JurnalStoicisme: Mengontrol Stres di Setiap Kondisi

Redaksi Pemimpin.IDMay 4, 2020213
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/05/cover-amygdala-pemimpin-indonesia.jpeg

Waktu ke waktu, topik mengenai kepemimpinan tidak pernah ada habisnya. Karena kepemimpinan adalah kapasitas untuk menerjemahkan visi menjadi kenyataan dan ketika suatu visi terealisasi pasti akan selalu ada tuntutan selanjutnya. Kepemimpinan mungkin bisa kita sebut akhirnya sebagai: cerita yang tidak pernah ada akhir. Selain itu kepemimpinan tidak selamanya erat kaitannya dengan kepemimpinan di tempat kerja, organisasi kampus, tetapi juga bisa kepemimpinan di rumah dan hal-hal lain yang cakupannya lebih kecil. Di berbagai tempat yang sebagaimana sudah disampaikan sebelumnya, kita akan menjajaki tantangan yang beragam dan bisa saja tantangan tersebut adalah hal yang baru bagi kita, serta menuntut kita untuk menerima dan menjalankannya.

Sebagai manusia, kita memberikan respon emosi yang berbeda terhadap sesuatu hal yang baru, bisa negatif maupun positif. Salah satu tantangan terbesar bagi kesehatan mental kita adalah kecenderungan kita untuk bereaksi berlebihan secara impulsif ketika kita menemukan tantangan baru. Perasaan emosional seperti rasa takut, stres, dan gelisah akhirnya menjadi ancaman bagi kesehatan mental kita. Di lain sisi, perasaan emosional tersebut juga dapat menjadi peluang menuju kesuksesan kita. Kita akan secara natural lebih menyukai perasaan emosional ⎯yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya⎯ sebagai “peluang menuju kesuksesan” dibanding “ancaman bagi kesehatan mental”. Di sinilah peran otak kita memainkan fungsinya.

Stres Kronis Merusak Fungsi Prefrontal Cortex
Struktur otak kita memiliki pusat yang memunculkan rasa takut, cemas, dan marah ketika dirangsang oleh sinyal-sinyal tertentu yaitu amygdala. Amygdala memiliki koneksi yang saling mempengaruhi dengan prefrontal cortex. Mengenai prefrontal cortex, bagian ini memiliki fungsi untuk manusia melakukan perencanaan, pengambilan keputusan, serta menimbang hal baik dan buruk.

Gambar 1. Kendali Amygdala terhadap Otak ketika Situasi Stres
Sumber: Arnsten, 2009 diolah oleh penulis

Ketika seseorang stres tubuhnya akan memproduksi hormon kortisol yang berfungsi untuk membantu otak untuk berpikir jernih, mengalirkan energi ke otot-otot, dan meningkatkan denyut jantung serta pernapasan. Namun jika kortisol yang dihasilkan berlebih ⎯karena mengidap stres dalam jangka waktu yang lama, hal ini akan berdampak buruk bagi kesehatan mental. Sebagai contoh, stres kronis meningkatkan aktivitas dan jumlah saraf di amygdala. Amygdala menjadi aktif mengambil kendali di otak kita ketika stres, dapat dilihat pada Gambar 1.

Amygdala turut mempengaruhi hypothalamus. Hypothalamus ketika menerima pesan stres dari amygdala akan memberi respon, seperti terpengaruhnya pernafasan menjadi tidak teratur, jantung yang berdetak lebih cepat, dan masalah pencernaan; karena hypothalamus mengatur bagian tubuh yang di luar keadaaan sadar manusia. Pada akhirnya fungsi prefrontal cortex ikut terganggu. Kita yang seharusnya dapat berpikir jernih untuk membuat keputusan menjadi terkendala karena efek stres kronis, bahkan hal ini dapat berujung depresi dan Alzheimer.

Gambar 2. Kendali Prefrontal Cortex terhadap Otak ketika Situasi Stres
Sumber: Arnsten, 2009 diolah oleh penulis

Prefrontal cortex dapat dilatih dengan baik melalui salah satunya yaitu meditasi. Meditasi memperkuat hubungan antara prefrontal cortex dengan amygdala, yang berpengaruh terhadap kontrol emosi yang lebih terkendali. Karena pada saat meditasi, prefrontal cortex menjadi lebih aktif sehingga menyebabkan kendali amygdala terhadap otak menjadi berkurang. Proses ini yang akhirnya mengurangi stres yang berlebihan. Proses prefrontal cortex memberi pengaruh terhadap amygdala dapat dilihat pada Gambar 2.

Stoicisme dapat menjadi “imunisasi” mental

Kita bisa menerapkan meditasi berdasarkan prinsip filosofi teras atau stoicisme. Stoicisme adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan. Stoicisme memiliki sebuah cara mengatasi emosi negatif yang dalam Bahasa Latin cara ini disebut “premeditatio malorum” atau dalam terjemahan Bahasa Inggris disebut “premeditate evil”, yang maksudnya adalah mempersiapkan diri terhadap hal-hal jahat (negatif).

