ArtikelRumah Antikorupsi: Cat dan Dekorasinya adalah Edukasi dan Sosialisasi

Avatar Pemimpin.IDJune 27, 2021628
231213213213

Oleh: Rizqa Farah Fillah

 

ABSTRAK I Korupsi bukanlah hal yang tabu lagi untuk kita dengar dan bahas. Tentu hal ini terjadi karena korupsi bukan hanya dapat dilakukan oleh pejabat tinggi saja melainkan setiap orang dapat melakukan tindak korupsi tanpa sadar. Memberantas tindak korupsi sampai ke akar adalah satu-satunya pilihan untuk membenahi masalah-masalah korupsi yang telah terjadi. Namun, pemberantasan korupsi tidak cukup dengan memberikan hukuman kepada pelaku korupsi. Kita juga perlu melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi sikap anti korupsi sebagai bentuk pencegahan kepada masyarakat.

 Berdasarkan data dari ICW (Indonesia Corruption Watch) diketahui bahwa sepanjang tahun 2020 terdapat 1.218 perkara korupsi yang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Total pelaku  korupsi  mencapai 1.298 orang pada tahun 2020. Artinya penting sekali untuk kita melakukan pemberantasan korupsi dan mengedukasi sikap anti korupsi. Masalah korupsi ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Maka, sosialisasi dan edukasi sikap anti korupsi menjadi kewajiban kita bersama sebagai warga negara Indonesia yang peduli akan hal ini. Kita wajib memberikan sosialisasi dan edukasi kepada keluarga, teman, bahkan orang sekitar. Pemberantasan korupsi dapat dimulai dari diri kita dan dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan.

 Lalu, bagaimana maksud dari Sosialisasi dan Edukasi Rumah Anti Korupsi? Mungkin jarang terdengar bahkan tidak pernah terdengar di telinga kita. Untuk itu, mari kita pelajari lebih dulu mengenai korupsi.

 

Apa itu Korupsi?

Dalam KBBI, korupsi merupakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Korupsi telah dianggap sebagai kasus luar biasa (extraordinary crime). Anggapan tersebut tentu mempunyai alasan. Menurut Penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, ada 3 alasan mengapa korupsi disebut sebagai kejahatan luar biasa, yaitu:

  1. Pertama, korupsi di Indonesia bersifat transnasional. Koruptor di Indonesia dapat mengirim uang ke negara lain. Contohnya, ada 40 persen saham milik orang Indonesia yang berada di Singapura sehingga koruptor Indonesia dapat melakukan pelarian dan akan sulit bagi Indonesia untuk meminta buronan koruptor yang sedang disana karena Singapura tidak mau meratifikasi perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
  2. Kedua, pembuktian korupsi di Indonesia membutuhkan usaha yang ekstra keras. Sebanyak 50 persen dari kasus korupsi adalah berbentuk suap. Secara hukum, pembuktian suap cukup sulit karena koruptor tidak mungkin menggunakan tanda terima atau kwitansi.
  3. Ketiga, dampak korupsi sangat luar biasa. Jika semisal dari sektor ekonomi, Indonesia membutuhkan dana dan berhutang mencapai Rp 1.227 triliun di luar negeri. Maka hutang tersebut harus dibayar pada tahun yang telah disepakati. Sedangkan akan muncul selalu hutang-hutang baru akibat kekurangan dana yang disebabkan oleh korupsi.

 

Apa itu Rumah Anti Korupsi?

Rumah Anti Korupsi adalah rumah seperti pada umumnya yang memiliki pondasi, tembok, pintu dan jendela, atap rumah, serta cat dan dekorasi. Dalam Rumah Anti Korupsi ini, pondasinya adalah pendidikan agama, temboknya adalah pendidikan karakter, pintu dan jendelanya adalah open-minded, atapnya adalah kebijakan pemerintah dan terakhir cat dan dekorasinya adalah sosialisasi dan edukasi.

 

Jadi, Cat dan Dekorasi Rumah Anti Korupsi Itu Apa?

Jika diibaratkan sebuah rumah, maka sosialisasi dan edukasi adalah cat dan dekorasi yang beragam. Dalam konteks Rumah Anti Korupsi, hal ini berarti sosialisasi dan edukasi tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan berasal dari ragam kedudukan, status, dan peran setiap orang. Cat dan Dekorasi Rumah Anti Korupsi sebagai daya tarik agar setiap orang bersedia masuk ke dalam Rumah Anti Korupsi dan menerapkan nilai-nilai anti korupsi.

Ada 4 tujuan penting dalam mensosialisasikan dan mengedukasi sikap anti korupsi, yaitu :

  1. Menanamkan mindset anti korupsi secara komprehensif kepada anak usia dini
  2. Memberikan pengetahuan mengenai bahaya, dampak serta kerugian dari tindakan korupsi
  3. Menjadi intelijen bagi diri sendiri dan memiliki integritas yang tinggi
  4. Memiliki wawasan pengetahuan umum yang luas

 

Adapun menurut Kak Givo, Researcher di Universitas Indonesia Center for Study of Governance and Administrative Reform (UI-CSGAR), sosialisasi dan edukasi anti korupsi tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi bagaimana masyarakat memahami dan dapat merubah karakter dari dirinya sendiri. Selanjutnya, dapat melakukan perlawanan dan menghindari tindakan korupsi serta berhasil melibatkan orang-orang lainnya dalam pemberantasan korupsi.

