HeadlineJurnalPemimpin, Selamat Datang ke Normal Baru

M. Rahmat YanandaJune 15, 20201115
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/06/tips-pemimpin-new-normal-anak-sma-osis-1280x853.jpg

Gagasan efek kupu-kupu (butterfly effect) yang menjelaskan perubahan kecil berasal dari suatu tempat secara non-linear yang kemudian dapat membuat perbedaan besar mampu membantu kita memahami krisis global yang bermula dari virus yang berkembang dari Wuhan, China. Sampai saat ini,  pandemi yang ditemukan Desember 2019 tersebut telah menyebabkan  7,731,662 kasus dengan 428,210 korban meninggal. Para pemimpin di semua sektor menjadi panik, gugup, dan kebingungan menghadapi kondisi chaos tersebut. Apalagi anti virus belum ditemukan. Pandemi memunculkan realitas baru yang memaksa para pemimpin harus mengontruksi ulang tatanan lama  menuju ke tatanan baru, yang populer dengan sebutan new normal, dengan kepemimpinan yang relevan.

Normal Baru (New Normal)

Kehadiran sesuatu yang baru terasosiasi kuat dengan sesuatu yang lama. Asosiasi tersebut dapat menghubungkan (menguatkan) atau memisahkan (membedakan) suatu kondisi  yang berkesinambungan atau dapat saja terputus. Normal baru (new normal) adalah suatu kondisi yang membedakannya dengan normal lama (old normal). Pemakaian frasa “normal baru” menguat sejak munculnya pandemi disebabkan penyebaran Covid-19 ke seluruh dunia. Normal baru merujuk kepada suatu kondisi melandainya kurva penularan walaupun belum ditemukan vaksin sehingga manusia harus hidup dengan tatanan baru untuk mengantisipasi terpapar dan terinfeksi virus.

Tetapi frasa “normal baru” bukan hanya merujuk tatanan baru berhadapan dengan pademi Covid-19. Frasa tersebut telah digunakan jauh sebelum pandemi yang bermula di Wuhan, China, beberapa bulan lalu. Sosiolog Amitai Etzioni (2011) menjelaskan, normal baru merujuk kepada pola konsumsi warga Amerika Serikat yang berubah akibat krisis ekonomi di 2008. Warga AS menjadi lebih hemat yang menjadi kenormalan baru dalam kebiasaan konsumsi. Bahkan ketika mereka memiliki kesempatan kembali ke gaya hidup pra resesi (old normal), warga tidak kembali ke kebiasaan konsumsi lama. Normal baru juga terasosiasi kuat dengan penurunan pertumbuhan ekonomi China yang merosot ke 6-7 persen. Penurunan pertumbuhan hingga bertahan di 6-7 persen terjadi sejak 2012  setelah sekian lama China menikmati  pertumbuhan ekonomi dua digit (di atas 10 persen), yang merupakan normal lama (old normal) (Zhang dkk.,  2017).

Terkait pertumbuhan ekonomi, ternyata Indonesia juga pernah terasosiasi dengan normal baru di mana ekonomi Indonesia macet di angka 5 persen sejak 2015 yang menjadi kenormalan baru setelah  sebelumnya ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen (old normal) (Resosudarmo dkk.,  2018). Di samping normal baru terasosiasi dengan kejadian di sektor ekonomi, ternyata normal baru juga muncul di sektor teknologi, khususnya transformasi digital. Revolusi digital telah menjadi pusat perubahan  perspektif, proses, perubahan organisasi, dan mengkonversi sesuatu yang fisikal menjadi digital (new normal) di banyak sektor (Welz dan Rosenberg, 2018).

