InspirasiTaklukan Benteng Penghalang agar Produktif Hadapi Pandemik Covid-19

Isna Nur InsaniJune 9, 2020376
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/06/covid-19-al-fatih-konstantinopel-tips-kepemimpinan-1280x854.jpg

Sejak kehadiran virus korona baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit menular Covid-19 di Indonesia Maret lalu, banyak aktivitas masyarakat Indonesia yang tertunda, terhambat, bahkan menjadi batal. Kehadiran virus tersebut seolah mampu membekukan berbagai keinginan, melonggarkan segenap target capaian dan mengambil langkah ulang untuk meraihnya.

Himbauan untuk melaksanakan segenap kegiatan mulai dari bekerja, berolahraga, belajar, dan yang lainnya dari rumah seakan menciptakan efek bias, bahwasanya kegiatan menjadi terbatas dan tak banyak yang bisa dilakukan di rumah. Sebagian ada yang menghabiskan waktu untuk rebahan dan bermalasan, ada yang tetap bekerja, dan lainnya mengisi waktu dengan ikut serta dalam kelas-kelas online. Dalam menghadapi efek Covid-19 kita memerlukan sikap yang bijak dalam berbagai aspek. Tak hanya bijak menjaga diri dari ancaman virus, namun juga perlu strategi memanfaatkan waktu. Banyaknya kelas online yang menawarkan berbagai tema pembelajaran, jika tidak dibarengi dengan sikap yang bijak pun hanya akan menjadi penundaan dari produktivitas kita.

Penundaan ini begitu melenakan seolah kita sedang produktif mengerjakan sesuatu. Padahal, sebenarnya bisa jadi kita hanya melakukan apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan atau berbeda dari yang seharusnya kita tunaikan. Kita seolah memaklumkan dan menunda banyak hal yang seharusnya kita selesaikan atau seharusnya sudah selesai. Namun, lagi-lagi kebanyakan dari kita menyalahkan keadaan pandemik Covid-19, dan menjadikan hal ini seolah benteng yang menghalangi pencapaian target-target.

Berbicara tentang benteng, sosok pemimpin dalam sejarah, Muhammad Al Fatih yang lahir pada tahun 1432 mampu menakhlukkan benteng terkuat pada masa itu, yakni benteng konstatinopel. Konstantinopel yang di kelilingi oleh benteng tiga lapis yang membentang sepanjang kota, diapit oleh lautan, dan terdapat benteng dengan tinggi 18 meter.

Dikutip dari Buku Muhammad Al-Fatih 1453 yang ditulis Felix Y. Siauw, singkat cerita, Al Fatih kecil dikirim oleh ayahandanya, Sultan Murad II berguru ilmu agama kepada Syaikh Aaq Syamsuddin. Syaikh Syamsuddin inilah yang mulai memperkenalkan Benteng Konstantinopel kepada Muhammad Al Fatih. Sejak kecil ia sudah bertekad untuk menjadi bagian dari sejarah kaum muslim yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam hadist, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang berada di  bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” Ia ingin menjadi pemimpin yang dijanjikan oleh Rasulullah tersebut dan terus menerus memantaskan diri.

Muhammad Al Fatih menyadari, apabila pasukan yang nantinya akan dipimpinnya adalah sebaik-baik pasukan, sebagai pemimpin ia harus terus berupaya keras. Pada usia 8 tahun, dia sudah hafal Al Quran, ia tidak pernah meninggalkan shalat sunnah Rawatib, shalat Tahajud juga tak pernah ia tinggalkan. Ia ahli strategi perang, mahir berkuda, dan menguasai 7 bahasa: Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Parsi, dan Ibrani.

Saat penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453, ia berangkat bersama 70 kapal dan 20 galley untuk menerobos Selat Golden Horn. Namun, ia dan pasukannya gagal. Kapal-kapalnya tak bisa masuk Selat Golden Horn karena terhalang rantai besar yang membentang lautan. Akhirnya ia memutar strategi dan mengarahkan pasukanya untuk melewati Perbukitan Galata. Apa yang tampak tidak mungkin berhasil dilakukan, ia dan pasukannya membawa serta kapal-kapal mereka sehingga seolah berlayar mengarungi Perbukitan Galata dalam satu malam. Peperangan terus dilakukan hingga akhirnya kaum muslimin meraih kemenangan dan menaklukan Konstantinopel.

Apabila pada saat itu Muhammad Al Fatih berjuang menjadi sebaik-baik pemimpin yang menaklukan Benteng Konstantinopel, saat ini sesungguhnya kita pun sedang berjuang menjadi sebaik-baiknya pemimpin untuk diri kita sendiri. Khususnya dalam mempertahankan komitmen atas hal-hal yang seharusnya kita capai dan wujudkan namun terhalang oleh benteng berupa Covid-19.

Untuk melewati benteng tersebut tentu tidaklah mudah, diperlukan banyak upaya dan kerja keras. Bukan dengan terus-menerus rebahan dan bermalas-malasan. Fakta tersulit dari benteng yang ada di depan mata kita saat ini, adalah virus Covid-19 ini tak terlihat, dan apa yang berada di belakang benteng masih penuh teka-teki, pun belum dapat diukur kapan akan berakhir.

Tidak lalai dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya adalah solusi yang bisa kita lakukan saat ini. Dalam buku Self Driving karangan Rhenald Kasali, terdapat konsep Driver-Passenger yang menggambarkan posisi kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Konsep tersebut berkaitan dengan pembelajaran kepemimpinan dalam sejarah Islam tentang sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang pernah dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

Ketika kita menjadi Driver berarti kita menjadi pemimpin, mengetahui arah, jalan yang ditempuh, strategi untuk menempuhnya dan siap menghadapi segala resiko. Lalu, saat posisi kita adalah Passenger artinya kita menjadi penumpang yang ikut serta bersama Driver, menjadi sosok yang dipimpin oleh pemimpin. Dalam menghadapi Covid-19, ada kalanya kita berperan sebagai passenger.  Dan inilah saatnya menjadi sebaik-baik passenger yang mampu menjalankan dengan baik tugas-tugas dari para pemimpin kita.

Namun untuk diri kita sendiri sudah sepantasnya kita tetap berupaya menjadi seorang Driver, bahkan sebaik-baik Driver dengan tetap berupaya dan tidak menyerah terhadap keadaan. Sebagai contoh, untuk siapapun yang bekerja dari rumah tetaplah berupaya produktif dan tetap mempelajari berbagai peluang yang ada. Bagi yang belum bekerja, saatnya menata jadwal dan memikirkan strategi mencari peluang dan meningkatkan kompetensi diri. Bagi siapapun yang sedang mengerjakan tugas akhir kuliah, tetaplah konsisten mengerjakan, tak perlu menunggu hingga Covid-19 usai dan situasi kembali normal. Bagi siapapun yang merasa hari-hari cepat berlalu tanpa ada produktivitas yang dihasilkan, sibukkanlah diri dengan terus menggali potensi diri, belajar, membuka kembali lembar mimpi, dan menulis list target baru dan tetap berkomitmen mengupayakannya.

Benteng penghalang atau musuh utama yang perlu kita taklukan bukanlah Covid-19. Melainkan ia yang bisa jadi paling dekat dengan kita, yakni diri sendiri dan kemalasan yang membelenggu. Dan itulah yang sejatinya yang harus kita taklukan.

Isna Nur Insani

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020