Ensiklopedia PemimpinLibatkan Tim Dalam Pengambian Keputusan? Gunakan Kepemimpinan Demokratis

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/01/michal-matlon-7OxV_qDiGRI-unsplash-1280x852.jpg

Oleh: Nurul Aulia (Volunteer Research and Development Team Pemimpin ID)

Kepemimpinan demokratis adalah salah satu jenis kepemimpinan menurut Kurt Lewin yang melibatkan anggota kelompok berperan secara partisipatif dalam pengambilan keputusan.  Kepemimpinan jenis ini juga membuat keterampilan anggota kelompok meningkat, tapi di sisi lain tidak cocok diterapkan di masa krisis karena kurang menekankan pada kecepatan dan efisiensi. 

Sejarah

Sejarah awal kepopuleran kepemimpinan demokratis dimulai sejak beberapa dekade terakhir. Tepatnya pada tahun 1930-an dan 1940-an, Kurt Lewin, seorang peneliti perilaku, memimpin studi yang membantu mengidentifikasi gaya kepemimpinan demokratis dalam organisasi. Dalam “Kepemimpinan dan Kehidupan Kelompok”, Lewin dan rekan-rekannya, yakni Ronald Lippitt dan Ralph K. White, menguraikan gaya demokratis, laissez-faire, dan otokratis sebagai tiga gaya kepemimpinan utama. Berdasarkan wawancara dengan para pemimpin bisnis dan karyawan, Lewin, Lippitt, dan White menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis adalah yang paling dikenal di kalangan bawahan.

Karakteristik

Beberapa karakteristik dari kepemimpinan demokratis adalah

  • Mendorong anggota kelompok untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan 
  • Pembagian/distribusi tanggung jawab kepada anggota kelompok untuk meningkatkan produktivitas kerja
  • Memberdayakan kemampuan anggota kelompok dan menghargai setiap kreativitas
  • Memberi kesempatan anggota kelompok untuk menyampaikan pendapat
Pro-Kontra 

Sebagai sebuah gaya kepemimpinan, kepemimpinan demokratis memiliki pro-kontra dalam penerapannya, yakni

Pro
  • Lebih banyak ide dan gagasan dalam memecahkan masalah
  • Hubungan tim dibangun atas rasa saling percaya 
  • Produktivitas anggota tim tinggi
  • Kreativitas dan inovasi meningkat di antara karyawan melalui kolaborasi tim
Kontra
  • Pemimpin bisa menjadi sangat bergantung pada keahlian dan pengalaman bawahan
  • Waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama 
  • Keputusan yang cepat dan tepat mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin dilaksanakan
Contoh Perusahaan yang Menerapkan Pola Kepemimpinan Demokratis

Perusahan besar tentunya memiliki ciri khas dalam gaya kepemimpinannya masing-masing. Beberapa perusahaan yang menerapkan gaya kepemimpinan demokratis adalah:

  • Google

Pendiri Google, yakni Sergey Brin dan Larry Page, pada awalnya mengembangkan mesin pencari internet dan mempekerjakan Eric Schmidt untuk memulai perusahaan mereka. Ketiganya segera mulai mencari bakat berpengalaman untuk membentuk tim yang demokratis. Saat ini, Google tetap relatif demokratis dalam pendekatan kepemimpinannya terhadap pengembangan produk di bawah CEO Sundar Pichai.

  • Amazon

Saat diluncurkan, Amazon dikenal karena menjual buku. Berkat penerapan model kepemimpinan demokratis, yakni menghargai inovasi, saat ini Amazon menjual semua yang bisa dibayangkan, termasuk layanan cloud dan penyimpanan keamanan data besar (big data). Pada intinya, bagaimanapun, perusahaan mempertahankan nilai-nilai demokratisnya di antara para eksekutif C-suite, kepala divisi, dan direktur proyek.

  • Gojek
    Indonesia sendiri pasti sudah akrab dengan Gojek, sebuah e-commerce yang semakin berkembang. Sejak berdiri, Gojek sudah berusaha menerapkan kepemimpinan demokratis dengan cara melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan, hingga melakukan sistem delegasi untuk perluasan perusahaan. Semakin banyak jenis layanan baru yang ditawarkan Gojek, juga merupakan bukti nyata bahwa perusahaan ini mampu adaptif dan demokratis dalam pengambilan kebijakan.

Sebagai sebuah gaya kepemimpinan yang populer, kepemimpinan demokratis terus mengalami perkembangan menyesuaikan kondisi sosial kelompok terkait, khususnya dalam pola kerja, sistem pengambilan keputusan, dan komunikasi antaranggota. Namun, meskipun termasuk kepemimpinan yang dinamis, ciri khas kepemimpinan demokratis tidak akan berubah, yakni selalu menekankan pada partisipasi anggota kelompok dalam menjalankan tugas.

Referensi:

Amanchukwu, R., Stanley, G., & Ololube, N. (2015). A review of leadership theories, principles and styles and their relevance to educational management. Journal of Management, 5, 8. Diakses pada 1 Desember 2020, melalui http://article.sapub.org/10.5923.j.mm.20150501.02.html#Sec4.4

Choi, S. (2007). Democratic leadership: the lessons of exemplary models for democratic governance. International Journal of Leadership Studies, 2(3). 246-247. Diakses pada 1 Desember 2020, melalui https://www.regent.edu/acad/global/publications/ijls/new/vol2iss3/choi/Choi_Vol2Iss3.pdf

Morale, W. (2014). What is democratic/participative leadership?. Diakses pada 1 Desember 2020, melalui https://online.stu.edu/articles/education/democratic-participative-leadership.aspx

Morin, A. (2020, August 3). What are prominent leadership styles and frameworks you should know? Diakses pada 1 Desember 2020, melalui https://www.verywellmind.com/leadership-styles-2795312

Redaksi Pemimpin.ID