https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/09/andy-holmes-7QoG3VfZAmE-unsplash-1280x853.jpg

Sepanjang hidup di dunia tak jarang kita melalaikan waktu, terutama dalam hal mengerjakan tugas. Kita terlampau sering untuk mengerjakan sebuah tugas ketika deadline sudah semakin dekat. Misalkan, ketika dulu ketika masih kuliah.

Sebagai mahasiswa kimia yang setiap minggunya ada praktikum, saya perlu mengumpulkan laporan hasil praktikum seminggu sekali. Dalam rencana pengerjaan, saya merencanakan untuk mengerjakan laporannya secara bertahap dan dicicil.

Hari 1 dimulai dengan menulis pendahuluan, hari kedua dimulai dengan menulis metoda, sampai dua hari terakhir menulis pembahasan dan kesimpulan. Namun sering kali plan hanyalah menjadi plan, laporan praktikum tersebut tetap baru dikerjakan H-1. Bahkan baru dikerjakan di malam sebelum deadline pengumpulan. Saya biasanya perlu begadang sampai jam 3 jam 4 untuk menyelesaikan semua itu.

Atau dalam kasus lain, ketika mengerjakan skripsi.

Di awal seperti biasa planing berjalan dengan baik. Namun saat menjalankan penelitian, pekerjaan yang semula direncanakan pengerjaannya selama 3 bulan akhirnya bisa diselesaikan dalam satu bulan, karena saat itu telah mendekati masa deadline.

Dari kedua ilustrasi cerita tersebut kita bisa melihat bahwa sebagaimanapun kita melakukan planing, kita cenderung menunda pekerjaan dan baru mengerjakannya (secara mengebut) setelah mendekat waktu deadline. Hal tersebut diakibatkan oleh konflik dari “instant gratification” dan “rational decision making“ dalam otak.

Jika diibaratkan otak manusia adalah sebuat kapal. Kapal ini dikendalikan oleh nahkoda “rational decision making”, Namun dalam otak si penunda ada yang berbeda, di otaknya ada seorang “monyet instant gratification” yang biasanya mengacaukan arah kapal menuju perkara yang mudah dan menyenangkan. Sedangkan nahkoda “rational decision making” biasanya menagrahkan kapal ke perkara yang make sense.

Dalam kasus yang skripsi misalnya, otak kita sedang dikuasai oleh “monyet instant gratification” sampai ia sadar bahwa deadline tinggal sebulan lagi. Kesadaran atas dealine sebulan lagi ternyata membangunkan panic monster. Dialah yang memaksa nahkoda rational decision making kembali mengendalikan kapalnya.

Oh ya “monyet instant gratification” hanya takut kepada panic monster, jadi ketika panic monster muncul sang monyet tidak akan berani keluar lagi. Sehinggal nahkoda “rational decision making” dapat mengendalikan otak dengan sepenuhnya. Sampai sampai ia memaksa untuk seluruh organ bekerja dalam mode “the power of kepepet”, semua bekerja keras dipacu oleh monster panic. 

Panic monster ini juga yang seolah mendorong kejaiban pengerjaan skripsi dalam satu bulan dan mendorong keajaiban saat saya rela begadang untuk menyelesaikan laporan praktikum mingguan.

Panic monster ini akan terbangun hanya ketika ada batasa waktu yang perlu dikejar. Jika tidak ada? maka nahkoda rational decision making lah yang perlu berebut sendiri dengansi monyet instant gratification.

Ditulis oleh Tia Muhammad Reza – Head of Research and Development Pemimpin.id

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020