Dari penjelasan normal baru di beberapa sektor tersebut dapat disimpulkan bahwa normal baru adalah konsep yang menjelaskan dan menjadi penanda perubahan/peralihan dari suatu keadaan yang telah lama berlangsung (bertahan) menuju suatu keadaan baru. Perubahan/peralihan tersebut berdampak mendalam kepada kehidupan (juga secara sektoral), organisasi, dan manusia sehingga dibutuhkan suatu tatanan dan kebiasaan baru untuk menjalaninya.

Pandemic, Chaos, dan Complexity

Covid-19 berasal dari Wuhan, China, yang menyebar ke penjuru dunia memunculkan masalah kesehatan (wabah) yang berdampak kepada hampir semua sektor kehidupan lain seperti politik, sosial, agama, pendidikan, transportasi, manufaktur, perdagangan, jasa dan lainnya dalam skala lokal, regional, nasional dan global yang menyasar keluarga, komunitas, privat dan pemerintah. Penyebaran Covid-19 ke penjuru dunia dan menyebabkan pandemi yang memunculkan krisis global dapat dijelaskan dengan metafor efek kupu-kupu (butterfly effect) yang masuk ke dalam ranah teori chaos (Smith, 2007).

Efek kupu-kupu menjelaskan, suatu sebab sederhana (kecil) dapat menimbulkan keadaan (perbedaan) yang luar biasa. Edward Lorenz, pakar matematika dan cuaca, menjelaskan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Penjelasannya, suatu sistem sangat peka terhadap kondisi awal dapat mengubah perilaku sistem dalam jangka panjang. Secara teoritis, kepakan sayap kupu-kupu memunculkan perubahan sangat kecil dalam atmosfer bumi yang berpotensi mengubah arah,  menunda, mempercepat, dan dapat saja mencegah tornado. Kesimpulan Lorenz ditemukan melalui simulasi komputer terkait perubahan cuaca (Lorenz, 1993; Gleick, 1997). Konsep/sistem chaos adalah ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal (sensitive dependence), deterministik (deterministic), dan nonlinier (nonlinear) (Smith, 2007).

Efek kupu-kupu Lorenz dapat menjelaskan bagaimana virus (berukuran sangat kecil) yang ditenggarai berasal dari pasar ikan Huanan menyebar ke seluruh dunia memunculkan pandemi yang memicu krisis global. Akibat virus tersebut tidak main-main seperti jatuhnya harga minyak ke titik terendah, menciutnya perdagangan global, manufaktur tidak beroperasi dan menciptakan pengangguran, menghentikan perjalanan dan pariwisata, menyebabkan sekolah ditutup dan siswa belajar dari rumah, bahkan ibadah hanya dapat dilakukan sendiri-sendiri atau dengan kelompok terbatas. Pemerintah negara-negara kalang kabut mengatasi penyebaran, menyiapkan dukungan kesehatan, membagikan bantuan kepada yang terdampak dan mendorong ketahanan sosial. Semua itu berawal dari virus, mikroorganisme berukuran sangat kecil yang tidak kasat mata berkembang secara cepat menjadi bencana global.

Menurut Gleick (1997), chaos merupakan pengetahuan penting selain kuantun mekanik dan relativitas dalam ranah teori complexity. Teori complexity memusatkan perhatian kepada aspek kehidupan yang paling mengganggu, yaitu  ketidakteraturan (disorder), ketidakreguleran (irregularity), dan acak (randomness). Complexity bersifat tidak stabil (instability), berubah (change) dan tidak dapat diprediksi (unpredictability) dan membutuhkan nasehat yang tepat untuk bertindak (Jackson, 2003).

Secara sederhana complexity adalah kata yang mendeskripsikan objek dengan bagian-bagian yang saling berhubungan seperti hutan tropis, pasar, organisme, internet dan lainnya di mana bagian-bagian di dalam sistem saling berinteraksi. Perilaku sistem yang kompleks adalah berpola swaorganisasi (self-organizing), perilaku yang khaotis (chaotic behaviour) menyerupai efek kupu-kupu, dan ternyata jauh lebih sering terjadi daripada yang diperkirakan secara distribusi normal  (‘fat-tailed’ behaviour). Interaksi bersifat adaptif (adaptive interaction) di mana para agen memodifikasi strategi dengan berbagai cara sejalan dengan akumulasi pengalaman, dan terjadi perilaku baru (emergence behaviour) (Holland, 2014).

