HeadlineLeadership ReviewLogical Fallacy bagi Seorang Pemimpin: Bahayanya dan Cara Menghindarinya

Avatar Pemimpin.IDFebruary 22, 20211326
pexels-pixabay-260024

ABSTRAK. Berpikir logis membutuhkan keterampilan yang terlatih. Jika pikiran terbiasa menggunakan aturan logika yang benar dan valid, kesimpulan yang dihasilkan pun jadi efektif. Namun, tidak sedikit orang yang kesulitan menerapkan aturan-aturan logika yang ada, termasuk juga pemimpin. Berbagai kesalahan berpikir ini disebut sebagai logical fallacy dan kemunculannya sangat jamak di kalangan pimpinan.

 

Tanpa disadari, sebagai pemimpin, dalam beberapa kondisi pengambilan keputusan atau saat sedang berdiskusi kita terjebak dalam kesalahan berlogika yang biasa dikenal dengan logical fallacy. 

Logical fallacy ini menyebabkan kita terjebak dalam perspektif atau dogma yang keliru, dan tidak jarang ke depannya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Sebagai seorang pemimpin, jika kita terjebak dalam logical fallacy ketika menyampaikan argumen di depan umum, reputasi sebagai pemimpin menjadi jelek dan kurang dipercaya. Logical fallacy juga menyebabkan seorang pemimpin membuat orang lain tersesat akibat penyampaian argumen dalam bentuk pidato, diskusi, maupun tulisan yang tidak runtut secara logis yang menyesatkan. Lebih parahnya lagi, mereka juga bisa mudah terjebak ke dalam hoaks.

Konsep logical fallacy mungkin terdengar kurang familier. Maka, mari kita pelajari dulu apa definisinya mulai dari makna dari logika.

Apa Itu Logika?

Logika sendiri adalah suatu hasil pertimbangan dari akal atau pikiran manusia yang diekspresikan dengan kata-kata. Secara umum, logika juga dapat diartikan cara orang berbahasa dalam menjelaskan jalan pikirannya. Menurut Aristoteles, logika memiliki 2 dasar atau bentuk penarikan kesimpulan, yaitu penalaran deduktif (silogisme) dan penalaran induktif. 

Penalaran deduktif atau silogisme adalah penalaran yang menggunakan informasi umum atau premis yang ada untuk menuju ke sebuah kesimpulan yang telah terbukti kebenarannya, sedangkan penalaran induktif adalah kesimpulan yang diambil berdasarkan rangkaian fakta-fakta khusus. Berikut adalah contoh dari penalaran deduktif atau silogisme dan penalaran induktif:

Penalaran deduktif atau silogisme

  • Semua mahluk hidup pasti akan mati (Premis Mayor)
  • Kucing adalah makhluk hidup (Premis Minor)
  • Kucing pasti akan mati (Kesimpulan)

Penalaran induktif

  • Kucing anggora punya jantung (fakta)
  • Kucing persia punya jantung (fakta)
  • Kucing liar punya jantung (fakta)
  • Semua jenis kucing punya jantung (kesimpulan)

Jadi, Logical Fallacy Itu Apa?

Logical fallacy adalah ketika kita mengasumsikan atau memberikan kesimpulan sesuatu memiliki hubungan sebab akibat, akan tetapi sebenarnya tidak ada hubungan yang logis dan rasional di antara keduanya.

Beberapa orang menganggap bahwa logical fallacy dengan cognitive bias adalah hal yang sama, tetapi sebenarnya dua hal itu berbeda. Kesalahan logika berasal dari kesalahan dalam argumen logis dan kegagalan dalam mengikuti aturan logika atau menarik kesimpulan. Ini berbeda dengan cognitive bias, yang mengacu pada kesalahan yang berasal dari masalah memori, perhatian, atribusi, dan kesalahan mental lainnya.

Logical fallacy adalah ketika kita mengasumsikan atau memberikan kesimpulan sesuatu memiliki hubungan sebab akibat, akan tetapi sebenarnya tidak ada hubungan yang logis dan rasional di antara keduanya.

