JurnalPemimpin pada Masa Krisis

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/10/teymur-mirzazade-5zpkAghT4zQ-unsplash-1280x853.jpg

Yang Muncul dan Yang Menghilang

Krisis dapat menciptakan atau menghancurkan pemimpin. Pada pandemi COVID-19, beberapa pemimpin ada yang muncul untuk menghadapi tantangan ini—menjaga masyarakat, karyawan, dan pelajar tetap terinformasi dan termotivasi untuk menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Beberapa pemimpin, di lain hal, justru membuat kesalahan—komunikasi yang buruk, tidak memberikan informasi yang dapat dipercaya, dan gagal menepati janji.

Walaupun pandemi menjadi sebuah fenomena krisis yang mau tidak mau harus dilalui, namun ternyata kondisi krisis dapat mendatangkan kesuksesan untuk pemimpin. Pemimpin yang mampu menunjukkan komunikasi secara efektif dan belajar dari kesalahan, mereka siap untuk sukses. Mereka yang bersembunyi dan bimbang dapat merugikan dan membuat pengikut mereka menjauh.

Pemimpin butuh memberikan arahan, bimbingan, jaminan sementara dan mengakui bahwa jalan ke depan masih belum jelas. Melakukan satu hal tanpa yang lain tidak akan berhasil. Seluruh hal tersebut dibutuhkan untuk membantu orang menemukan kejelasan dan kekuatan untuk melangkah maju.

Ketegangan karena kondisi krisis membutuhkan sosok pemimpin yang memimpin dengan kemanusiaan untuk mengatasinya disertai komunikasi yang jelas.

Utamakan Orang Lain

Motif untuk melakukan penghematan biaya agar organisasi tetap mendapat selisih keuntungan, di masa krisis pandemi, akan berdampak buruk bagi keberlanjutan organisasi. Menurut survei yang dikelola oleh perusahaan komunikasi global bernama Edelman, 71% responden mengatakan mereka akan kehilangan kepercayaan pada suatu brand selamanya jika brand tersebut mengutamakan profit over people.

Pemimpin Indonesia berkesempatan mewawancarai Detha Alfian Fajri selaku COO di Lekantara, perusahaan jasa yang bergerak sebagai scientific academic publisher. Menurutnya dengan hadirnya kondisi pandemi membuat banyak pemimpin harus memimpin secara virtual. Walaupun memimpin menjadi serba dengan virtual, Detha berpendapat bahwa seorang pemimpin sebaiknya selalu mengedepankan rasa kemanusiaannya. “Dengan kita memimpin secara virtual harus ada sense of humanity yang perlu ditingkatkan sehingga kita bisa memastikan setiap anggota di tim kita sehat secara psikologis, mental, emosional, dan fisik”.

Bersikap Jujur

Setelah melihat pendapatan perusahaan Marriott turun hampir 75% di sebagian besar pasar karena COVID-19, CEO Arne Sorenson ingin menyampaikan pesan melalui video kepada karyawan. Timnya menyarankan untuk tidak melakukannya karena penampilannya: Sorenson telah menjalani perawatan untuk penyembuhan kanker pankreas, dan kemoterapi telah membuatnya mengalami kebotakan. Namun, Sorenson tetap membuat videonya. Dalam video tersebut dia mengumumkan bahwa dia dan jajaran eksekutif perusahaan akan membatalkan gaji mereka pada tahun 2020 dan kompensasi untuk jajaran eksekutif akan dipotong setengahnya. Sorenson juga memberikan dukungan kepada rekan-rekan Marriott di seluruh dunia. Video tersebut telah menginspirasi para pemimpin lain untuk menyerahkan gaji mereka juga.

Komunikasi yang Jelas

Ambiguitas kondisi yang dihadapi tentu mengundang banyak pertanyaan yang disertai kecemasan dari semua orang. Beragam pertanyaan yang muncul hanya dapat dijawab oleh pemimpin dengan akurasi datanya sebagai bahan untuk berkomunikasi. Berkomunikasi dengan baik dimulai dengan memahami pertanyaan yang diajukan audiens, lalu berbicara dengan pakar dan meninjau data untuk menjawabnya secara akurat. Para pemimpin kemudian perlu mengembangkan dan menguji pesan untuk memastikan pesan tidak membingungkan orang, kata psikolog Baruch Fischhoff, PhD, seorang profesor di departemen teknik dan kebijakan publik di Carnegie Mellon University.

Ketika pemimpin telah mengomunikasikan kebijakannya, maka dibutuhkan konsistensi untuk menjalankan kebijakan tersebut bersama pengikutnya. Andhyka Muttaqin yang merupakan chief of people management dari Lekantara menyampaikan hal sependapat. Pemimpin harus konsisten dengan pengambilan keputusannya. Jika saja yang terjadi justru adalah inkonsistensi, maka hal tersebut justru menurunkan kepercayaan dan menimbulkan kecemasan bagi pengikutnya.

Pemimpin harus muncul di hadapan para pengikutnya menyampaikan informasi yang jujur walau itu adalah berita buruk. Masa krisis adalah masa untuk saling bekerjasama, bukan gagah-gagahan menunjukkan siapa yang paling sanggup melaluinya dan bukan pula untuk menghindar dari tanggung jawab. Apalagi mencari keuntungan di atas derita orang lain jawabannya tetap serupa: bukan itu yang pemimpin harus lakukan. Tunjukkan ketekunan mencari jawaban dari permasalahan, berani memberikan arahan yang tegas kepada pengikut, dan berikan rasa empati sebagai solidaritas kemanusiaan.

Jika Anda adalah seorang pemimpin, menggerakkan pengikut menjadi lebih baik tanpa ada satupun yang tertinggal bukanlah pilihan, tapi tujuan. Dan jika Anda adalah seorang pemimpin, hadapi ketakutan sewajarnya. Masa krisis mungkin bagi sebagian orang memang fenomena baru, tapi bagaimana kita memaknainya akan menentukan kesuksesan kita di masa mendatang. Mereka yang sukses melalui krisis dengan sangat baik, akan menjadi panutan yang selalu dinanti momen berbagi inspirasinya kepada banyak orang.

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020