InspirasiRudy Afandy Belajar Kepemimpinan dari Situasi Tersulit

Redaksi Pemimpin.IDOctober 30, 201940
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/10/Rudy-Afandy-HR.png

Rudy Afandy akhirnya menemukan dunianya di bidang Human Resources (HR) setelah menapaki setiap langkah di masa hidupnya yang penuh dengan cerita. Pria yang sekarang menjabat sebagai Chief Human Resources Officer PT XL Axiata Tbk ini mulanya berkarier di bidang keuangan. Kendati memiliki rekam kerja yang baik di bidang keuangan, Rudy tak lantas puas. Dia terus mencoba untuk menantang dirinya.

Hingga suatu ketika, Rudy dihadapkan pada situasi tersulit yang memaksanya untuk terus bertahan. Pembelajaran yang paling berharga menurutnya adalah ketika dia ditugaskan oleh perusahaan barunya (bukan lagi keuangan), untuk menempati posisi HR di India.

Sosok yang pernah menempuh studi di IPMI Business School ini berusaha untuk tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai dan menikmati setiap prosesnya. Walhasil, Rudy bisa mengambil setiap makna yang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Pembelajaran seperti apa yang Rudy dapat dari pengalamannya di setiap karier yang berbeda itu? Bagaimana dia mengasah kepemimpinannya dalam keadaan yang sulit dan terdesak? Tim PemimpinID berkesempatan mengunjungi kantor XL Axiata untuk mendengarkan cerita dan pandangan Rudy tentang kepemimpinannya.

P : PemimpinID
R : Rudy Afandy

P : Bagaimana keluarga Pak Rudy mengambil peran dalam mendukung Bapak sampai saat ini?
R : Sebenarnya saya lahir dari keluarga yang biasa saja, tapi alhamdulilah orang tua saya selalu menyekolahkan saya di sekolah-sekolah terbaik. Tapi di sekolah seperti itu tetap ada dua konsekuensinya. Di satu sisi memang guru-gurunya bagus, tapi di sisi lain sekolah seperti itu selalu diisi sama anak-anak borju. Jadi saya merasa minder, teman yang lain bisa pakai sepatu bermerek, ada yang anak pengusaha, anak pejabat.

Tapi alhamdulilah, dengan sekolah yang bagus itu, saya bisa masuk perguruan tinggi yang saya inginkan. Saya pikir orang tua saya bukan tipe orang yang mudah memberikan apresiasi. Dari situ, motivasi saya untuk berkembang jadi lebih kuat dan selama di perguruan tinggi, saya lebih confident karena selama kuliah, saya ikut organisasi, komunitas yang senang belajar dan juga religiusitas. Saya juga bertemu dengan tokoh-tokoh penting di mana saya bisa belajar banyak dari mereka.

P : Bagaimana awalnya Bapak mengawali karier?
R : Saya mengawali karier di Astra. Waktu itu saya diberi proyek yang prestigius dan tough selama 6 bulan. Atasan saya Rini Soewandi. Zaman dulu belum ada laptop dan proyeknya terlalu besar buat saya yang saat itu sebagai MT (Management Trainee). Proyek saya nerbitin right issue, ngeluarin saham sampai 650 miliar. Sementara Astra punya 900 anak perusahaan yang harus diaudit secara legal finansialnya. Kemudian ada juga yang namanya due diligence dengan para underwriter. Sangat stressful dan kerjaan enggak bisa dibawa pulang ke rumah karena memang enggak pegang laptop. Pulang jam 3 pagi, lalu jam 7 sudah di kantor lagi. Itu first experience, tapi really stretching myself.

P : Pengalaman menarik apa yang Bapak dapatkan ketika bergelut dengan proyek tersebut?
R : Atasan saya waktu itu lagi cuti hamil, jadi koordinasi saya langsung ke Bu Rini karena proyek ini memang prestigius dan berhubungan langsung dengan para board. Di situ kemudian saya berkembang dengan individu-individu Astra yang punya strong character dan strong leadership.

P : Apa yang kemudian Bapak lakukan setelah merasa cukup berkembang di bidang finance?
R : Dua tahun di Astra saya merasa bagus sekali. Tapi kemudian saya melihat teman-teman saya yang bekerja di investment sangat berkelas. Mereka sudah punya Volvo baru. Saya berpikir, saya bisa memberikan yang terbaik di bidang keuangan, jadi saya percaya diri untuk coba ke salah satu investment.

Ternyata, setelah beberapa bulan, saya enggak perform. Melihat itu, country leader saya yang orang Singapura bilang, ‘kalau enggak perform, lo cabut aja.’ Kejadian itu membuat saya berefleksi hingga menyadari kalau ternyata dunia keuangan banyak macamnya, sementara investment dan analyze itu sangat deep.

