HeadlineInspirasiMemimpin di Saat Krisis Bersama Handry Satriago

aji_suradikaMay 12, 2020375
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/05/rsz_pemimpin_indonesia_krisis_corona_covid_19_handry_satriago_ceo_general_electric_.jpg

Krisis dalam Bahasa China terdiri dua karakter, satu karakter berarti bahaya, dan satu karakter lainnya berarti titik balik atau beberapa orang mengartikan sebagai kesempatan. Tidak ada ujian yang bisa menguji kepemimpinan seseorang lebih keras daripada krisis. Krisis bisa menghancurkan para pemimpin, namun di saat yang bersamaan mampu menciptakan pemimpin-pemimpin tangguh yang justru makin kuat dari sebelumnya.

Krisis menguji batas kemampuan para pemimpin karena sifatnya yang tidak bisa ditebak. Krisis menguji panjangnya nafas para pemimpin karena tidak ada yang tahu sampai kapan krisis akan berakhir. Dalam krisis para pemimpin tidak diajak untuk lari sprint tapi untuk berlari marathon sampai batas maksimal mereka.

Karenanya sangat menarik membahas bagaiman para pemimpin besar bisa melewati krisis dalam hidup mereka. Saya memiliki satu kesempatan untuk berdiskusi dengan Handry Satriago, CEO GE Indonesia. Inilah 10 poin penting yang harus diingat para pemimpin ketika melewati saat krisis.

1. Khawatir itu manusiawi, tapi beri batas waktu

“Being a leader means deal with tough issues, if you don’t want to deal with tough issues, forget become a leader.” -Handry Satriago-

Berhadapan dengan situasi sulit adalah keseharian para leader mulai dari menghadapi anggota tim yang membangkang, target yang tak tercapai, atau sampai yang berat seperti krisis ekonomi atau keharusan adanya pemecatan pegawai.

Menurut Handry Satriago, sebagai manusia kita berhak untuk khawatir, cemas, stres, dan sedih. Kita sebagai manusia memang mudah khawatir dan lupa. Bahkan diberi kesenangan pun, sering membuat kita lupa terhadap Sang Pencipta. Tapi kita harus memberi batas waktu kepada rasa khawatir itu sebagaimana Handry Satriago memiliki aturan hidup untuk tidak khawatir atau sedih lebih dari 3 hari.

Menurutnya, lebih dari tiga hari kita akan tenggelam lebih jauh dalam kesedihan kita dan tidak akan kemana-mana. Sedihlah satu atau dua hari tapi setelah itu bangkitlah dan berjuang lebih keras lagi. Ingat, khawatirmu tidak boleh lebih dari 3 hari.

2. Milikilah keyakinan

“Ya krisis itu pasti akan lewat, tapi kapan dan bagaimana lewatnya?”

Kata-kata itu mungkin sering kali muncul dalam pemikiran kita di saat kita putus asa. Tapi dalam agama yang diimani kita selalu percaya bahwa di balik segala kesulitan selalu ada kebaikan. Tidak ada badai yang tak berakhir, dan matahari selalu bersinar setelah kita melewati malam tergelap. Jadi yakinlah dan bangkitlah.

3. Jadilah rasional alih-alih emosional

“Be ready kalau masalah yang kita hadapi lebih besar dari yang kita pikirkan itu akan membuat kita lebih siap.”

Bersiap-siaplah atas kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Lalu siapkan rencana-rencanamu. Kumpulkan semua informasi yang ada dan tetap berpikiran jernih. Setelah itu ambil keputusan dari pilihan-pilihan yang tersedia. Sekarang memang kita harus tinggal di rumah saja, lalu apa? Berhentilah mengeluh dan bersedih dan mulai ambil tindakan.

4. Transparan dan berterus teranglah

“Pil pahit harus dikatakan, be transparent. Semua memang harus ada yang dikorbankan. Harus diomongkan gak ada resep yang lebih menyenangkan.”

Amy C. Edmondson dalam tulisannya yang berjudul “Don’t hide bad news in times of crisis” mengatakan bahwa transparansi adalah tugas dari para pemimpin di saat krisis. Transparansi tidak hanya membutuhkan keberanian tapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui pilihan-pilihan yang terbaik untuk semua.

Kita harus berani membuka kebenaran karena pada saatnya semua akan terungkap. Jadi beranilah untuk terbuka terhadap tim mulai dari awal dan mintalah bantuan dari tim. Karena di saat krisis, informasi sekecil apapun dari tim kita sangat bermanfaat bagi para pemimpin untuk mengambil keputusan.

