JurnalSudah Seberapa Efektifkah Gayamu Memimpin?

Dharmaji SuradikaMarch 10, 2020736
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/03/austin-distel-jpHw8ndwJ_Q-unsplash-1280x853.jpg

Ada hal yang kerap luput dari perhatian banyak orang untuk memimpin secara efektif, salah satunya memiliki leader position. Mengapa memiliki leader position yang tepat sangat penting bagi pemimpin? 

Banyak literatur  yang membahas bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik. Namun, tidak banyak yang membahas bagaimana agar kepemimpinan itu efektif. Padahal, menjadi seorang pemimpin tidak cukup hanya tepat, tetapi juga harus efektif agar energi yang digunakan bisa lebih sedikit dan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna oleh timnya. Berikut tips – tipsnya :

Pertama, leader position yang tepat dapat meningkatkan moral dan kepercayaan tim.

“When the people feel safe and protected by the leadership in the organization the natural reaction is to trust and cooperate.” – Simon Sinek-

Kedua, leader position yang tepat dapat mempercepat pengambilan keputusan. Dalam banyak kejadian, pengambilan keputusan menjadi lama karena kurangnya kepercayaan tim kepada pemimpinnya. Ketika tim sudah percaya, mereka akan mengikuti apapun yang dikatakan dan diputuskan oleh pemimpinnya.

“We call them leaders because they take the risk before anybody else does. We call them leaders because they will choose to sacrifice so that their people may be safe and protected and so their people may gain. And when we do the natural response is that our people will sacrifice for us. They will give us their blood and sweat and tears to see that the leader’s vision comes to life. And when we ask them why would you do that? They all say the same thing, because they would have done it for me.”

Leader position sangat penting untuk kita baik ketika kita sedang memimpin tim, memimpin rapat, melakukan 1 on 1 meeting dengan anggota tim atau saat kita sedang ingin memutuskan hal terbaik dalam hidup kita. Jadi, apa nih yang harus dilakukan pemimpin agar memiliki leader position yang tepat? Leader position yang tepat dibagi menjadi tiga keadaan: sebelum memimpin, saat memimpin, dan setelah memimpin.

Sebelum Memimpin



Mempersiapkan posisi kita sebelum memimpin merupakan langkah terpenting karena langkah kita kedepannya sangat ditentukan pada fase ini. Berikut yang perlu kita persiapkan sebelum memimpin. 

  1. Dimulai dengan mengapa? (start with why)

    Pertanyaan mengapa selalu dijawab dengan nilai atau value. Oleh karena itu, memulai segala sesuatu dengan mengapa dapat memberikan dasar yang kuat pada segala keputusan yang akan kita ambil.

“All the great and inspiring leaders and organizations in the world – whether it’s Apple or Marthin Luther King. They all think, act and communicate the exact same way. And it’s the complete opposite to everyone else. The inspired leader, the inspired organization regardless of their size, regardless of their industry all think and communicate from Why, and then How and then What. Why is about what is your purpose, what is your cause, what is your belief, why does your organization exist?”
Simon Sinek –

  1. Punya arah yang jelas (north star)

    Apakah teman-teman ingat tentang tokoh fiktif terkenal Jack Sparrow? Dia adalah tokoh yang terkenal buruk perangainya, suka mabuk dan sedikit gila. Lalu mengapa dia memiliki begitu banyak follower? Alasannya adalah karena dia memiliki kompas yang selalu menunjuk ke arah yang tepat. Sehingga apapun yang dikatakannya followernya pun menyetujuinya.

    Begitu pun dengan seorang pemimpin organisasi, perusahaan atau negara. Timnya akan mengikutinya jika dia memiliki arah yang jelas dan dia konsisten untuk mengarah ke arah yang dituju tanpa berganti ganti arah.

Saat Memimpin



Setelah kita memiliki dasar yang kuat dari fase sebelumnya saatnya kita memimpin, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. 100% sadar!

    Hal ini tampaknya mudah dilakukan tapi begitu banyak orang yang memiliki posisi pemimpin yang belum benar-benar sadar bahwa dia pemimpin. Dia tidak bisa membedakan kapan saat dia harus menjadi dirinya dan kapan dia berperan sebagai seorang pemimpin. Ada empat fungsi pemimpin yang harus kita ingat:

  • Pengambil keputusan (decision maker)
    Seorang pemimpin adalah seseorang yang diharapkan tim nya untuk memecahkan masalah ketika mereka membutuhkannya. Oleh karena itu seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas yang akan sangat dibutuhkannya saat dia harus mengambil keputusan.

