HeadlineJurnalMitos atau Fakta : Pemimpin Selalu Merasa Sendiri dan Kesepian

Alfian Tegar PrakasaApril 27, 2020449
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/04/etienne-boulanger-iYcuJQaVTvg-unsplash-1280x854.jpg
Banyak yang berpikir, “Jika saya seorang pemimpin, maka saya harus menjaga jarak dengan anggota tim. Hal tersebut dilakukan agar rasa hormat dan segan bisa saya dapatkan.” Sepakatkah kamu dengan hal ini?

 

Mungkin hal itu benar adanya, tetapi apakah kamu (sebagai seorang pemimpin), siap untuk merasa sepi di puncak kepemimpinan? Jarak yang begitu jauh tentunya akan memisahkan antara pemimpin dan orang yang dipimpin. Hierarki akan menjadi tembok pemisah yang sangat tebal di dalam tim.

Oleh karena itu, saya akan membahas tentang bagaimana seorang pemimpin bisa mengajak timnya melangkah dan bertumbuh bersama. Sehingga, perasaan yang muncul bukanlah rasa kesepian, melainkan rasa kebersamaan. Tulisan ini saya sarikan dari salah satu sub bab pada buku John C. Maxwell yang berjudul Go for Gold. Sub bab tersebut adalah Jika Anda Kesepian di Puncak, Ada Sesuatu yang Salah.

John C. Maxwell merupakan tokoh yang begitu banyak memotivasi banyak pemimpin di dunia dan mengeluarkan banyak buku tentang kepemimpinan. Beliau termasuk orang yang sering berbagi, tentang bagaimana menjadi sosok pemimpin yang mampu menjalin relasi baik dengan tim.

Kita mungkin sering mendengar bahwa kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang lain. Pengaruh yang kuat dapat dihasilkan dari relasi yang kuat.

Bagaimana cara agar seorang pemimpin mampu menjalin relasi yang baik dan tidak merasa sepi ketika berada di puncak kepemimpinan?

1. Untuk Memimpin, Tambahkan Pertemanan

Pertemanan di lingkungan kerja penting bagi seorang pemimpin karena pertemanan adalah fondasi pengaruh, kerangka sukses, dan perlindungan dari serangan mendadak.

Pertemanan adalah fondasi pengaruh. Dalam konteks ini, Presiden Abraham Lincoln berkata“Jika Anda ingin meraih dukungan seseorang atas maksud Anda, pertama-tama yakinkan ia bahwa Anda adalah teman yang tulus”.

Bagaimana cara menunjukkan bahwa kamu adalah teman yang tulus? Tentu mengenai kehadiran, pastikan kamu menjadi teman yang hadir di saat senang maupun susah. Jika kamu bisa menjadi teman yang tulus, maka hal tersebut akan berdampak positif pada pengaruhmu.

Sumber : Unsplash

Pertemanan adalah kerangka sukses. Theodore Roosevelt berkata, “Bahan terpenting dalam ramuan kesuksesan adalah mengetahui cara bergaul akrab dengan sesama”.

Kamu tentu merasa, akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari orang yang sudah berbincang bersama dan saling mengenal. Kesuksesan jangka panjang tidak mungkin tercapai tanpa keterampilan sosial yang baik, oleh karena itu mulailah dari sekarang.

Pertemanan melindungi kita dari serangan mendadak. Jika kamu merasa masalah terus datang, tentu seorang temanlah yang akan hadir untuk meringankan hati. Ketika kamu butuh dukungan dalam rapat, sosok temanmu juga yang siap di garda terdepan untuk mendukungmu.

Bahkan, saat kamu ada pada posisi terjatuh dan merasa semua orang menghakimimu, tanpa ragu, teman pasti akan mengulurkan tangannya dan membantumu untuk bangkit. Aristoteles menggambarkan hal ini dengan tepat, yaitu Sahabat sejati adalah perlindungan yang pasti.

 

2. Bekerja Sama Sebagai Tim

Hasil akhir mungkin bisa jadi hanya akan menjadi euforia sesaat, namun proses jatuh bangun bersama tim itu akan menjadi memori yang kuat.

