherlock Holmes) berperan sebagai Alan Turing. Ilmuwan Inggris penemu mesin yang mampu memecahkan kode enigma semasa perang Inggris dengan Jerman.

Dalam KBBI sendiri, enigma diartikan dengan teka-teki, tidak jelas, misterius. Lalu apa yang dimaksud dengan enigma hidup?

PemimpinId menginisiasi sharing session yang bertajuk Enigma dengan mengundang para pemimpin lintas sektor untuk menceritakan kisah hidup, terutama hal-hal yang berkaitan persimpangan dan kebingungan dalam hidup.

Fajrin Rasyid, Co-founder Bukalapak adalah orang pertama yang diundang dalam pertemuan bulanan ini. Namanya pasti tidak asing lagi. Kisah sukses dirinya dan Bukalapak bisa dicari sendiri di internet. Di tulisan ini, saya memilih untuk berbagi perspektif atas insight yang saya terima dari Fajrin Rasyid dan jawaban-jawabannya.

Fajrin menyusun alur diskusi dengan 4 poin yang diawali dengan ‘pertanyaan teka-teki’. Pertanyaan yang hanya diri sendirilah yang bisa menemukan jawaban terbaiknya.

Dikaitkan dengan Bukalapak dan entrepreneurship, berikut 4 poin tersebut.

1. Idea : Kapan Kita Harus Menyerah?

Sebagai founder, inisiator, atau siapa pun dalam hal apa pun yang memperjuangkan sebuah ide, dibalik rasa semangat untuk berjuang, pasti ada melintas keinginan untuk menyerah. Entah apa alasannya. Lelah, tidak dihargai, berpotensi bangkrut, atau apalah.

Jawaban dari pertanyaan kapan menyerah seringkali bukan rocket science. All is depend.

Tapi ‘kelihatan’ menyerah belum tentu benar-benar menyerah, tapi mencari jalan lain yang potensial. Gojek misalkan. Berdiri tahun 2009 tapi pada saat itu banyak dari para foundernya berpikir it’s time for quit. Pada tahun 2014, para pendahulu dan founder yang ‘baru’ berpikir it’s time for comeback. Dan lihatlah hasilnya sekarang.

Resilience atau daya juang memang sulit dijelaskan. Lalu, kapan harus ‘menyerah’? Ya masing-masing dari kitalah yang menjawabnya.

2. Team : Bagaimana memperlakukan tim yang sangat berjasa, tapi belakangan kurang perform?

Saat memperjuangkan mimpi, kita sebenarnya tidak sendiri. Terutama dalam mimpi bersama yang dibarengi oleh tim. Mereka ada dan berjasa. Tapi nyatanya, semangat dan performa mereka tidak akan selalu sama. Jika semakin hari kita semakin bertumbuh, bagaimana dengan orang lain yang bersama serta berjasa dan tapi malah low perform?

Diberhentikan daripada membebani mungkin jadi alternatif jawaban. Tapi Fajrin memberikan jawaban teknis atas pengalaman dan pengamatannya.

Seseorang akan terus bertumbuh hingga pada satu titik dia kurang kompeten di titik itu. Maka solusinya adalah carikan role yang sesuai untuk dia atau carikan senior yang mendampinginya.

Dengan begitu, tidak perlu ada yang harus disingkirkan dan tetap menghargai jasa mereka sembari mengajaknya untuk tetap bertumbuh.

3. Capital : Kapan siap ‘menikah’ dengan investor?

Investor pada dasarnya bukanlah pemilik ide. Mereka adalah ‘orang asing’ yang mendatangi atau didatangi karena para founder sudah saatnya butuh dengan mereka.

‘Menikah’ dengan investor bukan hanya menerima uang lalu selesai. Bagaimana pun, investor akan memberikan peran dalam perkembangan ide tersebut. Baik dalam hal mendukung atau malah menghambat mimpi founder. Investor ada untuk turut campur tangan.

Dalam konteks kehidupan, begitu pula menikah. Tidak selamanya kita hanya menerima yang disenangi saja. Kekurangan dan segala konsekuensi harus diterima untuk mengarungi kehidupan bersama keluarga.

Pertanyaan atas kapan siap, ya kembali lagi. Setiap dari kitalah yang tahu jawabannya.

4. Execution : Bagaimana menghadapi kompetitor?

Berlarilah sesuai track masing-masing, bukan track orang lain.

Setiap orang pasti punya track-nya masing-masing. Track yang disertai dengan resource, plan, challenge yang masing-masing dari tiap orang berbeda. Maka jalani saja. Nikmati saja. Karena ada pada satu titik, kita tidak perlu memikirkan orang lain.

Tapi akan ada satu titik yang mana kompetitor bisa mempengaruhi track kehidupan kita. Maka pada saat itulah pertimbangan untuk kolaborasi dan atau kompetisi layak dipertimbangkan.

Seperti halnya maraton. Tidak selamanya kita mencari juara dengan cara tercepat kan? Nikmati saja. Hingga mendekati titik finish, akan terlihat orang yang semakin sedikt. Keputusan mau tetap jalan maraton, sprint, minum, atau pilihan lainnya, ya kita sendirilah yang menentukan.

Dalam berbagai episode kehidupan, kita pasti akan menghadapi banyak pertimbangan. Nyatanya kita tidak akan tahu keputusan itu baik atau benar pada saat itu. Yang kita tahu adalah apa yang dilakukan selanjutnya. Apa yang sudah terjadi, let it flow. Apa yang akan terjadi selanjutnya, go on.

Rezky Firmansyah
@rezky_passionwriter
Initiator @BukuUntukIbu

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019