hari
jam
menit

9 bulan menuju 

Lead The Fest 2023

Pemimpin Perempuan, Siapa Bilang Gak Bisa?

Bagikan ke

Oleh Nida Zhafira (Volunteer Web Content Writer)

ABSTRAK | Pemimpin perempuan, Siapa Bilang Gak Bisa? – Sudah beberapa tahun terakhir beberapa negara telah mengangkat perempuan seperti pemimpin mereka. Seperti Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru. Pada 2018, tepatnya pada peringatan Hari Perempuan Internasional, Grant Thornton International merilis survei yang diikuti oleh 4.995 responden dari 35 negara. Mereka adalah Chief Executive Officer (CEO), Managing Director, Chairman, dan label eksekutif lainnya. Survei tersebut membuktikan bahwa perusahaan dengan setidaknya satu perempuan di posisi manajemen senior, meningkat secara signifikan dari 66% menjadi 75% selama satu tahun. 

Memahami Kesetaraan Gender 

Sebelum membahas lebih jauh tentang kepemimpinan perempuan, mari kita bahas pengertian dari kesetaraan gender. Dilansir dari laman Kemenpppa, pengertian kesetaraan gender merujuk pada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Dalam hal ini berarti tolak ukur keberhasilan kesetaraan gender adalah tidak adanya diskriminasi antar gender, seperti laki-laki merendahkan perempuan, ataupun membebankan tugas hanya kepada laki-laki. Semua gender harus mendapat peran dan tugasnya masing-masing. 

Isu kesetaraan gender ini masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Banyak yang miskonsepsi, hingga akhirnya menyalahgunakan pengertian kesetaraan gender itu sendiri. Padahal jika kita memahami isu tersebut secara luas, kesetaraan gender bisa sangat menguntungkan baik bagi laki-laki, maupun perempuan. Salah satunya adalah menciptakan ekosistem komunitas yang aman dan sehat. (https://www.vic.gov.au/benefits-gender-equality

Pemimpin Perempuan 

Berdasarkan hasil meta analisis, pemimpin perempuan dievaluasi sedikit lebih negatif dibanding pemimpin laki-laki. Meskipun perbedaannya sangat tipis, bias terhadap pemimpin perempuan jauh lebih besar di keadaan tertentu. Dalam hasil analisis Eagly dan Johnson (1990), perempuan dalam posisi kepemimpinan dunia, lebih bersifat demokratis dan partisipatif. Namun, perempuan terkadang tidak dihargai ketika mereka menduduki posisi laki-laki dalam sebuah tatanan pemerintahan. 

Dalam buku karangan Helen Asten dan Carole Leland berjudul Women of Vision (1991), ada rumus yang menjelaskan tentang kepemimpinan perempuan. Rumusnya adalah:

Leadership = Competent Self + Creative Aggression + Woman Power

Competent Self /Diri Kompeten menyiratkan rasa diri yang kuat dan kemampuan untuk melihat kemungkinan bukan hambatan. 

Creative Aggression/Agresi Kreatif yang mencakup inisiatif, memimpin orang lain, dan berbicara. Meskipun terlihat eksklusif, Woman Power/kekuatan perempuan dapat menjadi perpaduan yang sempurna antara kualitas maskulin dan feminin, di mana menggabungkan kekuatan dengan sikap lembut. 

Menjadi pemimpin perempuan memang harus melewati banyak tantangan, apalagi kita masih tinggal di Indonesia, di mana patriarki masih sangat kuat. Beberapa pihak masih akan ada yang menganggap perempuan lemah, dan lebih pantas untuk mengurus rumah tangga. Padahal sejatinya, perempuan juga pantas untuk didengar dan menuntut haknya. Perempuan juga memiliki kebebasan untuk memilih menjadi pemimpin. 

Kepada para perempuan, jangan pernah takut untuk menyuarakan hakmu, jangan pernah takut dengan narasi-narasi yang menjatuhkan perempuan. Sesungguhnya mereka yang menjatuhkanmu, hanya takut tersaingi. Buktikan bahwa perempuan tak mudah untuk dikalahkan. Mulai hari ini dan seterusnya, perempuan dan laki-laki berhak untuk mendapatkan kehidupan yang setara, termasuk menjadi seorang pemimpin.

Referensi:

Florence L. Psychology of Women Quarterly, 17 (1993), 343-356

Follow us