P : Keputusan apa yang Bapak ambil setelah tahu bahwa Bapak tidak perform di bidang investment?
R : Saya coba melamar ke Unilever. Waktu itu saya minta posisi marketing karena saya pikir Unilever itu Marketing Company. Tapi mereka bilang supaya saya di HR (Human Resources). Setelah beberapa tahun, saya berpikir bahwa HR is my area. Karier saya mulai bagus. Saya pernah dipromosikan 3 sampai 4 kali dalam 4 tahun. Tapi pernah juga saya stuck selama 6 tahun di posisi GM (General Manager), jadi emang enggak selamanya kayak gitu. Bahkan di awal, saat saya belum ada pekerjaan, saya lihat teman-teman saya di Unilever yang sudah masuk duluan itu sudah jadi manajer. Ketika melihat posisi mereka yang sudah bagus, sempat membuat saya merasa overthinking.

P : Apa yang kemudian membuat Bapak lebih percaya diri untuk fokus mengejar karier di Unilever tanpa terganggu melihat teman-teman sudah punya posisi yang cukup bagus?
R : Yang saya lihat, ketika saya flashback, saya lebih develop bukan dari posisi. Saya berpikir, saya akan jauh lebih bisa berkembang kalau saya enggak mikirin posisi. Kalau kita melihat posisi orang lain, itu berarti kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Nantinya, ketika posisi sudah didapat, ya kita akan menganggap proses belajar sudah selesai.

Selama 6 tahun saya ada di posisi GM, teman saya bahkan sudah menjadi direktur. Jadi daripada mengejar posisi, lebih baik kita fokus pada challenge selanjutnya yang akan kita hadapi. Kalau sekarang, misalnya kita sudah membawahi 200 orang di HR, yang harus dipikirkan selanjutnya adalah apa yang harus kita lakukan untuk dapat membawahi 2.000 orang, bagaimana strategi dan kapasitas yang kita miliki. It’s all about the leadership. You actually compete with yourself. Sukses bukan tentang posisi Anda, tetapi tentang you achieve your goal, your project atau segala macam.

P : Kalau begitu, apa yang kemudian membedakan berhasil dan tidak berhasil, Pak?
R : Bedanya berhasil atau enggak berhasil itu sebetulnya cukup satu langkah. Kita enggak tahu satu langkah di depan itu apa. Jadi harus melangkah terus. Jangan – jangan saat kita berhenti melangkah, ternyata langkah kita selanjutnya itu sukses kita. Tugas kita itu berusaha bukan untuk berhasil, bekerja bukan untuk kaya, belajar bukan untuk pintar. Ini soal pengalamannya, bukan hasilnya. Ketiga, when you have tough time, actually you learn.

P : Bapak perform saat di Unilever sehingga Bapak diberi kesempatan untuk memimpin di bidang yang sama, tetapi di India. Boleh diceritakan juga, bagaimana pengalaman Bapak saat di sana? Apa yang menantang dan bagaimana Bapak menghadapi itu?
R : Ya, I learn a lot dalam situasi yang sulit. Jadi kalau menurut saya, my best experience itu justru ketika saya di India selama 13 bulan. Itu baru pertama kalinya saya keluar negeri dalam waktu yang cukup panjang. Tapi ketika saya dikirim ke India, boleh dibilang itu karena saya perform di Indonesia.

Saat di India, kultur di perusahaan itu sangat demanding dan India itu bukan negara yang gampang menerima expat. Mereka juga sangat kompetitif. Ketika ada teman yang sudah dipromosikan, dia juga menuntut untuk dipromosikan, padahal levelnya sudah GM. Dalam sehari bahkan bisa 4 hingga 5 orang yang menuntut untuk dipromosikan.

Saya yang awalnya merasa sudah hebat gitu, tiba-tiba merasa jadi nothing di sana. Saya merasa ingin segera pulang karena sudah enggak tahan. Tapi saya coba untuk bertahan, menjalani dulu, sampai akhirnya saya belajar banyak. Ada alasan hingga saya bisa menerima itu. Saya melihat, kalau saya punya banyak jaringan kayaknya bagus. Saya berpikir, ketika saya punya kemampuan networking yang bagus, paling enggak saya bisa menginfluence mereka.

P : Apa yang paling membuat Anda belajar dari pengalaman di sana?
R : Dari mereka saya sangat belajar tentang bagaimana melakukan presentasi secara artikulatif dengan baik. Presentasi yang bagus harus diikuti oleh sebuah performance yang bagus. Di situ saya merasa tough, karena harus membuktikan performance yang juga bagus. Akhirnya suatu ketika mereka menyenangi kinerja saya sebagai HR. Mereka melihat bagaimana saya mau mendengarkan ketika ada orang yang sedang bicara. Di sana, kalau ada yang bicara, yang lain ikut bicara sementara saya diam. Padahal ketika diam, saya sebenarnya sedang berpikir, tetapi mereka menganggap saya mendengarkan dengan baik.

Saya juga melihat bagaimana cara orang-orang di sana membangun team work, yaitu melalui brainstorming. Kalau di Indonesia kan lewat games, jadi saya ajak mereka untuk fun. Dari situ saya lebih percaya diri dan mulai dipandang. Tapi setelah 13 bulan, saya harus kembali ke Indonesia.

P : Apa pesan Bapak untuk calon pemimpin Indonesia?
R : Intinya, when you in tough situation, stay there, jangan lari karena you will never know which one is your step yang memang membuat jalan keluar. Learning itu kebanyakan dari experience. The tough experience is the biggest learning.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019