“A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way”
– John C. Maxwell-

  • Pengajar (mentor)
    Seorang pemimpin adalah seorang pendidik. Dia adalah tempat bertanya bagi timnya, tempat di mana timnya berkeluh kesah. Mentoring adalah metode pengajaran dengan mengajarkan sesuatu baik berdasarkan pengalaman pribadinya atau berdasarkan literatur yang dibaca.
  • Pengarah (coach)
    Peran pertama dan kedua sudah begitu banyak yang mengetahuinya. Namun, peran pemimpin sebagai coach jarang sekali disadari oleh para pemimpin. Coaching adalah metode pengajaran dengan bertanya dan berfokus pada masa depan. Membantu timnya untuk menemukan jawaban dari dalam dirinya sendiri dan mengeluarkan potensi yang ada dalam diri masing masing tim.
  • Pendelegasi
    Delegasi terdengar ringan karena seperti menyuruh orang lain untuk mengerjakan sesuatu. Namun, delegasi adalah kemampuan tertinggi seorang leader karena tim sudah mampu bekerja dengan baik ada dan tiadanya pemimpin tersebut. Delegasi adalah peran dari seorang leader yang paling utama namun paling sering dilupakan.

Tugas dari seorang leader adalah untuk menyiapkan penerusnya. Hal ini seperti mudah namun sangat sulit dilakukan karena mendelegasikan memerlukan kepercayaan yang besar dari seorang leader kepada timnya. Delegasi membutuhkan kebesaran hati seorang pemimpin untuk mau menerima kesalahan yang dibuat oleh timnya. Delegasi juga membutuhkan kesabaran untuk terus mendukung timnya saat mereka merasa putus asa.

“The job of leader is to create another leader”
-Handry Satriago-

  1. Jadilah Netral

    Menjadi seorang pemimpin harus lah bersikap netral. Karena dengan bersikap netral, pemimpin mampu melihat suatu peristiwa dari segala sudut pandang. Hal ini sangat penting dalam pengambilan keputusan, karena keputusan yang diambilnya harus lah keputusan yang terbaik bagi organisasinya bukan berdasarkan dirinya atau bahkan berdasarkan subjektivitas dirinya. Berikut cara yang dapat dilakukan agar kita dapat bersikap netral:

  • Semua orang baik dan memiliki tujuan baik
    Seorang leader harus menempatkan bahwa semua orang baik baik saja. Memikirkan kemungkinan terburuk memang penting, tetapi bersikap positif bahwa semua orang pasti memiliki tujuan yang baik jauh lebih penting karena mampu menjernihkan pikiran kita untuk dapat melihat peluang-peluang yang dapat kita kerjakan.
  • Semua orang penuh dengan sumber daya
    Hal ini penting untuk dilakukan untuk menurunkan kesombongan dari seorang leader yang berpikir bahwa dialah yang mengerti segalanya. Kita harus percaya bahwa anggota kita memiliki sumber daya yang cukup sesuai dengan kemampuannya masing masing. Sebaik dan sepintar apapun seorang pemimpin pasti ada hal yang tidak diketahuinya dan timnya lah yang mungkin mengetahuinya.
  • Semua orang melakukan yang terbaik
    Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang ingin memberikan hasil yang buruk. Semua orang pasti ingin memberikan yang terbaik berdasarkan kemampuan dan informasi yang dimilikinya saat itu. Jika memang yang dihasilkan tidak sesuai yang dengan yang diinginkan, mungkin itu memang hasil maksimal yang bisa diberikannya. Sifat ini dapat membuat seorang pemimpin sadar bahwa setiap orang memiliki saat belajarnya masing masing.
  • Perubahan pasti terjadi
    Seorang yang bijak pernah berkata “tidak ada yang pasti di dunia ini yang pasti hanyalah perubahan”. Begitupun manusia, tim kita mungkin pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi tidak berarti mereka tidak bisa berubah. Kita harus percaya dan memberi kesempatan pada mereka untuk melakukan perubahan.
  1. Jadilah pendengar yang baik

    Hal ini adalah kelanjutan dari bersikap netral. Dengan bersikap netral maka seorang leader mampu menjadi pendengar yang baik dan menangkap semua informasi dengan tepat. Tiga level mendengar :