Efek Covid-19 pada pasar keuangan dapat menjelaskan perspektif complexity karena wabah telah menyebabkan kekacauan pasar keuangan dan menjadi salah satu krisis keuangan terpenting dalam sejarah, menyebabkan kejatuhan di beberapa pasar saham serta volatilitas yang besar. Berbeda dari krisis masa lalu, yang sebagian besar kasus disebabkan oleh masalah defisit fiskal atau dalam sistem keuangan, krisis ini berawal pada penyakit epidemi, yang terjadi di Wuhan, China, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia yang memengaruhi jaringan transportasi, perdagangan, dan keuangan, dan akan mempengaruhi hutang publik banyak negara ( Pereira, 2020).

VUCA

Jika chaos dan complexity  kepopuleranya bersumber dari sains matematika dan fisika hingga berkembang ke beragam ranah pengetahuan dan praktik, VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) berkembang di ranah militer menuju ranah pasar. VUCA adalah metode mengelola risiko lingkungan yang sangat khaotis, dinamis dan buram. Ketika itu, VUCA membantu militer Amerika Serikat memahami dengan lebih baik lingkungan yang tidak stabil, mengantisipasi perubahan dan mengelola risiko (Bird, 2018).

VUCA dapat dijelaskan berdasarkan akronim yang menyusun terminologi tersebut. Volatility adalah keadaan, kecepatan, volume dan besaran pola suatu perubahan. Uncertainty menjelaskan ketiadaan kemampuan prediksi terhadap suatu isu atau kejadian. Complexity seringkali merupakan banyak dan sulitnya memahami faktor penyebab dan mitigasi yang terlibat dalam suatu masalah. Dan ambiguity adalah ketiadaan kejelasan tentang makna suatu kejadian (Livingston dalam Jones dan Brezzel (ed)., 2014).

Menghadapi Covid-19 situasi VUCA berkembang di mana komunitas kesehatan menghadapi tantangan  mendapatkan cara mengelola pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dari cara meningkatkan pengujian penyakit dengan cepat hingga melindungi pekerja secara fisik dengan sumber daya terbatas hingga menciptakan kapasitas fisik dan klinis untuk perawatan pasien yang sangat menular.  Krisis kesehatan publik ini membutuhkan organisasi perawatan kesehatan seperti rumah sakit, pusat perawatan darurat, pusat kesehatan masyarakat, praktik perawatan primer, fasilitas perawatan jangka panjang, departemen kesehatan publik negara bagian dan lokal, serta para pekerja dituntut mampu untuk mengoorganisasikannya dan bekerja dengan cara baru hampir setiap hari untuk merespon peningkatan jumlah pasien yang kompleks di tengah-tengah kekurangan staf dan kekurangan lainnya. Lima tindakan yang harus diambil oleh para pemimpin kesehatan: mengutamakan manusia, mengelola operasional secara kreatif, kerja tim dan komunikasi, menciptakan kemitraan, serta merangkul dengan kepemimpinan yang memberikan kejelasan dan rendah hati (Nembhard dkk., 2020).

Selamat Datang ke Normal Baru

Dalam ranah kepemimpinan, normal baru datang menggantikan narasi dan mitos kepemimpinan normal lama seperti kepemimpinan karismatik dan kompetensi teknis-manajerial. Gagasan normal baru menjelaskan serangkaian lautan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya,  pertemuan peristiwa-peristiwa ekstrem, berdampak secara kumulatif menciptakan lanskap kepemimpinan baru secara fundamental yang penuh dengan ancaman disrupsi, perubahan yang terputus, dan memunculkan ketidaknyamanan. Walaupun telah berkali-kali mengalami disrupsi selama ribuan tahun, ternyata disrupsi sendiri telah mencapai tahapan yang belum pernah terjadi sebelumnya di abad 21, meningkat dramatis secara lingkup dan intensitas, membuat organisasi rentan dari tekanan kekuatan yang datang dari luar (McCloskey, 2014).

