InspirasiResep Banting Setir Karier yang Manjur ala Pimpinan LEGO Group

Redaksi Pemimpin.IDDecember 18, 201958
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/Dyah-Oetari-1280x724.jpeg

Iya kamu, kamu yang lagi bingung. Bekerja sesuai bidang pendidikan atau banting setir ke dunia yang totally different dari bangku kuliah. Tips berikut ini bisa jadi solusinya!

Pembelajar yang tangguh, begitulah gambaran sosok Dyah Oetari, perempuan yang pernah berkarier di salah satu perusahaan sepatu terbesar di dunia. Saat ini, Dyah menjabat sebagai salah satu pimpinan di Lego Group, Asia Pasifik Channel, sebuah perusahaan yang bergerak di permainan balok susun.

Kemauan untuk belajar dan mengikuti proses yang dinamis secara tidak langsung ikut membentuk karakternya menjadi pribadi yang tangguh. Sebagaimana diketahui, industri ritel bukan industri yang stabil. Persaingan pasar global membuat industri terasa begitu dinamis.

Menariknya, perempuan yang juga penggerak sosial ini punya latar belakang pendidikan literatur yang jauh berbeda dengan bidang yang digelutinya saat ini.

Bagaimana cerita Dyah Oetari mengambil keputusan untuk banting setir dan berkecimpung di dunia ritel?

PemimpinId berkesempatan menemuinya untuk mengetahui bagaimana proses belajar yang dia lakukan dalam memimpin perusahaan.

Simak yuk tips dan strategi alumni Universitas Indonesia ini dalam beradaptasi dan bertahan, tak hanya di bidang yang baru, tetapi juga lingkungan yang berbeda. Tentu ini sebuah hal yang menarik untuk ada di dunia baru dan belajar dari nol.

– – –

Kalau boleh tahu, apa nih Bu yang membuat Ibu bertahan di industri ritel yang sangat dinamis sampai saat ini, apalagi Ibu punya latar belakang akademik literature?

Mungkin jawabannya adalah apapun bisa. When there is a will, there is a way. Kalau memang ada kemauan selalu ada jalan untuk belajar. Tapi apa yang membuat sampai 20 tahun saya tetap bertahan di ritel adalah, ritel itu dari hari ini dan hari besok, enggak ada yang sama.

Itu membuat phase pekerjaan kita berbeda. Apa yang diekspektasikan hari ini, belum tentu sama dengan hari besok. Bagi saya, itu semacam self development. Self development itu bukan lewat kursus atau training, tetapi dari masalah atau dinamika pekerjaan sehari-hari.

Selama berkecimpung di ritel, apa yang ibu rasakan tentang industri ini?

Ritel itu glamour kalau dari luar. Tapi kalau kita masuk ke dalam industrinya, itu sebenarnya sangat konservatif. Jadi ritel itu kan transaksi jual beli, ya. Makanya kemudian waktu Amazon.com masuk, it distracts the whole ritel environment.

Kelebihan Amazon.com adalah mereka bisa melihat dengan data, apa yang biasa orang beli. Jadi antara suplai dan demand itu akan ketemu terus. Di toko-toko fisik (offline), teknologi-teknologi itu sudah ada, tapi belum banyak dipakai oleh perusahaan atau brand.

Belakangan, banyak brand yang kemudian berinovasi dengan experience. Artinya, anak muda sekarang pergi ke toko, they are not buying the goods or shoes, they are buying the experiences and services.

Itu Nike salah satu contohnya. Lalu part of experiences itu adalah memasukkan omni channel, di mana stok di toko bisa di-supply dari platform digital.

Dari semua pengalaman itu, bagaimana Ibu memaknai sebuah kepemimpinan?

Berdasarkan pengalaman saya, kepemimpinan itu sebuah kemampuan untuk mengembangkan orang-orang di sekitar kita. So, it’s not about you. It’s about the people that work together with you.

Pertanyaan yang selalu saya lontarkan ke tim saya pada saat kita berdiskusi tentang sesuatu adalah what’s next? Jadi, di situ saya ingin setiap anggota bisa membangun capabilities, capacities, apakah itu dari segi pikiran, strategi, eksekusi, dan lain-lain.

Baca juga : Rahasia Pimpinan LEGO Group dalam Merekrut Karyawan

Adakah sosok yang menginspirasi Ibu dalam hal kepemimpinan?

Saya pernah bekerja untuk sebuah perusahaan sepatu terbesar di dunia. Di situ ada satu former atasan saya yang menurut saya sampai hari ini, sejak saya berkarier 20 tahun yang lalu, itu masih menjadi panutan saya.
Beliau ini goalnya jelas, visinya jelas. Dan bagaimana sampai ke goal itu, dia menyerahkan kepada kita sehingga kita bisa dengan leluasa membangun diri kita untuk mencapai goal tersebut.

Apa pesan Ibu untuk anak muda Indonesia?

Saya bisa dari literature ke ritel karena ada keingintahuan. Saat saya bergabung di perusahaan ritel pertama, posisi saya di merchant yang lebih banyak berhubungan dengan bahan-bahan daripada komputer dan kertas-kertas.

Sebelum masuk ritel, saya sempat jadi guru. Saya berani memutuskan untuk digaji setengah dari gaji yang sudah saya dapatkan sebelumnya. Asalkan saya bisa belajar ini. Itu yang jadi motivasi saya. Rasa ingin tahu jauh lebih bisa memotivasi saya ketimbang yang lain.

– – –

Ah, pesan itu terasa begitu mengena bagi kami yang mendengarkannya secara langsung. Kami bahkan sampai tidak sadar, bahwa waktu sudah banyak berlalu. Perempuan yang saat ini berdomisili di Singapura itu juga mengingatkan kami dan para pembaca untuk terus menjadi pribadi yang punya rasa ingin tahu yang tinggi.

“Jangan merasa sudah enak dan sudah mengerti tentang apa yang dilakukan sekarang. It will not help you to get to the next level,” ujarnya di akhir percakapan kami.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019