HeadlineLeadership ReviewRumah Antikorupsi: Temboknya adalah Pendidikan Karakter

Avatar Pemimpin.IDJuly 5, 202193
Untitled-3-01

Oleh: Fauziah SPR

 

ABSTRAK. Masalah korupsi selalu menjadi isu hangat di Indonesia. Di samping menuntut pemerintah untuk memberikan solusi mengenai pemberantasan korupsi, sebagai pemimpin kita juga perlu ikut berkontribusi. Dimulai dengan menanamkan nilai-nilai itu pada diri sendiri, kemudian mulai mengajak orang lain dengan cara yang bersahabat, bekerjasama dengan stakeholder, dan jangan lupa untuk selalu konsisten.

 

Korupsi menjadi topik yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Apalagi di Indonesia, di mana kasus korupsi selalu terdengar berulang kali muncul di televisi. Menyedihkannya, korupsi bukan hanya apa yang ada di televisi saja. Saat ini, masih ada perilaku-perilaku kecil yang seolah sudah menjadi kebiasaan di masyarakat seperti menyogok polisi saat ditilang, atau memberikan sejumlah uang agar pembuatan SIM lancar, dan lain sebagainya. 

Di tahun 2020 sendiri, Indonesia Corruption Watch atau IWC mengatakan bahwa total kerugian yang dialami negara karena korupsi mencapai Rp56,7 triliun dengan pengembalian dana hanya Rp8,9 triliun saja. Korupsi merampas hak banyak pihak dan harus segera dihentikan. Tapi bagaimana caranya?

 

Langkah Preventif 

Salah satu langkah preventif yang dilakukan pemerintah adalah dengan menggalakkan pendidikan karakter antikorupsi. Karakter antikorupsi menurut KPK sendiri terdiri dari 9 poin, yaitu:

  1. Kejujuran
  2. Kedisiplinan
  3. Kepedulian
  4. Tanggung jawab
  5. Kerja keras
  6. Kesederhanaan
  7. Kemandirian
  8. Keberanian
  9. Keadilan

Saat ini, pendidikan antikorupsi sudah mulai diberikan kepada anak-anak sekolah. Generasi-generasi mendatang perlu ditanamkan nilai-nilai baik sedini mungkin secara konsisten agar nilai itu selalu terjaga dan tidak rusak. Jika diibaratkan sebuah rumah, maka karakter adalah tembok yang membangunnya sekaligus melindungi kita dari berbagai pemikiran-pemikiran negatif. Penanaman 9 nilai itu tentunya dengan harapan agar Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi, khususnya dalam upaya pemberantasan korupsi.

Di samping usaha pemerintah dengan penanaman karakter antikorupsi, kita juga sebagai pemimpin harus ikut berkontribusi. Bukan hanya menanamkan nilai integritas kepada diri sendiri, tetapi juga mengajak orang lain untuk turut menginternalisasi nilai-nilai ini. Hal ini menjadi sangat penting, apalagi dalam lingkup organisasi.

Menyebarkan Nilai Integritas

Menurut Arya Dwari Rahmani, Duta Transformasi Kementerian Keuangan, nilai integritas menjadi value yang penting dimiliki dalam sebuah organisasi. Organisasi yang tidak menjunjung tinggi nilai integritas, hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh dan hancur. Karenanya, kita juga perlu menyebarkan nilai-nilai ini kepada rekan-rekan kita. Tapi, bagaimana caranya?

Dari pengalamannya sebagai Duta Transformasi, Arya memberikan beberapa tips yang bisa kita ikuti, yaitu:

 

  1. Menjadi Teladan
    Sebelum menyebarkannya kepada orang lain, tentu harus mulai dari menginternalisasi nilai integritas kepada diri sendiri. Kita harus menerapkan nilai-nilai integritas itu dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal terkecil, yakni tidak korupsi waktu dengan selalu datang ke kantor/datang rapat secara tepat waktu. Jadikan diri kita sebagai orang yang bisa diteladani oleh rekan kerja/organisasi.
  2. Bersahabat
    Ketika berusaha mengajak orang lain agar turut menjunjung tinggi nilai integritas, kita perlu melakukannya dengan pendekatan yang baik dan bersahabat. Mengajak  dengan agresif dan kata-kata yang tidak mengenakkan akan membuat proses ini menjadi lebih sulit, karena orang akan cenderung menolaknya.
  3. Kerjasama
    Ketika kita berada di posisi yang tidak terlalu memiliki kekuasaan dan pengaruh, maka kita bisa bekerjasama dengan ketua atau orang yang memiliki pengaruh dalam suatu organisasi. Dengan begitu, ide-ide yang kita miliki terkait penanaman nilai integritas dapat diimplementasikan secara perlahan untuk seluruh anggota.
  4. Konsisten
    Jargon integritas akan hilang dengan sendirinya jika tidak dibarengi dengan konsistensi. Jangan hanya semangat di awal, penanaman nilai ini harus terus berlanjut.

 

“Katanya, korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia,” ucap Arya. “Tapi saya tidak sependapat. Jika pesan tersebut terus ditanamkan kepada generasi mendatang, maka budaya itu akan terus ada. Sebaliknya, kita harus optimis bahwa korupsi itu bukan budaya Indonesia.”

 

PR Indonesia terkait permasalahan korupsi nampaknya masih menjadi proses yang panjang untuk diberantas. Namun, yakinlah bahwa langkah-langkah kecil kita hari ini akan menjadi sesuatu yang besar di masa mendatang. Karena pemberantasan korupsi di Indonesia, dimulai dari diri kita sendiri.

 

Referensi

Astuti, S. J. (2019).  *Memantapkan Pemahaman 9 Nilai Antikorupsi untuk Memperkokoh Jati Diri Insan Perbendaharaan*. Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu RI. http://www.djpb.kemenkeu.go.id/kppn/surabaya1/id/data-publikasi/artikel/2886-memantapkan-pemahaman-9-nilai-antikorupsi-untuk-memperkokoh-jati-diri-insan-perbendaharaan.html

Guritno, T. (2021). Data ICW 2020: Kerugian Negara Rp 56,7 Triliun, Uang Pengganti dari Koruptor Rp 8,9 Triliun. Kompas.com. https://nasional.kompas.com/read/2021/03/22/19301891/data-icw-2020-kerugian-negara-rp-567-triliun-uang-pengganti-dari-koruptor-rp

 

Photo by: Agung Pandit Wiguna

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.