HeadlineLeadership ReviewRumah Antikorupsi: Pintu dan Jendelanya adalah Keteguhan Menjaga Nilai-Nilai Kehidupan

Avatar Pemimpin.IDJune 26, 2021136
pexels-pixabay-36717

Oleh: Noviana Janet

 

ABSTRAK│ Sebuah rumah pasti memiliki pintu dan jendela untuk menjadi penghubung antara penghuni rumah dengan lingkungan luar. Selain digunakan menjadi penghubung antara penghuni luar dengan lingkungan, pintu dan jendela yang tertutup juga menjadi filter atau penyaring dari lingkungan luar yang mengancam. Dalam konteks rumah antikorupsi, lingkungan luar adalah perumpamaan dari kegiatan koruptif yang biasa terjadi disekitar kita. 

 

Selayaknya pintu dan jendela yang bisa diatur untuk menutup dan membuka, penting bagi pemikiran setiap kita untuk bisa mengatur pemahaman dari lingkungan luar yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kehidupan. Pintu dan jendela yang baik akan mahir menolak “tamu” yang tidak baik demi menjaga rumah dan isinya tetap bersih. Pintu dan jendela tersebut merupakan penggambaran seorang yang memiliki keteguhan dalam menjaga nilai-nilai kehidupan demi menghindari perilaku koruptif. 

 

Sebuah rumah pasti memiliki pintu dan jendela untuk menjadi penghubung antara penghuni rumah dengan lingkungan luar. Pintu dan jendela selain digunakan menjadi penghubung antara penghuni luar dengan lingkungan, pintu dan jendela yang tertutup juga menjadi filter atau penyaring dari lingkungan luar yang mengancam. 

Selayaknya pintu dan jendela yang bisa diatur untuk menutup dan membuka, penting bagi pemikiran setiap kita untuk bisa mengatur pemahaman dari lingkungan luar yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kehidupan

 

Bagaimana Lingkungan Luar dapat Membuat Seseorang Melakukan Korupsi?

Lingkungan luar seringkali menjadi faktor seseorang dapat terjerumus dalam perilaku korupsi. Lingkungan yang permisif dan penuh permakluman membuat orang lebih terbuka dalam melakukan tindakan korupsi.  Lingkungan awalnya menganggap biasa kegiatan korupsi yang mungkin dianggap kecil hingga menjadi kebiasaan akan menyebabkan seseorang melakukan tindak korupsi yang sesungguhnya. Tindakan kecil seperti ketika seseorang menyontek dan dibiarkan, ketika seorang ibu tidak mengantri karena alasan terburu-buru kemudian diberikan permakluman, dan melakukan tindakan “titip absen” dengan alasan kegiatan organisasi adalah tindakan-tindakan koruptif yang dianggap biasa. 

Pemimpin.id telah melakukan wawancara dengan Founder Gerakan Saya Perempuan Anti-Korupsi, Ibu Judhi Kristantini. Ibu Judhi, begitu beliau biasa disapa menuturkan bahwa korupsi hanya bisa terjadi bila ada dua pihak. Ada yang memberi dan ada yang menerima. Seringkali kita menjadi pelaku tindak korupsi baik menjadi pemberi maupun penerima. 

Contoh yang sering terjadi adalah ketika seseorang mengurus surat di lembaga pemerintahan dan memberikan uang sebagai bentuk “terima kasih.” Hal tersebut adalah contoh tindakan korupsi yang dimaklumi oleh masyarakat. Ketika melakukan hal tersebut, kita akan merampas hak orang lain yang tidak melakukan hal yang sama. Mendapatkan pelayanan dan perlakukan yang sama adalah hak semua orang, tetapi hak itu tidak akan diterima orang tidak memberikan uang terima kasih seperti kita. 

Seringkali orang tidak memikirkan efek snowball atau berkelanjutan yang semakin membesar seiring berjalannya waktu dari tindak korupsi yang ada di lingkungan sosial. Korupsi bukanlah single-action atau tindakan yang semata-mata terjadi begitu saja. Melainkan banyak pre dan post-nya.

 

Apa yang Harus Kita Lakukan Sebagai Pemimpin Muda?

Sebagai pemimpin muda, kita haruslah menjadi role model atau menjadi teladan. Menolak sesuatu yang telah menjadi kebiasaan lingkungan adalah sesuatu yang sulit. Diperlukan banyak berlatih dan pemikiran kritis bahwa dampak dari memaklumi tindak korupsi akan sangat besar bagi masa depan. Ketika kita berseberangan dengan hal yang salah, kita berhadapan dengan banyak orang. Mungkin kita akan mendapatkan banyak penolakan ketika berpegang teguh dalam nilai-nilai antikorupsi. Namun, penting bagi kita sebagai pemimpin muda, penggenggam masa depan bangsa untuk membiasakan hal yang benar dan bukan membenarkan hal yang biasa. 

Sebuah rumah pasti memiliki pintu dan jendela yang menjadi penghubung antara penghuni luar dengan lingkungan dan menjadi filter atau penyaring dari lingkungan luar yang mengancam. Lingkungan luar seringkali menjadi faktor seseorang dapat terjerumus dalam perilaku korupsi. Lingkungan yang permisif dan penuh permakluman membuat orang melakukan tindakan korupsi.  Bagaimana lingkungan menganggap biasa kegiatan korupsi yang mungkin dianggap kecil hingga menjadi kebiasaan akan menyebabkan seseorang melakukan tindak korupsi yang lebih besar. Sebagai pemimpin muda, kita haruslah menjadi role model atau menjadi teladan. Menolak sesuatu yang telah menjadi kebiasaan lingkungan adalah sesuatu yang sulit. Namun, penting bagi kita sebagai pemimpin muda untuk membiasakan hal yang benar dan bukan membenarkan hal yang biasa. Mari kita para pemimpin muda untuk membiasakan hal-hal yang benar sesuai dengan norma dan hukum.

 

 

Referensi: 

Purnomo, D. (2019). SURVEI PERSEPSI GENERASI MUDA TERHADAP INTEGRITAS DAN ANTI KORUPSI TAHUN 2017. Cakrawala8(1), 85-110.
Darto, M. (2012). Perilaku Permisif Masyarakat Terhadap Korupsi di Indonesia. Jurnal Borneo Administrator8(3).

 

Photo by: Pixabay

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.