ArtikelMengambil Keputusan Berdasarkan Naluri, Tidak ada Salahnya!

Avatar Ridwan Ardian WijayaNovember 11, 2021191
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/11/aluri-1-1280x853.png

Oleh : Roshan Thiran (Founder and CEO of the Leaderonomics Group)

Percayalah, ada baiknya Anda mempercayai intuisi Anda.

Berbagai ahli telah lama menemukan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang di suatu perusahaan, semakin ia bergantung pada intuisinya dalam mengambil keputusan. Peneliti Australian Graduate School of Entrepreneurship pun mencatat bahwa 80% pebisnis sukses memiliki model pengambilan keputusan intuitif yang secara langsung diintegrasikan dengan kemampuan kognitif mereka.

Pada dasarnya, bisnis adalah tentang membuat keputusan. Mengambil keputusan yang tepat adalah salah satu ciri dari pemimpin hebat.

Banyak pemimpin mengambil keputusan sesuai dengan intuisi mereka, tetapi yang lain harus terlebih dahulu melalui agenda rapat yang tak berujung, mendengar pendapat ahli dan melakukan riset mendalam sebelum membuat keputusan. Pasalnya, ternyata kualitas hasil pertimbangan panjang itu tidak lebih baik dari keputusan berdasarkan intuisi.

Saya telah bertemu banyak pemimpin HR yang mengharuskan resume, formulir pendaftaran dan berbagai sesi wawancara yang disusul dengan perundingan panjang sebelum merekrut seorang kandidat. Sayangnya, pada akhirnya mereka menemukan bahwa orang tersebut bukan yang tepat untuk direkrut.

Psikolog Samuel Gosling meneliti fenomena ini dan menemukan bahwa seorang manajer akan membuat keputusan perekrutan yang lebih baik dengan menghabiskan 30 menit untuk menganalisa langsung seorang kandidat di rumahnya dibandingkan menghabiskan waktu berjam-jam mewawancarai para kandidat.

Tampaknya agak aneh di mana penilaian 30 menit tanpa kandidat dapat lebih akurat daripada penilaian yang dilakukan selama berbulan-bulan.

Perihal ini, Malcolm Gladwell penulis buku Outliers berpendapat:

“Keputusan yang diambil dengan cepat bisa sama baiknya dengan keputusan yang dibuat secara hati-hati setelah pertimbangan panjang.”

Bagaimana bisa? Intuisi adalah firasat yang terbentuk dari pikiran bawah sadar kita. Gladwell menyebutnya “kemampuan bawah sadar kita untuk menemukan pola dalam situasi dan perilaku berdasarkan pengalaman terdahulu.

Konsep ini didemonstrasikan oleh psikolog John Gottman yang selama beberapa dekade menganalisis percakapan video yang direkam dari pasangan yang sudah menikah dan mampu memprediksi dengan akurat apakah pasangan tersebut akan tetap bersama atau bercerai dalam 15 tahun ke depan hanya dengan mendengarkan pasangan itu berbicara dengan satu sama lain selama 15 menit.

Bagaimana Gottman melakukannya? Ia mengabaikan ekspresi, nada dan kata-kata dalam video tersebut tetapi fokus pada empat aspek yaitu pembelaan, penghalang, kritik, dan hinaan. Dengan mengelompokkan suara dan fokus pada aspek tersebut, Gottman berhasil membuat penilaian cepat yang lebih akurat dari seorang konselor pernikahan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan dengan si pasangan suami istri.

Banyak orang merasa bahwa keputusan berdasarkan intuisi itu bersifat emosional dan tidak rasional. Padahal, intuisi merupakan hal yang rasional. Gladwell menyimpulkan bahwa intuisi adalah “aktivitas berpikir yang bergerak sedikit lebih cepat dan beroperasi lebih misterius daripada jenis pengambilan keputusan yang dibuat secara sadar yang biasanya kita asosiasikan dengan kegiatan ‘berpikir’”.

Mengikuti intuisi adalah sesuatu yang dilakukan oleh semua orang. Dalam dunia sepak bola, striker yang paling berbakat memiliki naluri gol, seperti Gary Linekar yang mencetak gol untuk bersenang-senang. Di sisi lain, jenderal-jenderal brilian memiliki apa yang disebut “coup d’oeil” yang berarti pandangan sekilas.

Berita baiknya adalah bahwa pengambilan keputusan intuitif sebenarnya  dapat dipelajari. Anda dapat mengasah diri untuk membuat penilaian segera dan memutuskannya secara intuitif melalui pengalaman.  Misal, orang-orang yang mengalami stroke atau kehilangan kemampuan berbicara menjadi orang-orang yang berkemampuan intuitif dari waktu ke waktu dengan membaca informasi sesuai raut wajah, terlepas dari keterbatasan mereka.

Dalam dunia bisnis, para penjual terbaik adalah mereka yang ahli dalam mengikuti naluri. Saat bertemu pelanggan, dengan cepat mereka mendengarkan dan membuat penilaian mengenai kebutuhan dan apa yang dipikirkan oleh pelanggan. Tetapi, mereka juga menghindari kesalahan terbesar yang dilakukan oleh banyak penjual – yaitu jangan pernah menilai pelanggan berdasarkan penampilannya dan berasumsilah bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk membeli dari Anda. Sama halnya dengan Gottman, pebisnis handal mengabaikan penampilan dan faktor eksternal seperti apa yang dikendarai seseorang.

Belajar dari pengalaman

Jadi, bagaimana Anda bisa mempelajari kemahiran ini? Jack Welch yang dinobatkan sebagai “Manajer Terhebat Abad Ini” oleh majalah Fortune menggambarkan bagaimana ia belajar untuk mengasah kemampuan intuitifnya.