Leadership is about interaction. Di saat krisis pemimpin justru harus memperbanyak komunikasi dengan tim. Komunikasi tidak hanya menanyakan kondisi masalah di lapangan, komunikasi juga berarti menanyakan kabar tim. Apa yang mereka rasakan? Cobalah untuk berempati kepada anggota tim.

5. Mengelola krisis adalah mengelola harapan, tapi harapan bukanlah strategi

“Yes, managing crisis is managing hope but hope is not the strategy. Doa is not the strategy. Doa you should do it. But you have to have strategy”

Sebagai manusia memang kita berhak untuk bersedih dan juga berharap mampu menghilangkan kesedihan agar kita tidak semakin turun ke dasar lembah, yang membuat kita sulit untuk bisa bangkit lagi. Tetapi harapan saja bukan strategi. Setelah kita berharap mulailah menentukan langkah terbaik selanjutnya. Kita harus tahu apa rencana A, B, C dan seterusnya dan tentukan bagaimana cara kita menuju kesana.

Pemimpin harus mampu memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan. Pemimpin harus dapat menemukan jalan baru ketika semua jalan terlihat buntu. Menurut Chaos Theory di saat keadaan sedang kacau pemimpin tidak terlarut dalam kekacauan itu tetapi juga tidak berlari. Mereka berdiri tepat di sisi kekacauan itu dan melihat jalan yang belum terpikirkan sebelumnya.

6. Realistis

“Dibuang dulu kata-kata motivasi, badai pasti berlalu, yes everybody knows but when? Be realistic, kita pasti akan mampu balik, then when? What will you do?”

Motivasi memang dibutuhkan untuk membangkitkan semangat tim tapi yang jauh lebih penting adalah bersikap realistis. Lebih baik kita mengumpulkan semua tim dan berterus terang atas segala masalah yang ada. Memotivasi berarti mengatakan yang benar, mengajak tim untuk berpikir bersama, hormati apa yang telah dilakukan tim dan barulah kita motivasi mereka.

Terkadang keadaan krisis semakin memburuk, seperti jumlah korban meninggal dari Covid-19 yang semakin banyak, tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Fokus kepada sesuatu yang bisa kita ubah. Jadi jangan habiskan waktu kita untuk sesuatu yang tidak realistis.

7. Berserah diri

“Saya percaya kunci dalam memimpin dalam krisis adalah berserah diri. Berserah diri itu bukan pasif. Kita berserah diri bahwa Allah punya skenario lain, tapi kita juga harus aktif dan cari jalan keluarnya. Kita harus mikir lagi, bangkit lagi, menulis lagi. Saya sudah meeting zoom, ketemu teman, main sama anak, terpapar informasi and then what? Selalu ada pertanyaan and then what? Then berserah diri. Bahwa kemudian perserahan diri tersebut harus melakukan sesuatu, itu lah berserah diri. Berserah diri adalah kegiatan aktif.”

Kita harus terus bertarung sampai waktu yang tidak ditentukan. Karena kita tidak tahu kapan akhirnya. Setelah kita sudah bertarung maksimal, maka kita berserah diri. Biarkan Tuhan yang menentukan hasilnya. Kita mengikuti apa kehendak Allah bukan berarti menyerah. Berserah diri berarti memiliki strategi dan rencana.

Penutup

“Tapi ujung daripada proses menghadapai masalah adalah ketika kita mampu menaklukan logika kita sendiri. Hal yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, dia menaklukan logikanya dan dilakukan oleh semua nabi termasuk Rasulullah. Dan ketika logika itu tunduk, bantuan dari Allah pun turun. Saya sudah tidak bisa jalan lagi nih Tuhan. Saya tidak tahu lagi mau ngapain, dan di saat itu saya bounce back. Detik itu akan datang ketika logika kita tunduk.”

Kalimat itu menjadi penutup dari diskusi kami. Suatu diskusi yang dalam membahas tentang langkah yang harus diambil sebagai seorang pemimpin ditutup dengan penyerahan diri seorang hamba terhadap penciptanya, sebagai bukti kepatuhan hamba kepada Tuhan-nya.

Krisis memang berat dan sukar untuk dihadapi dan dipahami tapi tidak ada pemimpin yang dilahirkan di danau yang tenang. Krisis menunjukan kualitas seorang pemimpin. Setelah krisis ini berakhir kita akan melihat pemimpin-pemimpin hebat yang telah muncul di saat krisis, karena mereka berani menghadapi keadaan yang sulit daripada lari dan tak berani mengambil keputusan.

aji_suradika

Pemimpin.ID 2019 - 2020