InspirasiMeneladani Sosok Bung Hatta dan Jaksa Agung Soeprapto Melawan Korupsi

Redaksi Pemimpin.IDDecember 9, 2019404
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/Sejarah-Korupsi.jpg

Korupsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.

Pengertian itu ternyata sudah ada sejak dulu. Seorang sastrawan di tahun 1950-an, Pramoedya Ananta Toer sudah menelurkan satu buah buku berjudul Korupsi. Menurut JJ Rizal, sejarawan Indonesia, Pram mampu menggambarkan betapa korupsi sudah terinstitusionalisasi. Lewat tulisannya, penulis buku Bumi Manusia ini menggoreskan cerita tentang sebuah sistem dalam struktur kekuasaan.

Tak cukup sampai di situ, cerita tentang bagaimana korupsi sudah terstruktur, sistematis, dan masif juga terungkap lewat cara Bung Hatta yang memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden. Menurut JJ Rizal, sosok yang mendapat sebutan Bapak Koperasi itu tak sanggup untuk melawan korupsi dan memilih untuk tidak mengikuti arus.

Seiring merebaknya korupsi, otoritarianisme di tahun 1950-an mulai bangkit dan terjadilah pembungkaman. Kondisi ini membuat tidak adanya sistem yang menggerakan orang untuk terdesak menjadi baik. Untuk itulah, pilihan Hatta yang melawan korupsi dengan mundur dari lingkaran kekuasaan mendapat apresisasi dari banyak pihak.

Tokoh lain yang sangat menginspirasi dalam melawan korupsi adalah Jaksa Agung Suprapto, Sosok humanis ini cukup berani untuk menjatuhkan hukuman kepada Menteri Luar Negeri Roeslan Abdul Gani karena dianggap telah menerima uang dari China senilai Rp 1,5 juta untuk mencetak kertas pemilu.

Kasus itu begitu ramai hingga membuat istri Abdul Gani menelepon Nasution agar bisa menggunakan pengaruhnya sampai Soekarno. Soekarno datang kepada Jaksa Soeprato, namun akhirnya presiden pertama Indonesia itu menyerahkan keputusan yang terbaik kepada Soeprapto.

Tanpa basa-basi, Suprapto memutuskan untuk menjatuhkan hukuman kepada Abdul Gani, karena jelas apa yang dilakukan olehnya adalah tindakan korupsi.

Dalam lingkungan keluarga pun, Jaksa Agung Soeprapto cukup tegas untuk memberikan pendidikan karakter bagi anaknya. Dia pernah meminta anaknya untuk mengembalikan sogokan berupa cincin bermata giok dari China yang diberikan kepada keluarganya.

Tak hanya meminta, jaksa yang menjabat pada tahun 1951 – 1959 ini juga memberi tahu dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan anaknya adalah salah secara hukum.

Masih banyak kisah heroik dari tokoh bangsa yang menginspirasi kita untuk berjuang melawan korupsi di masa kini. Cari tahu lebih lanjut dengan mengunjungi tautan Sejarah Pemimpin, ya!

Dengan menonton video ini kamu bisa mendapat wawasan sejarah yang bisa jadi bekal kepemimpinanmu, nanti.
Kamu juga bisa mencontoh karakter Bung Hatta dan Jaksa Agung Soeprapto dalam melawan korupsi. Selamat menyaksikan!

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020