Cognitive bias terjadi akibat kita berusaha dalam mencari jalan pintas berpikir atau yang dikenal dengan heuristik. Heuristik ini memudahkan kita untuk bertindak cepat di tengah kompleksitas yang terjadi. Sederhananya, cognitive bias adalah “efek samping” dari efisiensi cara kerja otak manusia, sementara logical fallacy adalah kegagalan dalam menggunakan logika sebagai alat bantu pikir.

Contoh-Contoh Logical Fallacy

Berikut adalah beberapa jenis dari logical fallacy yang sering kita temui:

Hasty Generalization

Sumber gambar: quizlet.com

Definisi dari hasty generalization adalah membuat asumsi tentang keseluruhan kelompok (generalisasi) berdasarkan sampel yang sedikit. Stereotip seperti “orang yang memakai kaca mata adalah orang pintar dan rajin” adalah contohnya. Contoh lainnya:

Premis 1 : Mark Zuckerberg drop out → membangun Facebook → sukses

Premis 2 : Bill Gates drop out → membangun Microsoft → sukses

Kesimpulan : Drop out → sukses

 

Hasty generalization ini tentu membuat keputusan pemimpin berujung kekalahan. Misalnya, seorang pemimpin mungkin saja menganggap bahwa urusan administrasi dan keuangan selalu lebih rapi kalau dikerjakan oleh perempuan. Masalahnya, itu merupakan generalisasi yang berbasis stereotip sehingga bisa jadi perempuan yang dia pilih bukanlah orang yang tepat untuk memegang amanah tersebut.

Appeal to Authority

Sumber gambar: medium.com/@ashraysudhir1

Logical fallacy ini sering terjadi dalam kehidupan kita, bahwa kita sering menguatkan argumen dengan merujuk pada sumber yang dihormati. Kita berusaha meyakinkan orang lain dengan rujukan dari sumber orang yang terkenal tapi belum tentu memiliki keahlian di bidang tersebut. Sebagai contoh berikut ini:

“Kita tidak harus menggunakan masker ketika mengadakan acara besok, karena banyak yang mengatakan kalau masker tidak wajib digunakan ketika berkumpul, salah satunya artis terkenal si Ahmad Gunawan juga mengatakan hal yang sama.” 

Si artis belum tentu memiliki keahlian pandangan dalam kesehatan dan penanggulangan pandemi, tetapi namanya digunakan untuk menguatkan argumen yang kita lakukan. Biasanya pemimpin menggunakan logika ini untuk terlihat lebih pintar di hadapan anggotanya karena merujuk dari sumber orang yang dihormati atau agar orang lain menghormati argumennya, akan tetapi sebenarnya orang yang dia jadikan rujukan bukan orang yang tepat atau ahli di bidangnya.

Ad Hominem

Sumber gambar: smbc-comics.com

Definisi ad hominem adalah ketika kita lebih melihat siapa orang mengatakan ketimbang apa yang dia katakan. Dalam ad hominem, kita cenderung melawan atau menyerang orangnya daripada melawan argumennya. Sebagai contoh:

“Kita tidak bisa menggunakan ide dan pendapat dia dalam program kerja kita karena dia saja sering hilang-hilangan dalam bekerja di organisasi ini.”

Daripada melawan atau mempertimbangkan pendapatnya, kita lebih dulu tidak percaya karena melihat orangnya sebelum mendalami argumennya. Pemimpin menggunakan ad hominem untuk menjatuhkan lawan bicaranya dihadapan orang lain ketika berdiskusi atau berdebat dengan harapan orang tidak percaya dengan argumennya. Logika ini biasa digunakan dalam persidangan, musyawarah, debat, ataupun berdiskusi.

Post Hoc

Sumber gambar: blog.lib.umn.edu

Kita sering terjebak dalam asumsi sebab akibat bahwa A muncul setelah B, dan B menyebabkan A. Kita sering menggeneralisasi sebuah peristiwa dengan sebab akibatnya karena sempat melihat atau merasakannya, tetapi sebenarnya tidak benar-benar terkait sebab dan akibatnya. Sebagai contoh:

“Kemarin salah satu ketua organisasi menyumbangkan seluruh gajinya untuk donasi dan setelah itu organisasinya berkembang dengan pesat. Orang-orang menyimpulkan bahwa kedermawanan yang dilakukan oleh ketua tersebut menyebabkan berkembangnya organisasi.” 