“Kadang-kadang membuat keputusan itu sulit, karena yang sebenarnya dibutuhkan adalah naluri atau insting yang tentunya sangat berlawanan dengan pola pikir rasional. Banyak yang telah ditulis mengenai misteri insting, tetapi itu sesungguhnya hanyalah pengenalan pola, bukan? Anda telah melihat sesuatu berkali-kali sehingga Anda tahu apa yang sedang terjadi saat itu. Fakta-fakta mungkin tidak lengkap atau data terbatas, tetapi situasinya terasa sangat-sangat akrab bagi Anda.”

Jack Welch belajar melalui banyak kesalahan dan pengalaman. Seorang pakar bernama Paul Ekman mengklaim, bahwa hanya dengan menyisihkan waktu 30 menit untuk berlatih, maka Anda akan melihat peningkatan yang signifikan dalam kemampuan naluri Anda.

Ada prinsip yang menyatakan, “Apapun bisa diselesaikan jika sebuah tugas dipecahkan menjadi langkah-langkah yang kecil.” Serupa dengan hal tersebut, keahlian berpikir intuitif menolong kita dengan mengidentifikasi aspek yang sesungguhnya relevan dan terhindar dari penilaian bias seperti suku, jenis kelamin, dan penampilan seseorang. Penjual mobil yang beranggapan seorang wanita tidak berpotensial sebagai pembeli hanya karena biasnya pada wanita, tidak akan pernah mencapai posisi sebagai seorang pebisnis yang hebat. Ia perlu menghilangkan bias-bias itu dan fokus pada apa yang benar-benar dikatakan oleh pembeli sehingga sebuah transaksi bisnis kemungkinan besar akan terjadi.

Cara lain untuk mengasah kemampuan berpikir intuitif adalah dengan meluangkan waktu bersama orang-orang dari berbagai latar belakang. Pengalaman tersebut akan memperluas wawasan kita dengan memberikan perspektif baru sehingga mempertajam naluri kita dari berbagai konteks.

Akhirnya, perhatikan kondisi emosi Anda. Ketika dalam keadaan stress atau dalam suasana hati yang buruk, naluri Anda terdistorsi oleh perasaan negatif. Menurut penelitian Dave Grossman, seorang anggota polisi cenderung membuat sejumlah besar keputusan buruk setelah mengejar mobil berkecepatan tinggi. Hasil penelitian telah menunjukan bahwa keputusan intuitif yang buruk dibuat ketika seseorang dalam keadaan sangat tertekan. Ketika pikiran Anda rileks, maka momen “Aha!” terjadi. Di lain sisi, orang-orang yang begitu tertekan dengan jadwal yang terlalu padat akan kehilangan kebijaksanaan alami untuk menuruti kata hati mereka.

Anda pun juga bisa gagal dengan mengikuti insting, terutama jika Anda terlalu percaya diri dan kurang familiar dengan bidang pekerjaan yang baru. Sebagai contoh, beberapa dari kita memiliki prasangka atau prasyarat dalam batin kita yang entah bagaimana yakin bahwa orang yang lebih tinggi badannya adalah orang yang cerdas dan kuat sebagai seorang pemimpin. Akibatnya, banyak CEO adalah orang yang berbadan tinggi, meskipun faktanya adalah orang yang lebih pendek sama pintar dan sama kemampuannya. Menurut penelitian di buku Blink, 14,5% dari populasi pria Amerika bertinggi badan 182cm atau lebih.  Yang menarik, CEO dari 500 perusahaan Fortune, 58% adalah mereka yang tinggi badannya di atas 182 cm.

Kesimpulan

Pembicara dan pelatih profesional telah lama menegaskan bahwa kesan pertama terbentuk dalam dua menit. Pakar intuisi percaya bahwa kita hanya perlu waktu kurang dari tiga detik. Saya telah mewawancarai dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang di berbagai organisasi selama 15 tahun terakhir. Jika saya melihat kembali, keputusan perekrutan terbaik saya adalah ketika saya merekrut seseorang berdasarkan naluri. Kadang-kadang, saya tidak punya alasan terkait keputusan tersebut, tetapi naluri saya terus mengatakan itu benar. Dan ketika saya tidak mendengarkan naluri saya, biasanya saya akan menyesal.

Mendengarkan naluri Anda dan membuat keputusan cepat terbukti dapat mendorong kinerja bisnis yang lebih baik. Penelitian dari Eisenhardt (1989) mengaitkan pengambilan keputusan yang cepat dengan kinerja bisnis yang efektif. Apakah Anda bersedia mendengarkan seorang karyawan yang berkata “Saya punya firasat tentang proyek ini?”. Faktanya, DuPont melaporkan bahwa pengembangan produk mereka dapat diperpendek dari tiga tahun menjadi kurang dari tiga bulan dengan secara aktif melibatkan naluri karyawan dalam perencanaan produk mereka.

Pepatah “Percayai kata hati Anda” nampaknya sudah basi, tetapi itu sesungguhnya benar jika Anda telah mempelajari seni berintuisi dengan baik. Secara genetik kita diprogram dengan pengetahuan yang melengkapi kita dengan kemampuan untuk membuat keputusan yang baik dan cepat. Ingat, informasi yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kemampuan kita untuk berintuisi secara efektif. Jadi, kembangkanlah instingmu dan percayalah dia!

Sumber artikel dari : https://www.leaderonomics.com/id/articles/kepemimpinan/mengambil-keputusan-berdasarkan-naluri-tidak-ada-salahnya

Dapatkan E-Book Memimpin oleh Pempimpin Indonesia GRATIS!