InspirasiSofian Hadiwijaya, CTO Warung Pintar: Ingin Berkontribusi Bagi Negara Lewat Teknologi

Redaksi Pemimpin.IDOctober 17, 2019316
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/10/sofian-hadiwijaya-1080x620.png

 

Sejak kecil, Sofian sudah dekat dengan perkakas komputer dan senang membongkar – bongkar isinya. Beruntung, kesukaannya untuk membongkar perkakas sangat dimaklumi oleh ayahnya yang kemudian membelikannya majalah komputer.

Kecintaan terhadap teknologi akhirnya mempertemukan Sofian pada orang-orang yang punya kesamaan passion dengannya, baik di lingkup akademis maupun praktisi. Pengalaman putus kuliah hingga diterima di perusahaan besar membuat Sofian merasa ingin memberikan kontribusi yang lebih bagi negara.

Dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan membangun startup Warung Pintar. Merintis Warung Pintar sebenarnya tak lepas dari idealisme Sofian yang ingin terlibat bagi pembangunan ekonomi di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Tim PemimpinID mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sofian Hadiwijaya di kantor Warung Pintar. Di situ, dia berbagi tentang harapannya untuk Indonesia melalui Warung Pintar maupun industri teknologi di Indonesia.

P : PemimpinID
S : Mas Sofian

P : Apa yang menjadi tujuan Mas Sofian dalam membangun Warung Pintar?
S : Yang kita pikirkan adalah, selama ini ada lebih dari 3 juta warung di Indonesia dan hidupnya enggak pernah berubah sejak warung itu berdiri. Padahal, kita melihat bahwa GDP (Gross Domestic Product) itu banyak di support sama UMKM. Tetapi sayangnya UMKM ini enggak pernah berkembang.

P : Ide apa yang kemudian Mas Sofian tawarkan untuk mewujudkan misi mengembangkan UMKM Indonesia?
S : Kita ingin menggali potensi pelaku UMKM agar bisnis mereka bisa lebih besar lagi. Jadi kalau dilihat, kita itu ada usaha mikro, kecil, menengah, dan besar. Nah kalau dilihat, posisi mikro ini banyak banget dan dari tahun ke tahun, porsinya terus bertambah. Tapi, mereka tidak pernah lolos ke tingkat menengah. Makanya kita lihat bagaimana caranya kita bisa menggali orang-orang yang ada di usaha mikro ini supaya bisa sedikit lebih maju.
Lewat Warung Pintar, kita ingin memberikan peluang bagi pemilik warung untuk mendapatkan fitur teknologi di warungnya agar usahanya bisa lebih cepat berkembang. Kalau di China itu disebutnya The New Retail. Konsep New Retail di beberapa negara kayak China dan India ini lagi booming banget. Dari situ kita berpikir mengapa kita tidak memulainya di Indonesia. Inilah yang mau kita kontribusikan terhadap Indonesia.

P : Kalau menurut Mas Sofian, apa yang jadi permasalahan utama UMKM di Indonesia?
S : Pertama, mereka tidak bisa memanage cashflow mereka sendiri. Karena mereka tidak punya financial statement, mereka tidak bisa mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Jadi mereka agak susah buat membangun bisnis mereka.Kalau cuma mengharapkan perputaran uang, pasti kecil banget gitu, ya.
Padahal kalau mereka bisa dapat pendanaan akan jauh lebih gampang buat membesarkan bisnisnya. Yang kedua, kita juga melihat attitude mereka. Bagaimana caranya mereka bisa membuat promo atau acara yang bisa meyakinkan pelanggan bahwa warung mereka lebih enak, lebih terpercaya, dan lebih nyaman sehingga pelanggan mereka ingin datang lagi.

P : Lalu apa yang menjadi harapan dari Mas Sofian dan tim ketika merintis Warung Pintar?
S : Harapan yang paling besar ya, kita bisa bantu meningkatkan perekonomian Indonesia. Hal yang lebih besar lagi kalau kita lihat, selama ini kan orang selalu membahas tentang subsidi uang, subsidi pendidikan maupun kesehatan, tetapi semuanya itu hanya curing, bukan preventif.
Nah, kita juga ingin membuat mereka sadar untuk menaikkan taraf hidup mereka. Ketika mereka sudah sadar akan hal itu, mereka juga akan lebih bijak menggunakan uang buat keluarganya sendiri. Mereka juga akan memikirkan pendidikan yang layak untuk anak-anak. Kalau kondisi sekarang, boro-boro mereka memikirkan itu, sekarang ini mereka lebih memikirkan ‘besok kita makan apa?’