Dalam satu sisi, karena peristiwanya berurutan, orang-orang akhirnya mengaitkan sebab akibatnya, tetapi sebenarnya itu hanya kebetulan yang belum tentu menjadi sebab akibat sebenarnya. Dalam konteks kepemimpinan, ketika seorang pemimpin terjebak dengan logika post hoc, tanpa dia sadari dia telah menyebarkan hoaks atau berita sesat kepada anggotanya.

Weak Analogy

Sumber gambar: dmulderct.weebly.com

Banyak argumen yang mengandalkan analogi antara objek, ide, atau situasi. Akan tetapi, sebetulnya mereka tidak benar-benar relevan dan cenderung beranalogi lemah. Sebagai contoh berikut ini:

“Saya tidak sepakat dengan lomba memanah karena memanah dapat menyebabkan orang terbunuh. Melarang kegiatan memanah sama saja menghindari terjadinya pembunuhan.” 

Pemimpin yang terjebak dalam weak analogy akan membuat keputusan yang salah dan berbahaya karena dia membandingkan dua hal secara tidak serampangan.

Cara Menghindari Logical Fallacy

Argumen yang kita sampaikan sebagai pemimpin tentu harus memiliki landasan logis yang kuat dan runtut karena kesalahan logika akan menyebabkan kekeliruan kepada orang lain. Maka, memiliki pemikiran yang logis dan terhindar dari logical fallacy adalah keterampilan yang harus dikuasai oleh pemimpin dan tentunya dapat dilatih. Berikut adalah beberapa cara agar terhindar dari logical fallacy: 

  1. Mempelajari jenis-jenis logical fallacy agar bisa terlepas darinya
  2. Membuat poin atau catatan sebelum menyampaikan argumen untuk melihat apakah argumen yang disampaikan sudah runtut.
  3. Berusahalah untuk tidak setuju dengan kesimpulan yang Anda buat sehingga dapat melakukan cross check kepada orang lain terkait keruntutan dan kebenarannya
  4. Sadar bahwa membuat argumen atau klaim terhadap sesuatu membutuhkan rujukan yang relevan dan terbukti kebenarannya

Logical fallacy berbahaya bagi kita seorang pemimpin jika terjebak di dalamnya dan menyesatkan orang lain atau membuat keputusan yang salah. Kondisi kesalahan berlogika juga berbahaya jika seorang pemimpin secara sengaja melakukannya untuk meyakinkan orang lain, sehingga dia terjebak dalam hoaks atau kecacatan berlogika. Maka, mengetahui bahaya dan bentuk dari logical fallacy adalah kewajiban untuk pemimpin agar selalu berargumen dan berpendapat dengan logika yang runtut.

Referensi

Barton, K. & Tucker, B. G.(2020). 14.4: Logical fallacies. Social Science. https://socialsci.libretexts.org/Bookshelves/Communication/Book%3A_Exploring_Public_Speaking_(Barton_and_Tucker)/14%3A_Logical_Reasoning/14.04%3A_Logical_Fallacies.

Cherry, K. (2020). What is cognitive bias?. Verywellmind. https://www.verywellmind.com/what-is-a-cognitive-bias-2794963#:~:text=Logical%20Fallacy&text=A%20logical%20fallacy%20stems%20from,attribution%2C%20and%20other%20mental%20mistakes..

Fallacies. (2021). The Writing Center of University of North Carolina at Chapel Hill. https://writingcenter.unc.edu/tips-and-tools/fallacies/.

Pengertian logika. (2019). Talde Brooklyn. https://taldebrooklyn.com/pengertian-logika/.

Spot a dishonest argument and avoid misleading others. (2020). Mindtools. https://www.mindtools.com/pages/article/newTMC_81.htm.

 

Photo by: Pixabay

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.