Mengatasi Diskusi yang Pasif dengan Menghadirkan Devil’s Advocate

Bagikan ke

Sumber: Freepik

Oleh: I Ketut Satya Wirayudhana – Content Manager Intern Pemimpin.id

ABSTRAK — Dalam suatu diskusi, seringkali anggota menjadi pasif dan hanya meng-iya-kan saja tanpa memberikan sanggahan atau alternatif lain. Hal ini bisa berakhir buruk karena mungkin saja ada sebuah blind spot yang tidak disadari selama diskusi. Salah satu cara yang efektif untuk menemukan blind spot itu adalah dengan menghadirkan orang yang dapat menentang ide yang didukung suara mayoritas. Inilah tugas seorang Devil’s Advocate.

Keputusan yang baik seharusnya diambil melalui proses diskusi yang matang, kan? Namun, bagaimana jika proses diskusi tersebut berjalan dengan kurang baik karena terjebak dalam fenomena konformitas? Fenomena ini adalah dimana hanya ada sedikit orang yang menyampaikan ide dan yang lainnya menyetujui ide tersebut hanya demi menyesuaikan dengan suara mayoritas. Fenomena konformitas ini bisa bikin keputusanmu itu tidak inklusif karena tidak semua orang menyampaikan pendapatnya dengan baik. Akibatnya, dalam keputusan yang diambil bisa saja meninggalkan blind spot yang bisa menjadi masalah besar di masa depan. Nah, makanya penting banget, nih untuk suatu kelompok memiliki seorang devil’s advocate atau orang yang berani menantang dan mempertanyakan keputusan yang didukung suara mayoritas.

Devil’s Advocate, Siapakah Dia?

Menurut Cambridge Dictionary, devil’s advocate berarti orang yang berpura-pura menentang ide yang didukung oleh banyak orang agar mendapatkan pertimbangan yang lebih baik.

Contohnya seperti ini, kalau dalam rapat semua termasuk kamu setuju dengan ide A, tetapi kamu merasa khawatir keputusan ini tidak akan baik karena hanya ditinjau dari satu sisi saja, kamu bisa berperan menjadi seorang devil’s advocate, nih! Caranya, kamu bisa mengatakan “Ide A ini sebenarnya bagus, tetapi jika lihat dari sisi lain, ada kekurangan besar dari ide ini yaitu….”

Devil’s advocate ini penting untuk mendorong diskusi yang lebih komprehensif dimana setiap keputusan yang diambil telah ditinjau dari berbagai sudut pandang. Namun, devil’s advocate ini dapat membawa dampak negatif pada produktivitas tim jika dilakukan secara tidak tepat, lho! Misalnya, bukan malah membuat rapat semakin efektif, jadinya rapat malah semakin panjang dan menguras waktu. Jadi, ketika berperan sebagai devil’s advocate, kamu harus tahu bagaimana melakukannya dengan produktif. Emangnya gimana sih cara jadi seorang devil’s advocate yang baik?

Menjadi Devil’s Advocate secara Produktif

Menurut Ryan Hartwig, ada beberapa langkah yang bisa kamu siapkan sebelum menjadi seorang devil’s advocate untuk mengambil keputusan, nih!

  1. Bagi orang-orang yang terlibat dalam diskusi ke dalam 2 grup. Pertama, grup affirmative recommendation yang bertugas mengajukan ide dan kedua, grup devil’s advocate yang bertugas menentang ide tersebut
  2. Kedua grup menganalisis masalah yang ingin didiskusikan dalam rapat. Tim affirmative recommendation akan mempresentasikan ide yang kemudian akan dikritisi oleh tim devil’s advocate.
  3. Diskusi akan berhenti ketika kedua tim telah menyepakati satu ide yang dinilai terbaik dari berbagai pertimbangan yang ada.

Selain itu, buat kamu yang berada di tim devil’s advocate nanti, ada beberapa tips nih yang wajib kamu perhatikan.

Sumber: Freepik

  1.  Serang Idenya, Bukan Orangnya
    Sebagai seseorang yang ingin menantang ide mayoritas, kamu perlu untuk fokus kepada ide yang diajukan. Kritisi idenya dengan menanyakan bukti dan penjelasan lebih lanjut sambil kamu tetap memberikan data dan ide pembanding. Jangan lupa untuk menjaga emosi dalam perdebatan agar tidak berakhir dengan pertengkaran.
  2.   Berikan Solusi atau Ide Alternatif
    Selain mengkritisi, kamu juga harus memberikan solusi dari masalah yang kamu temukan atau bisa juga memberikan ide alternatif yang bisa jadi pertimbangan baru, nih! Pastikan juga kamu bisa menjelaskan perbandingannya dengan data dan logika, ya.
  3. Tahu Kapan Harus Berhenti
    Tujuan utama dari devil’s advocate adalah membuat keputusan yang lebih komprehensif dan bisa mengantisipasi kelemahan-kelemahan yang terjadi di masa depan. Nah, kalau kamu sudah merasa tujuanmu sudah tercapai, sudah saatnya kamu berhenti dan move on!

Peran devil’s advocate ini bisa membantumu mengambil keputusan yang lebih inklusif dan mencegah adanya blind spot yang bisa membahayakan di masa depan. Namun, peran seorang devil’s advocate ini cukup riskan dan bisa menjadi kontraproduktif jika tidak dilakukan dengan tepat. So, jika kamu merasa perlu seorang devil’s advocate, harus lakukan dengan sebaik mungkin ya!

Referensi:

Eckfeldt, B. 2020. How to Play Devil’s Advocate in Productive Way
https://www.inc.com/bruce-eckfeldt/how-to-play-devils-advocate-in-a-productive-way.html

Dame J. dan Gedmin, J. 2013. Three tips for overcoming your blind spots
https://hbr.org/2013/10/three-tips-for-overcoming-your-blind-spots

Cambrige Dictionary
https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/devil-s-advocate

Hartwig, Ryan. 2010. 7 Steps to Analyze a Problem: the Devil’s Advocacy.  https://ryanhartwig.com/7-steps-to-analyze-a-problem-the-devils-advocacy-technique/

Pemimpin.id
Author: Pemimpin.id

Follow us