InspirasiRahasia Pimpinan LEGO Group dalam Merekrut Karyawan

Redaksi Pemimpin.IDDecember 17, 2019478
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/happy-business-colleagues-brainstorming-WPZSJFR-1280x854.jpg

Pilih bekerja sesuai passion atau mengikuti kebutuhan industri? Kegalauan yang ada pada diri ini diam-diam juga menjadi perhatian para pimpinan perusahaan, lho. Dyah Oetari, Pimpinan LEGO Group untuk Asia Pasific ini memberikan tips dalam meningkatkan potensi diri.

“Saya merasa banyak anak muda berpotensi di luar sana, tetapi tidak mendapat kesempatan yang sama. Itu menurut saya masalah yang paling besar,” ungkap alumni Universitas Indonesia ini kepada PemimpinId di sebuah kesempatan.

Sebagai sosok yang berkecimpung di dunia ritel, Dyah tahu bahwa industri ini membutuhkan cukup banyak SDM untuk menjalankan bisnis perusahaan. Lalu SDM seperti apa yang biasanya dilirik oleh banyak perusahaan?

Sebelum masuk lebih dalam, Pemimpin Muda perlu tahu, persoalan SDM ternyata jadi tantangan terbesar perusahaan, lho. Dyah sendiri mengatakan, sebagus apapun rencana bisnis yang dibuat oleh perusahaan, kalau SDM yang terlibat didalamnya tidak memiliki motivasi dalam bekerja, itu tetap akan jadi persoalan.

“Bisnis bisa bermacam-macam, produk bisa lain-lain, tetapi yang membuat itu semua berjalan adalah the team. Jadi kalau ditanya challenge yang paling besar bukan mencapai target, tetapi about how to make sure that semua bekerja sama untuk achieving the target,” kata founder Komunitas Langkah Pertama ini.

Perempuan yang sudah delapan tahun berdomisili di Singapura ini pun membagikan apa yang biasanya jadi pertimbangan perusahaan dalam merekrut tenaga kerja. Bagi Dyah, pihaknya merekrut orang karena dia ingin belajar dari orang tersebut.

Dyah Oetari (tengah)/ Sumber : Dok. Pribadi

“Saya suka menempatkan orang di posisi yang di luar dugaan, misal orang ini enggak punya background digital, tetapi orang ini punya passion di certain things. Saya beri kesempatan kepada dia untuk belajar hal baru,” ungkapnya.

Banyak perusahaan yang senang memberikan tantangan kepada setiap karyawannya. Tujuannya, agar orang tersebut tidak cepat puas dengan potensi yang mereka miliki, tetapi selalu memiliki rasa haus untuk belajar.

“Kembali lagi, either you make it or you break it. Ini menurut saya adalah satu titik di mana seseorang mau belajar lagi atau sudah nyaman dengan yang kemarin. What you have done, doesn’t mean anything. Tapi jika kamu ingin really develop yourself, this is your chance. Prove it.

Bagaimana bila kesempatan yang terbentang -kita anggap- bukan merupakan passion kita? Akan kah tetap kita jalani atau justru kita biarkan lewat begitu saja?. Bagi Dyah, passion bukan berarti sesuatu yang disukai atau bakat seperti melukis, menyanyi atau menari. Passion lebih dari itu.

‚ÄúPASSION IS ENERGY. FEEL THE POWER THAT COMES FROM FOCUSING ON WHAT EXCITES YOU”

– Oprah Winfrey.

Passion atau gairah adalah penggerak yang tak nampak namun terasa sekali dalam perkembangan kinerja dan motivasi seseorang. Membuat seseorang mau berbuat lebih dalam mencapai cita dan potensi terbaik dalam dirinya.

Teladan penerapan bekerja dengan passion dapat kita lihat dari kerja keras para atlet yang sedang berlaga di momen SEA Games 2019 di Filipina. Tanpa adanya passion, mereka bisa saja mundur dari latihan yang sangat keras berjam-jam setiap hari hingga saat pertandingan.

Tentu kita tidak harus menjadi atlet dalam menumbuhkan passion kita. Menyelesaikan setiap tantangan dengan maksimal, baik untuk sesuatu yang kita sukai ataupun tidak, sejatinya itu adalah passion. Dan, jiwa penuh semangat belajar dan meningkatkan potensi inilah yang banyak dicari para pimpinan perusahaan.

Baca Juga : Resep Banting Setir Karier Yang Manjur ala Pimpinan LEGO Group

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020