HeadlineLeadership ReviewRamainya Fenomena Ghosting: Bisa Terjadi di Organisasi Juga

Avatar Pemimpin.IDApril 10, 2021769
pexels-pixabay-273238

Noviana Janet

ABSTRAK | Ghosting adalah sebuah praktik mengakhiri hubungan dengan cara menghilang dan menghentikan semua kontak komunikasi dengan pasangan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Selain ramai di dunia kencan, perilaku menghilang tanpa kabar ini juga mulai merambah ke dunia organisasi. Bagaimana ghosting di organisasi bisa terjadi? Pemimpin.id berkesempatan untuk wawancara ketua komunitas Wikilead Indonesia, Rachmadea Aisyah, untuk memberikan pandangannya mengenai fenomena ghosting di organisasi.

Apa Itu Ghosting di Organisasi?

Perilaku ghosting telah bergerak melampaui dunia kencan dan hal ini sekarang terjadi pada lingkungan organisasi. Kondisi serba online pada masa pandemi menyebabkan anggota organisasi lebih mudah meng-ghosting­ dibandingkan semasa serba offline. Keadaan serba daring menyebabkan anggota organisasi yang ghosting dapat menghilang tiba-tiba tanpa khawatir akan bertemu dengan salah satu anggota atau bahkan pemimpin organisasi.

Ghosting di organisasi sendiri didefinisikan dengan perilaku anggota organisasi yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkan kewajibannya di tengah-tengah masa tugas. Mereka berhenti dalam perannya di organisasi tanpa pemberitahuan. Hal ini dapat berdampak bagi pemimpin organisasi maupun organisasi itu sendiri.

Menghilangnya anggota organisasi dapat berdampak bagi pemimpin organisasi. Menurut Rachmadea Aisyah, Ketua Umum Wikilead Indonesia dalam wawancaranya bersama Pemimpin.id, efek ghosting akan membuat rencana kerja organisasi menjadi berantakan. Pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh anggota tersebut akan terbengkalai dan membuat rencana kerja organisasi menjadi kacau. Selain itu, ghosting-nya anggota organisasi memunculkan perasaan gagal di diri pemimpin. Pemimpin akan merasakan dirinya kurang kompeten  dalam memimpin dan mengayomi organisasi.  

Faktor Penyebab Perilaku Ghosting

Perilaku ghosting di organisasi disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya perasaan kehilangan sense of direction atau kehilangan arah dan tujuan di organisasi yang sedang dijalani.  Namun, kondisi kehilangan sense of direction tersebut berbeda dengan kondisi lelah dalam organisasi.

Menurut Mbak Dea, sapaan Rachmadea Aisyah, anggota tim yang lelah dengan organisasi akan lebih terbuka dan bercerita dengan anggota tim lain. Ini berbeda dengan anggota yang telah kehilangan arah dan tujuan di organisasi. Anggota yang kehilangan arah dan tujuan akan cenderung menarik diri dan menghilang. Selanjutnya, faktor penyebab perilaku ghosting lainnya adalah anggota organisasi yang merasa sudah tidak lagi dapat memberikan dan menerima manfaat dari organisasi. Penyebab lainnya adalah masalah personal dan berada di situasi yang tidak memungkinkan untuk berpamitan. Situasi ini di antaranya terjadi karena, misalnya, sikap  pemimpin tim yang terkesan cuek dan galak. Anggota organisasi biasanya jadi merasa segan untuk terbuka dan memilih menghilang.

Apa yang Harus Dilakukan bila Kita Di-Ghosting Anggota Organisasi?

Tentu saja, sesuai dengan pengalaman dari Mbak Dea, langkah paling pertama yang perlu diambil untuk menyikapi anggota yang hilang-hilangan adalah memastikan bahwa ia masih memiliki visi yang sama dengan organisasi.

Penting untuk memikirkan hal positif terlebih dahulu dan melakukan itikad baik terhadap anggota yang berpotensi meng-ghosting tersebut. Mintalah teman satu divisinya untuk berbicara dan menanyakan keluhan yang dirasakan. Jangan langsung menegur anggota tersebut karena akan membuatnya semakin merasa tidak nyaman. 

Bila hal tersebut tidak berhasil, barulah minta kepala divisi atau atasannya untuk turun tangan. Namun, apabila anggota tersebut tidak dapat terkejar, alangkah baiknya dilepaskan dan delegasikan tugasnya ke anggota yang lain. Namun, tetap ingat untuk melakukannya tanpa menambah beban dan memberatkan anggota lain.

Tips agar Tidak Di-Ghosting Anggota Organisasi
  1. Peka terhadap kualitas hubungan interpersonal
    Sebelum di-ghosting, ada baiknya mencegahnya dengan melihat kembali relasi antara diri sendiri sebagai pemimpin dengan anggota organisasi yang berpotensi men-ghosting. Kilas balik tersebut dapat menjadi ajang memperbaiki relasi dengan anggota tersebut maupun dengan anggota organisasi lainnya.
  2. Pastikan ghosting tersebut bukan karena beban kerja yang terlalu banyak
    Jangan sampai memberatkan anggota organisasi. Tugas dan deadline-nya haruslah menyesuaikan dengan kesibukan anggota organisasi. Caranya adalah dengan melakukan kesepakatan dengan anggota tersebut agar tugas dan deadline tidak menjadi beban.
  3. Jaga alur komunikasi
    Menjaga komunikasi dengan anggota dalam ekosistem organisasi. Bangun organisasi yang memiliki rantai komunikasi yang baik melalui kepala divisi dan anggota lainnya.
  4. Bersikap perhatian
    Menjadi pemimpin yang suka memberikan perhatian. Layaknya hubungan pacaran, dalam organisasi perhatian merupakan kunci utama. Seorang pemimpin organisasi haruslah memberikan perhatian kepada seluruh anggota. Bila tidak mampu dilakukan, pemimpin bisa memberikan perhatian kepada kepala divisi dan kepala divisi akan memberikan perhatian kepada anggotanya. Dengan begitu kondisi akan ada rantai perhatian yang baik.

 

 

Referensi: 

PeopleScout. (2018). Ghosting in the Workplace: Why it Happens and What to Do About It. [online] Available at: https://www.peoplescout.com/insights/ghosting-in-the-workplace/ [Accessed 22 Mar. 2021].

 

Photo by: Pixabay

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.