P : Apa yang menjadi tantangan bagi Mas Sofian dalam mengajak pelaku UMKM betransformasi ke teknologi dan bagaimana mas Sofian menyikapi tantangan itu?
S : Ya karena kita berhubungan dengan orang-orang yang memang sudah ‘nyaman’ dengan kebiasaannya, perihal mengajak jadi enggak gampang. Butuh kerja keras dan orang yang berhati besar buat ngajarin mereka. Kita selalu ngingetin mereka bahwa hal ini bukanlah hal yang gampang.
Jalur paling seru adalah bikin dari komunitas. Ini adalah sesuatu yang gue inget dari orang tua karena ayah gue seorang penyuluh pertanian. Dia bilang, saat datang pertama kali untuk menawarkan perubahan, kita pasti dipandang sebelah mata. Sebelumnya, kita harus ada di state mereka. Kita juga harus paham, secara budaya bagaimana. Ketika bisa masuk komunitas mereka dan mendapat hatinya, mereka akan terbuka untuk bertanya. Ini juga menjadi alasan kenapa kantor kita dibikin kayak tempat nongkrong.

P : Melihat tantangan yang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan, apakah Mas Sofian optimistis perubahan yang diharapkan tadi bisa tercapai?
S : Dari dulu, gue selalu menawarkan diri, sekiranya kita bisa bantu, apa yang bisa kita bantu. Maka nya dari dulu, gue sudah sering banget berhubungan sama pemerintahan. Jadi gue selalu ada di lingkaran pemerintah karena menurut gue, kita enggak akan bisa mengubah sistem kalau kita enggak ada dalam sistem itu. Jadi gue selalu mengencourage tim di sini untuk harus ambil bagian dalam memajukan bangsa. Kita bekerja tidak sekadar melihat berapa besar gaji yang didapat, tetapi juga tentang impact apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini lewat pekerjaan kita.

Sofian optimistis, dengan memberikan sentuhan teknologi pada bisnis UMKM, Warung Pintar bisa berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebagai sosok yang punya perhatian pada teknologi, pria kelahiran 1989 ini telah lama berkecimpung dalam komunitas teknologi. Di situ, mereka sempat berbagi kegelisahan terkait literasi teknologi di Indonesia yang masih rendah.

S : Kita pernah datang ke kampus dan lima hari full itu kita ngajarin best practice bikin sistem, ternyata ada perbedaan yang jauh banget terkait pengetahuan teknologi mahasiswa di Jakarta dan di luar Jakarta.

P : Gap yang seperti apa misalnya?
S : Jadi kita pernah menyampaikan materi, kebetulan slidenya bahasa Inggris, ternyata mereka minta agar materinya dibuat berbahasa Indonesia. Itu sesuatu yang menohok bagi saya. Dari situ, kita berinisiatif untuk mengajak teman-teman komunitas menyetarakan pengetahuan teknologi di Indonesia, bahkan kita harus setara juga di luar.

P : Apakah kondisi tersebut masih memberikan peluang bagi Indonesia untuk maju dari sisi teknologi?
S : Kalau dilihat sebenarnya orang kita mampu saja. Yang jadi masalah sebenarnya, orang luar itu mulai lebih dulu aja. Tapi di era teknologi ini, informasi itu bisa diakses dengan sangat cepat oleh siapa saja, sehingga kita masih punya kesempatan untuk bisa setara dengan negara-negara yang sudah maju dari sisi teknologi.

P : Lalu apa yang menjadi tantangan bagi Indonesia untuk menuju ke sana?
S : Masalah di Indonesia bisa jadi sama dengan masalah di luar, karena jumlah penduduk kita itu banyak sehingga kompleksitas sebuah sistem harusnya memiliki tantangan yang sama. Sekarang kalau kita lihat, negara negara yang sudah maju dengan teknologi seperti Amerika, penduduknya sangat banyak. Kemudian disusul oleh China dan India yang penduduknya juga banyak. Sementara Indonesia negara dengan penduduk terbesar ke-4, harusnya Indonesia berpotensi untuk bisa seperti China dan India.

P : Menurut Mas Sofian, apakah ada faktor lain yang membuat India dan China bisa lebih cepat berkembang dari sisi teknologi?
S : Yang membuat India dan China jauh lebih cepat itu karena mereka lebih banyak mengirim anak mudanya untuk belajar teknologi ke Amerika Serikat. Semakin banyak yang dikirim, semakin banyak pula peluang anak muda yang pulang dan mengembangkan teknologi di negaranya masing-masing. Kalau Indonesia kan masih sedikit ngirimnya, jadi yang pulang ke Indonesia juga sedikit. Semakin banyak mengirim orang muda ke sana, harapannya transfer knowledge.

P : Siapa sosok pemimpin yang menginspirasi Mas Sofian selama ini?
S : Sebetulnya gue selalu bertanya seperti apa ya pemimpin itu? Tapi gue berefleksi dari pemimpin-pemimpin gue sebelumnya dan yang paling berkesan adalah ketika gue di Holcim. Di sana, gue lebih dikasih keleluasaan untuk menyelesaikan masalah tanpa perlu ada deskripsi job yang mengikat. Itu sangat menantang dan menguji kepercayaan diri kita untuk menyelesaikan masalah. Dan gaya seperti itulah yang gue pakai dimanapun gue berada.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019