Praktik ini cara kerjanya serupa dengan imunisasi. Dalam imunisasi, kita memasukkan kuman yang sudah dilemahkan sehingga sistem kekebalan kita bisa mempersiapkan diri melawan kuman yang sesungguhnya jika datang. Dengan mensimulasikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, kita sedang mempersiapkan “kekebalan mental” menghadapinya jika memang terjadi. Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi yang menganut paham stoicisme, beliau menyampaikan “selalu ingat bahwa ini semua telah terjadi sebelumnya dan akan terjadi lagi. … Pikirkan hal ini, berdasarkan yang kamu ketahui dari pengalaman atau sejarah”. Tidak ada yang baru yang di dunia ini, suatu kejadian bisa jadi adalah pembelajaran yang berulang dengan konteks yang berbeda. Seperti pandemi COVID-19 pada tahun 2020 yang memberi dampak krisis ekonomi mirip seperti krisis ekonomi pada tahun 2008-2009, hanya saja COVID-19 dianggap memberi dampak yang lebih besar. Maka sudah tugas kita sebagai seorang pemimpin mengambil pembelajaran masa lalu untuk dijadikan kebijaksanaan di masa ini bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Premeditatio malorum dapat diterapkan hingga membayangkan tantangan yang lebih besar. Membayangkan kita tertimpa bencana alam, kecelakaan hingga cedera parah, dilanda peperangan, dan lain-lain, misalnya. Prinsipnya ketika kita telah membayangkannya, kita berusaha mempersiapkan antisipasinya dan tidak merasa terkejut ketika hal tersebut benar-benar menimpa kita. Maka dengan demikian, premeditatio malorum mengajarkan bahwa sumber kebahagiaan ada pada diri kita: pikiran kita, sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita ⎯karena hal inilah yang menentukan baik atau buruknya hidup kita, bukan hal eksternal di luar kendali kita.

Kemiripan neurofeedback dan premeditatio malorum

Teknik premeditatio malorum mirip seperti pelatihan neurofeedback untuk melakukan manajemen stres, dimana “imajinasi” seseorang diminta untuk dominan mempengaruhi aktivitas otak mereka terhadap stres. Sebuah studi mempublikasikan pada awal tahun 2019 yang menunjukan bahwa neurofeedback dapat meningkatkan kontrol pada otak tentara. Para peneliti merekrut 180 tentara yang berada di minggu-minggu pertama program pelatihan tempur yang dirancang untuk mempersiapkan mereka untuk ditugaskan. Mereka menugaskan setengah dari kelompok itu ⎯90 tentara⎯ ke kursus pelatihan neurofeedback untuk mengatasi amygdala.

Neurofeedback bertujuan untuk melatih otak mereka mengatur aktivitas amygdala dengan lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, para prajurit menonton animasi ruang tunggu di rumah sakit dengan beberapa karakter yang gelisah sambil berteriak pada resepsionis. Para prajurit diminta untuk “menemukan strategi mental” yang akan membuat karakter-karakter itu tenang. Instruksi itu sengaja tidak jelas. Tetapi jika mereka berhasil menekan tingkat aktivitas dalam amygdala mereka, karakter di layar akan tenang.

Untuk memastikan bahwa teknik neurofeedback tersebut bekerja secara khusus hanya untuk amygdala, para peneliti menugaskan 90 tentara yang tersisa dalam sampel mereka ke control group. Kelompok ini dilatih dengan neurofeedback yang menyasar kepada bagian otak yang bukan amygdala. Selama pelatihan neurofeedback, para peneliti menemukan apa yang mereka harapkan. Menurut data, para prajurit dalam kelompok control group; pelatihan neurofeedback yang diberikan tidak berpengaruh apapun terhadap bagian otak yang disasar. Sedangkan kelompok pelatihan neurofeedback terhadap amygdala; aktivitas amygdala mereka berkurang lebih banyak daripada tentara dalam control group.

Berdasarkan pemaparan di atas mari coba kita tanyakan beberapa hal pada diri kita. Apakah setiap tantangan baru bertujuan hanya untuk mengancam kesehatan mental kita? Atau mungkin ternyata setiap tantangan baru justru bertujuan untuk memicu hormon kortisol yang sekedar untuk meningkatkan performa kita? Tugas kita dalam menghadapi tantangan adalah cukup dijalankan, tanpa harus membuat tantangan tersebut menjadi stres yang akan menguasai diri kita, tetapi stres-lah yang ada dalam kendali kita.

Referensi

– Psychology Today, “Leadership”, Psychologytoday.com.
– Joaquin M. Fuster, Cognitive Functions of the Prefrontal Cortex, (Oxford: Oxford University Press, 2013), hal. 11.
– Kylie Garber Bezdek dan Eva H. Telzer, “Have No Fear, the Brain is Here! How Your Brain Responds to Stress”, kids.frontiersin.org
– Amy F. T. Arnsten, Stress signalling pathways that impair prefrontal cortex structure and function, Nat Rev Neurosci, 10(6), 2009, hal. 410–422.
– Nicholas J. Justice, The relationship between stress and Alzheimer’s disease, Neurobiology of Stress,Vol.8, 2018, hal. 127-133
– Mukesh Mani, “4 Ways Meditation Changes Your Prefrontal Cortex (And How It Benefits You)”, outofstress.com,
– Henry Manampiring, Filosofi Teras (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2018), hal. 124
– Ibid, hal. 106
– International Monetary Fund, “World Economic Outlook, April 2020: The Great Lockdown”, IMF.org,
– Erman Misirlisoy, “How Neurofeedback Is Revolutionizing Stress Management”, Onezero.medium.com,

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020