  •  Mendengar konten
    Ini adalah level pendengaran paling rendah di mana yang didengarnya adalah opini yang keluar dari si pembicara. Jika kita hanya mendengar di level ini, akan banyak salah komunikasi yang terjadi dan terkadang informasi yang penting dan mendasar justru tidak diterima dengan baik.
  • Mendengar struktur
    Pada level ini, si pendengar tidak hanya mendengarkan opini tapi juga dapat melihat sistem dan proses yang ada dalam informasi itu. Mendengar di level ini dapat membuat seorang pemimpin melihat langkah langkah yang telah dilakukan dan langkah apa yang harus dilakukan setelahnya.
  • Mendengar konteks
    Ini adalah level tertinggi dalam mendengar. Si pendengar tidak hanya mendengarkan kata-kata yang keluar, tetapi juga dapat mendapat informasi dari gerakan-gerakan yang dilakukan, nada bicara, dan energi yang ditimbulkan. Pada level ini, si pendengar mampu menyerap seluruh informasi dari seluruh panca indra dengan tepat. Hasilnya informasi yang diterima menyeluruh dan tidak terjadi salah komunikasi.Jadilah pendengar aktif. Yang membedakan antara pendengar aktif dan pasif adalah kehadirannya. Pendengar aktif selalu hadir dalam pembicaraan itu dan benar-benar memperhatikan setiap poin yang sedang disampaikan lawan bicara kita. Alangkah baiknya jika kita tidak mendengarkan untuk mempersiapkan jawaban kepada lawan bicara kita. Karena, jika kita sedang memikirkan jawaban kepada lawan bicara kita, kita akan kehilangan konteks.
  1. Gunakan tone yang tepat

    Pemimpin dapat menggunakan tone yang berbeda untuk saat saat yang berbeda pula. Ada empat tone yang biasa digunakan:

  • Warrior
    Tone yang biasa digunakan pada saat saat mendesak dan membutuhkan keputusan yang cepat. Tone tidak cocok digunakan pada saat tim membuhkan brainstorm ide.
  •  Friend
    Tone ini diperlukan saat ingin meruntuhkan tembok pembatas antara pemimpin dan timnya. Biasanya digunakan di saat santai seperti coffee talk, lunch meeting dan percakapan sehari-hari. Tone ini dapat memberikan perasaan nyaman dan hangat kepada anggota tim. Sangat tidak disarankan pada saat mengambil keputusan yang penting.
  •   Wizard
    Tone ini dibutuhkan pada saat tim membutuhkan semangat, memecah kebuntuan, dan brainstorm. Tone ini juga mampu membuka potensi yang dimiliki anggota tim.
  •  Wise
    Tone ini adalah tone orang tua yang memberikan kenyamanan. Sangat dibutuhkan di saat saat menyemangati anggota tim yang sedang putus asa atau saat saat 1 on 1 meeting dimana butuh untuk mengutarakan semua perasaan.
  1. Dengar dan Putuskan

    Yang paling terakhir adalah putuskan! Seorang pekerja dibayar atas apa yang dikerjakannya sedangkan seorang leader dibayar atas keputusan-keputusan yang dibuatnya. Semakin besar dampak dari keputusan itu, semakin tinggi pula bayarannya. Oleh karena itu putuskan segera dengan informasi terbaik yang dimiliki. Tidak perlu menunggu sempurna karena anggota tim akan kehilangan arah. Menunda keputusan juga dapat diartikan keputusan itu sendiri oleh anggota tim. Oleh karenanya, dengar dan putuskan!

“Anda boleh memerintah kan apapun kepada kami, bahkan salah sekalipun kami akan mengikuti. Satu kalimat yang tidak boleh anda katakan. Tidak tahu.”

– Film Merah Putih –

Setelah Memimpin



Langkah terakhir yang menutup semua proses ini adalah evaluasi. Seorang leader yang baik selalu belajar dari kesalahan masa lalunya dan selalu mau mendengarkan masukan dari anggota timnya. Ada beberapa bentuk evaluasi yang bisa dilakukan seperti 360 deg evaluation dan reverse mentoring yang akan dijelaskan di tulisan yang lain.

Untuk menutup tulisan ini, leadership adalah suatu seni menyeimbangkan fakta, angka, dan emosi. Namun begitu, seringkali kepemimpinan adalah seni untuk memimpin diri sendiri sebelum mampu memimpin orang lain. 

Jadi marilah kita mulai memimpin, dengan leader position yang tepat!

“Kita tidak berhak untuk memimpin orang lain jika kita belum bisa memimpin diri sendiri.”
-Gede Raka, guru besar ITB –

Dharmaji Suradika

Pemimpin.ID 2019 - 2020