Jika kamu adalah seorang pemimpin, mulailah bangun rasa kebersamaan di dalam tim. Rasa kebersamaan muncul dengan cara menyatukan tim, tidak hanya dalam suasana kerja tetapi juga dalam aktivitas yang lebih personal. Ada banyak cara untuk membuat akrab sebuah tim. Kuncinya adalah mulai sekarang, kamu perlu meluangkan waktu di luar pekerjaan untuk berbicara sebagai rekan tim, bukan atasan dan bawahan.

 

3. Yang Terdekat dengan Pemimpin

Di dalam buku dikatakan bahwa pengalaman John C. Maxwell memimpin selama tiga puluh tahun lebih, mengajarkan kalau orang-orang terdekat dari sosok pemimpin akan menentukan tingkat keberhasilan pemimpin tersebut.

Jika kamu berhasil membina timmu, maka hal itu akan berpengaruh positif bagi keberhasilan tim yang kamu pimpin. Namun, jika kamu gagal dalam membina tim, maka bersiaplah untuk mendapatkan hasil yang negatif.

Cobalah untuk sejenak merenungkan, apa yang sudah kamu berikan untuk rekan dalam tim? Apakah kamu sudah mengembangkan mereka? Apakah mereka bertumbuh? Perlu diingat, bahwa rekan tim bisa menjadi aset ataupun beban bagimu, hal ini bergantung pada bagaimana cara kamu membina tim.

 

4. Jalanilah Hubungan Personal dengan Rekan Tim

Semua relasi mentoring yang efektif sebenarnya bermula dari hubungan pribadi. Nah, jika kamu berhasil membuat rekan tim menyukaimu, maka mereka akan mengikuti arahan dan terus belajar darimu. Begitu pun sebaliknya, jika kamu membuat rekan tim tidak menyukaimu, maka mereka akan sulit untuk mendengarkanmu, apalagi mengikuti arahan, serta enggan untuk belajar lebih jauh denganmu. Imbasnya, proses membina pun akan terhambat bahkan bisa terhenti.

Sumber : Unsplash

Mulailah untuk membangun relasi yang baik dengan cara mendengarkan. Luangkan waktumu untuk mendengarkan kisah hidup dan jalan yang sudah mereka tempuh sejauh ini. Investasikan juga waktumu untuk menunjukkan perhatian yang tulus kepada mereka.

Jangan lupa, kenali juga mereka secara personal termasuk mimpi yang mereka punya. Kamu bisa mencuri waktu di luar suasana kantor untuk ajak rekan timmu ngobrol berdua.  Hal ini perlu dilakukan agar keterbukaan bisa terjalin dan rekan tim-mu bisa bercerita dengan jujur. Melalui proses ini, coba temukan hati mereka, dan mereka dengan senang hati akan mengulurkan tangan untukmu.

 

5. Hargai dan Pupuk Loyalitas

Kualitas penting dari sebuah rekan tim adalah loyalitas. Tanpa loyalitas dan kesetiaan, hubungan dalam tim pasti hancur.

Jika kamu membina seorang pemimpin dan dia terlihat bukan sosok yang loyal, maka coretlah dia, karena hal itu berpotensi menyakitimu di kemudian hari.

Sebenarnya apa arti loyalitas itu? Loyalitas adalah mereka yang mengasihi tanpa syarat, mereka yang bisa mewakilimu dengan baik di hadapan orang lain, mereka yang mampu menangis dan tertawa bersamamu, dan mereka yang mampu menjadikan impianmu adalah impian mereka juga. Jika kamu menemukan mereka, pastikan kamu bisa menjaga mereka  dengan baik.

Jadilah pemimpin yang bisa membawa tim melangkah bersama menuju puncak. Mulai sekarang, bangunlah kedekatan personal dan berusahalah selalu untuk mengembangkan potensi mereka. Tentu, alangkah indahnya jika kebahagiaan yang kamu rasakan ditemani juga dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh rekan tim.

Jadi, apakah kamu siap melangkah bersama tim menuju puncak?

Alfian Tegar Prakasa

Pemimpin.ID 2019 - 2020