HeadlineLeadership ReviewRumah Antikorupsi: Pondasinya adalah Pendidikan Agama

Avatar Pemimpin.IDJune 24, 2021141
sixteen-miles-out-L-mNqn89I2s-unsplash

ABSTRAK. Korupsi bukan lagi menjadi barang langka di tengah masyarakat Indonesia, terjadinya OTT (Operasi Tangkap Tangan) yang dilakukan KPK dimana-mana menjadi salah satu cerminan bobroknya persoalan pemberantasan korupsi di negara ini. Korupsi sudah merebak dan berkembang dengan sangat cepat di lapisan masyarakat, mulai dari pejabat yang berwenang hingga urusan sepele di tengah masyarakat. Tentu hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh semua lapisan, upaya pengenalan tentang budaya anti korupsi harus dimulai sejak dini. Salah satunya melalui dunia pendidikan, baik pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal yang bisa diberikan oleh keluarga. Sejalan dengan hal tersebut, pendidikan agama berpeluang menjadi jawaban untuk menanamkan nilai kebaikan dan nilai kehidupan pada anak sedari kecil sekaligus menghalau sikap maupun sifat yang berkaitan dengan korupsi. 

 

Korupsi menjadi salah satu isu kemanusiaan paling populer di dekade ini. Berdasarkan data dari Transparansi Internasional, skor indeks persepsi korupsi Indonesia berada pada angka  37 poin dengan penjelasan nilai 0 berarti sangat korup dan 100 sangat bersih. Skor ini berkurang 3 poin dari perhitungan di tahun 2019, yang mana Indonesia mendapatkan sebesar 40 poin. Apabila dibandingkan dengan seluruh negara di dunia,  Indonesia menempati urutan ke 102 dari 180 negara paling korup. Korupsi di negeri ini memang sudah merajalela bahkan telah menjadi suatu “budaya”. Berbagai upaya telah coba dilakukan pemerintah dalam menangani korupsi. Namun, tetap saja korupsi masih menjamur. Salah satu alasan mengapa orang berani melakukan tindak pidana korupsi yaitu karena kurangnya kesadaran pribadi tentang bahaya korupsi dan apa saja tindakan yang termasuk kedalam korupsi. Sebenranya, apa yang dimaksud dengan korupsi?

 

Apa itu Korupsi?

Korupsi, satu kata dengan banyak sekali makna buruk di dalamnya. Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus dan corrumpere. Dari bahasa Latin itulah muncul kata corruption, corrupt, dan corruptie, yang kesemuanya secara harfiah berarti “kebusukan, keburukan, ketidakjujuran”. Korupsi adalah perbuatan buruk menerima atau memberikan sesuatu yang bukan hak dan tempatnya dan akan menimbulkan kerugian terhadap orang lain, masyarakat, maupun negara. 

Korupsi berdasarkan pola terjadinya dibedakan dalam tiga wilayah besar yaitu, Pertama: penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh orang yang mempunyai suatu kewenangan tertentu yang bekerjasama dengan pihak lain dengan cara sogok-menyogok, suap, dan  mark up. Penyalahgunaan wewenang tipe seperti ini biasanya non politis dan dilakukan oleh level pejabat yang tidak terlalu tinggi kedudukannya. Kedua: penyalahgunaan wewenang dilakukan oleh pejabat yang mempunyai kewenangan istimewa dengan mengeluarkan kebijakan tertentu misalnya keputusan Walikota/ Bupati atau berbentuk peraturan daerah/ keputusan Walikota/ Bupati. Ketiga: Idiological Abuse of Power, hal ini dilakukan oleh pejabat untuk mengejar tujuan dan kepentingan tertentu dari kelompok atau partainya.

 

Bagaimana Pendidikan Agama menjadi Pondasi dalam mengatasi Korupsi?

Melihat kondisi Indonesia yang sudah memprihatinkan dalam kasus korupsi, disinilah pentingnya internalisasi pendidikan agama sejak dini. Semua agama menyepakati bahwasanya korupsi adalah tindakan yang sangat tercela dan merugikan banyak pihak. Internalisasi pendidikan anti korupsi dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan negara ini lebih transparan, maju dan bebas korupsi. Disini kemudian lembaga pendidikan dan keluarga mulai mengambil peran terkait bagaimana cara menginternalisasikan nilai-nilai anti korupsi kepada anak sedari kecil. Nilai-nilai anti korupsi sangat selaras dengan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh semua agama. Contohnya adalah bagaimana bisa memberikan banyak manfaat bagi sekitar, berperilaku baik kepada semua orang, bersikap jujur, memiliki pendirian dan sikap untuk selalu menegakan kebaikan dimanapun. Hal-hal tersebut adalah dasar nilai kehidupan yang sekaligus memberikan pemahaman serta penanaman pada anak dalam aspek nilai-nilai anti korupsi.

Sikap anti korupsi harus sudah ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini, Harapannya adalah dalam tumbuh kembang sang anak, nilai-nilai dan karakter yang baik sudah tertanam di dalam diri mereka. Terdapat beberapa hal yang menjadikan nilai serta pendidikan agama sebagai pondasi awal dalam mengawal korupsi.

  1. Disiplin
    Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan, dan konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya. Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan kebenaran menjadi pegangan utama dalam bekerja. Manfaat dari hidup yang disiplin adalah dapat mencapai tujuan hidupnya dengan waktu yang lebih efisien. Hal tersebut merupakan sebuah pembelajaran yang sederhana namun akan berdampak luar biasa kedepannya, seperti kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, begitu pula apabila kebiasaan buruk dibiarkan maka kejahatan yang lebih besar dapat dilakukan
  2. Tanggung Jawab
    Tanggung jawab adalah keadaan seseorang untuk berani menanggung resiko yang akan menimpanya. Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia.
  3. Adil
    Keadilan adalah penilaian dengan memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya, yakni dengan bertindak proporsional dan tidak melanggar hukum. Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah upayakan
  4. Sederhana
    Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya  tanpa berlebihan. Dengan gaya hidup sederhana, seseorang dibiasakan untuk tidak boros anak  dapat menerapkan nilai kesederhanaan dalam kehidupan sehari-har. Misalnya, dengan hidup sesuai dengan kebutuhan, tidak suka pamer kekayaan, dan sebagainya.

Korupsi merupakan masalah yang sifatnya sangat kompleks, sehingga memerlukan pemecahan secara sistematik dalam berbagai bidang. Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan dalam melakukan upaya pemberantasan korupsi, dengan mengintegrasikan nilai-nilai antikorupsi ke dalam maeri pembelajarannya dan dengan nilai-nilai yang ditanamkan dirumah oleh orangtua. Internalisasi nilai-nilai anti korupsi dapat menjadi solusi alternatif antisipatif dalam membentuk kesadaran anti korupsi anak melalui upaya integrasi dalam pembelajaran keagamaan.

 

Referensi

Taja, N dan Aziz, H. (2016). MENGINTEGRASIKAN NILAI-NILAI ANTI KORUPSI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH MENENGAH ATAS. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Bandung. 

https://media.neliti.com/media/publications/117196-ID-mengintegrasikan-nilai-nilai-anti-korups.pdf 

 

Sulistyawati, S, Nelvita Purba, Hardi Mulyono. (2017). PEMBUDAYAAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DI DALAM LINGKUNGAN KELUARGA BERBASIS PEMBENTUKAN KARAKTER. Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah, Medan. 

https://media.neliti.com/media/publications/279272-pembudayaan-pendidikan-anti-korupsi-di-d-213207e8.pdf

 

Photo by: Sixteen Milesout

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.