Sumber gambar : dokumen Pemimpin.id

 

Pemberantasan korupsi sangat penting, penindakan dan pencegahan di dalamnya terdapat campaign dan sosialisasi. Aspek anti korupsi juga harus dengan pendidikan anti korupsi. Bila masyarakat tidak paham dengan isu korupsi dan transparansi maka akan sulit memahami apa pengertian dari korupsi itu sendiri.

-Givo Aulia-

 

Bagaimana Membangun Kesadaran Anti Korupsi?

Mungkin setiap kita sudah mengetahui bahwa korupsi merupakan tindakan yang negatif. Bahkan sebagian lainnya, sangat membenci koruptor di Indonesia hingga ramai mengumbar ujaran kebencian di media sosialnya. Tapi, apakah kita sudah berpartisipasi membangun kesadaran masyarakat dalam menyikapi korupsi di Indonesia? Bagaimana cara agar kita dapat membangun kesadaran masyarakat dalam membangun sikap anti korupsi dengan efektif dan efisien?

Berikut ini adalah tips dari kak Givo untuk dapat memberikan sosialisasi dan edukasi agar membangun kesadaran masyarakat terhadap sikap anti korupsi:

  1. Lihat target audiens.
    Dengan melihat terlebih dahulu audiens yang akan kita berikan sosialisasi maupun edukasi anti korupsi, kita akan dapat menyesuaikan bagaimana cara penyampaian yang tepat dan dapat diterima.
  2. Tidak perlu memandang bahwa isu korupsi adalah isu yang berat.
    Tarik isu korupsi kepada isu-isu yang dialami sehari-hari, Kak Givo memberikan contoh isu menyontek di kampus, isu pembuatan SIM dan isu pembuatan KTP.
  3. Berikan audiens pemahaman bahwa isu korupsi merupakan isu sehari-hari yang mudah kita temukan.
    Jangan lihat isu level tinggi, tapi lihatlah isu di kehidupan sehari-hari. Berikan contoh-contoh sederhana kasus tersebut.
  4. Berikan contoh aksi.
    Beri contoh action apa yang dapat dilakukan audiens serta bagaimana mereka dapat merubah perilaku tersebut. 
  5. Semua orang bisa memberikan Sosialisasi & Edukasi Anti Korupsi.
    Sesuai dengan basic keilmuan masing-masing, dimulai dari hal yang paling kecil seperti isu-isu yang kita ketahui. Semua dapat punya andil dan peran untuk melakukan pencegahan korupsi dengan caranya masing-masing.

Untuk dapat menjalankan tips diatas, tentu memerlukan konsisten dan komitmen terhadap diri sendiri. Kak Givo memberikan pesan kepada kita semua yang akan menjalankan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, dengan:

  1. Tetap lakukan banyak edukasi dan sosialisasi, dengan hal-hal yang kecil bisa memberikan dampak yang besar
  2. Jangan patah semangat
  3. Memperlihatkan nilai-nilai anti korupsi pada diri masing-masing
  4. Harus lebih peka pada isu korupsi dan harus menjadi role model bagi lingkungan luar

 

Kak Givo telah berkecimpung dalam gerakan anti korupsi selama kuliah. Pada tahun 2017, Kak Givo menjadi Ketua Korps Mahasiswa Anti Korupsi Universitas Indonesia (KOSMIK UI) yang merupakan salah satu wadah terbaik bagi mahasiswa dalam belajar dan terlibat gerakan anti korupsi. Hingga saat ini, Kak Givo membagikan pengalamannya mengenai tantangan yang banyak ia rasakan seperti kesulitannya dalam penyampaian kepada masing-masing kalangan. Ketika memberikan sosialisasi kepada mahasiswa, Kak Givo merasa perlu memberikan materi dengan diskusi topik-topik terbaru. Kak Givo merasa harus mampu memahami topik yang audiens minati. Selain itu, dalam penyelenggaraan sosialisasi tentunya akan selalu ada hambatan dengan teknis penyelenggaraan. Tetapi, itu semua tidak seberapa jika dibandingkan dengan respon dari peserta yang sangat antusias dan sebagian besar peserta tertarik akan isu-isu terbaru mengenai topik anti korupsi. Respon audiens inilah yang dapat menguatkan tujuan dan harapan bagi kita akan berkurangnya kasus-kasus korupsi di masa depan kelak. 

 

Referensi

Guritno, Tatang (2021). ICW: Sepanjang 2020 Ada 1.298 Terdakwa Kasus Korupsi, Kerugian Negara Rp 56,7 Triliun. Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2021/04/09/18483491/icw-sepanjang-2020-ada-1298-terdakwa-kasus-korupsi-kerugian-negara-rp-567 

Mega, Mustika (2020). Jurnal Sosialisasi Penanaman Mindset Pendidikan Anti Korupsi Pada Anak Usia Dini. Volume 06, Nomor 02, Juli-Desember 2020, Halaman 123 -146. https://journal.unpak.ac.id/index.php/palar/article/view/2340/pdf

Ramadhani, Mutia (2012). Inilah 3 Alasan Mengapa Korupsi Disebut Kejahatan Luar Biasa. Republika.co.id. https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/12/02/23/lztpqj-inilah-3-alasan-mengapa-korupsi-disebut-kejahatan-luar-biasa 

 

Photo by: Pixabay

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.