Photo by Sarah Kilian on Unsplash

Mitos kepemimpinan di  normal lama bertabrakan dengan realitas normal baru dan para pemimipin mendapatkan dirinya terdampar di persimpangan. Elleb Kullman, CEO DuPont, menyatakan bahwa saat ini ekonomi dapat berubah dengan cepat dan tidak terduga,  menjadi lebih buruk, dan  bahkan dampak kejadian alam seperti gempa bumi dan tsunami lebih sering dari sebelumnya. Kita harus bereaksi sangat cepat. Sedangkan dunia semakin terkoneksi mengakibatkan umpan balik dari peristiwa jauh lebih kuat di mana jaringan suplai dan pasar uang bersifat global. Ketidakpastian di satu bagian dunia akan memasuki bagian dunia lainnya. Sementara itu, dunia juga memiliki kecenderungan global seperti pertumbuhan penduduk dunia yang melewati 7 miliar orang membutuhkan pangan, energi, dan perlindungan lingkungan (dalam McCloskey, 2014).

Disrupsi yang didorong revolusi digital yang memunculkan aktor-aktor baru di sektor teknologi dan ekonomi memasuki sektor pemerintahan dan masyarakat mendorong semua pihak untuk beradaptasi dan memulai kebiasaan baru. Pandemi Covid-19 menciptakan gelombang baru revolusi digital dengan terjadinya jarak fisik dan sosial (distancing) yang menjadi kebiasaan hidup baru. Negara-negara yang telah menjadikan digitalisasi sebagai  kenormalan dalam aktivitas sehari-hari dapat lebih baik mengendalikan pandemi seperti Singapura, Korea Selatan, China, Taiwan dan Jepang. Pemanfaatan teknologi digital menjadi pratik umum sehari-hari di dalam tatanan kehidupan baru dengan norma distancing.

Ternyata sebelum pandemi Covid-19 ranah kepemimpinan telah masuk ke normal baru di mana mitos kepemimpinan  karismatik dan kompentensi manajerial-teknikal yang menonjol di normal lama tidak lagi memadai. Bisnis berubah cepat akibat terjadinya disrupsi inovasi oleh teknologi digital dan media, ketidakpastian (keliaran) di pasar modal semakin tinggi, kompleksitas dunia yang terhubung semakin tinggi di mana masalah yang  muncul satu sektor/satu tempat memengaruhi dengan cepat sektor/tempat lainnya, pemimpin kebingungan memahami dan mengantisipasi disrupsi, ketidakpastian, dan kompleksitas tersebut. Situasi VUCA itu semakin besar tantangannya bersamaan dengan datangnya pandemi dan dampak yang mengikutinya. Dicari pemimpin yang memiliki wawasan adaptif dan kompetensi resilien menjadi nakhoda ke lautan normal baru.

Rahmat Yananda adalah konsultan city branding menulis buku bersama penulis lainnya berjudul Branding Tempat: Membangun Kota, Kabupaten dan Provinsi Berbasis Identitas (2014). Dia menyelesaikan studi doktornya di FIA-UI meneliti tentang inovasi dan kawasan perkotaan.

M. Rahmat Yananda

Rahmat Yananda adalah konsultan city branding menulis buku bersama penulis lainnya berjudul Branding Tempat: Membangun Kota, Kabupaten dan Provinsi Berbasis Identitas (2014). Dia menyelesaikan studi doktornya di FIA-UI meneliti tentang inovasi dan kawasan perkotaan.

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020