BlogOrasi, Senjata Pilihan Bung Tomo Lawan Penjajah

Redaksi Pemimpin.IDNovember 13, 201944
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/11/Bung-Tomo-Radio.jpg

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!”

Orasi Bung Tomo dengan suara penuh semangat berapi-api yang saya saksikan di Youtube bak mesin waktu. Seolah membawa saya pada pertempuran heroik 10 November 1945. Terbayang suasana sangat mencekam yang dialami warga Surabaya. Rasa takut dan khawatir menjalar mengingat bahwa Sekutu kembali menyerang.

Tapi orasi Bung Tomo melalui corong-corong radio berhasil meruntuhkan semua kegentaran itu. Kalimat-kalimatnya tajam menusuk relung semangat setiap yang mendengarnya. Energi besar yang juga saya rasakan meski peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun silam.

Orasi memang menjadi senjata utama Bung Tomo dalam menggerakkan rakyat menggempur penjajah. Keberhasilannya dalam pertempuran ini membuatnya diganjar sebuah posisi sebagai Jenderal Mayor.

Di lain peristiwa, arek suroboyo kelahiran 3 Oktober 1920 ini menggunakan orasi sebagai media perjuangannya. Meski itu membuat ia sempat dibungkam dan diancam untuk melepas jabatannya, karena orasinya dinilai membahayakan posisi Indonesia di kancah internasional.

Ini terjadi ketika Indonesia tengah melakukan perundingan Renville. Kala itu di tahun 1947 Indonesia mengadakan Perundingan Renville untuk menghentikan pertikaian pasca perjanjian Linggarjati. Pemuda yang pernah tergabung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) itu melakukan orasi terhadap perundingan tersebut yang membeberkan kondisi politik Indonesia dan menyatakan bahwa kemerdekaan negara Indonesia terancam akan menjadi tanah jajahan kembali.

Sumber : Wikipedia

Menteri Pertahanan yang saat itu dijabat oleh Amir Sjarifuddin pun mengirim telegram kepada Presiden Soekarno. Tepat pada tanggal 17 Desember 1947, terbitlah surat perintah dari Soekarno sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi angkatan perang kepada Soedirman. Isi surat tersebut memerintahkan sang panglima besar ini untuk melarang Bung Tomo berpidato di muka umum.

Ancaman itu tak kemudian menyurutkan semangat juang mantan wartawan di era penjajahan Jepang ini. Alih-alih mempertahankan jabatan tersebut, dia justru memilih untuk melepas jabatannya sebagai jenderal mayor, agar tak seorang pun bisa melarangnya untuk berorasi.

Orasi memang terbukti ampuh digunakan untuk membakar dan menggerakkan rakyat agar mau bergerak seirama dengan tujuan yang ingin dicapai pemimpin. Tak mengherankan para pemimpin besar adalah orator ulung. Lalu apa yang bisa pemimpin muda lakukan agar memiliki kemampuan ini?

Pidato, begitu arti orasi yang tertulis pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi orasi tentu tidak hanya sekedar menyampaikan kalimat secara struktur atau menggebu-gebu dalam sebuah forum. Lebih dari itu, orasi yang disampaikan para orator ulung bak mantra yang mampu menggerakkan orang untuk seirama berjalan mencapai tujuan bersama. Tentunya, kemampuan itulah yang juga perlu untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.

Pada intinya, sebuah orasi yang menggugah tak lepas dari konten yang disampaikan serta bagaimana cara orator tersebut menyampaikan gagasannya. Ada beberapa hal yang perlu seorang pemimpin ketahui untuk dapat menggerakan massa melalui orasi :

1. Memposisikan diri setara dengan massa
Ketika memposisikan diri setara dengan pengikut atau massa, seorang pemimpin akan menjalin kedekatan emosional dengan para pengikutnya. Saat kedekatan emosional sudah terjalin, terbukalah ruang yang akhirnya bisa memantik semangat massa atau para pengikutnya.

2. Pemilihan kata-kata
Pemilihan kata dalam melakukan orasi seyogianya juga disesuaikan dengan latar belakang massa atau pengikut yang bersangkutan. Ini menjadi salah satu alasan penting mengapa pada akhirnya memposisikan diri setara dengan para pengikut menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan oleh pemimpin.

Coba bayangkan jika seorang pemimpin berorasi untuk menggerakan para buruh agar memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi, tetapi pilihan kata yang digunakan bukan bahasa yang mudah dipahami oleh para buruh? Apakah kemudian tujuan orasi tersebut akan tercapai? Apakah buruh memahami pesan yang disampaikan dan tergerak untuk melakukan apa yang menjadi arahan?

3. Mendapatkan momentum
Orasi yang dilakukan sesuai dengan momentum yang tepat, akan lebih mampu memantik semangat massa. Kemungkinan bahwa pesan tersebut akan mudah dipahami pun jauh lebih besar, karena relevan dengan apa yang saat itu tengah terjadi

4. Intonasi
Memberikan penekanan pada pesan – pesan yang dianggap penting melalui intonasi perlu dilakukan untuk mempertegas tujuan dari orasi. Dengan memberikan penekanan tersebut, pesan yang sampai kepada penerima orasi bukan hanya sekadar gagasan, tetapi juga perasaan juga harapan. Kedua hal inilah yang nantinya bisa menyentuh hati dan menggerakan. Tapi tetap ingat yah, pemilihan kata harus tetap disesuaikan dengan siapa yang menjadi target orasi kita.

Jadi bagaimana pemimpin muda? Sudah beranikah kamu menciptakan sebuah gerakan positif melalui orasi? Gerakan positif apa yang akan kamu coba?

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019