Acara PemimpinKnow When Enough is Enough

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/02/ytb-terajar3100-1-1280x720.png

Kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini Indonesia sedang digemparkan dengan berita korupsi Menteri Sosial. Ia diduga mengambil keuntungan dari dana bantuan sosial yang seharusnya menjadi hak orang-orang yang terdampak Covid-19.

Padahal, gaji dari seorang menteri sudah terhitung banyak bukan? Belum lagi tunjangan-tunjangan lain yang diberikan. Lantas mengapa masih saja ada orang yang berbuat demikian?

Berangkat dari pemikiran tersebut Teras Belajar kali ini mengangkat tema “Know When Enough is Enough”. Acara tersebut sekaligus memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2020 lalu. Adapun narasumber yang turut mengisi berasal dari latar belakang yang beragam, di antaranya Mbak Ratna Prabandari (Kadiv Layanan Beasiswa dan Pendanaan Riset Indonesia), Mbak Judhi Kristiantini (Founder Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi). dan Mbak Tanti Mantily Dewi (Psikolog and Psikoterapis di Independent Consultant). 

Seperti biasa, kegiatan teras belajar diawali dengan sesi breakout room. Peserta diminta untuk berdiskusi singkat di ruang virtual yang telah disediakan. Topik yang diangkat adalah, “Apa hal yang sering membuatmu iri dari orang lain?”. Kebanyakan dari peserta menjawab mereka merasa iri ketika melihat orang lain lebih sukses dan secara fisik lebih baik. Kalau ditanya demikian, kira-kira apa jawaban teman-teman? 

Memang tidak dapat dipungkiri kita hidup di lingkungan yang menuntut kita harus menyesuaikan dengan apa yang berlaku secara umum. Ketika kita bersikap sedikit berbeda dari yang ada, kita akan merasa malu, tidak percaya diri, bahkan ekstremnya kita akan berusaha melakukan apapun untuk menjadi bagian dari lingkungan yang umum itu. Tidak salah memang, tapi jika kebanyakan orang sekarang memiliki 2 gadget atau lebih, sedangkan kemampuan kita hanya memiliki satu, bukankah memaksakannya bisa membuat kita menderita?

Menurut Mbak Judhi, perilaku koruptif merupakan akar dari tindakan korupsi, sehingga ketika seseorang berani atau terbiasa hidup dengan perilaku koruptif maka dikhawatirkan mereka juga akan berani melakukan tindakan korupsi. Kira-kira, apa saja sih tindakan koruptif? Menyerobot antrean, menyontek saat ulangan, berbohong, memberi hadiah dengan tujuan tertentu. Terlihat sepele bukan? Justru itu yang bisa membuat seseorang melakukan tindakan korupsi jika dibiarkan.

Lantas harus bagaimana sebaiknya? Cobalah berusaha bertanya pada diri sendiri, pahami kemauan diri, dan berusahalah menjaga jarak dengan kebiasaan umum di sekeliling kita. “Kalau aku beda, so what gitu?” tambah Mbak Judhi menegaskan.

Kemudian Mbak Ratna menambahkan bahwa salah satu kunci dari menghindari tindakan korupsi adalah integritas. Mengapa? Integritas dapat diartikan sebagai sebuah konsistensi seseorang dalam berniat, berperilaku, dan berucap, baik ada ataupun tidak ada orang lain. Ketika seseorang memiliki integritas yang baik, orang tersebut tidak akan mudah melakukan tindakan tercela. Pada dasarnya, manusia akan lebih mudah menahan ujian atau cobaan dibandingkan dengan kemudahan yang datang secara berturut-turut sehingga ketika seseorang memiliki integritas yang baik, orang tersebut tidak akan terlena, melainkan justru akan menjadikannya sebagai alarm untuk berbagi kepada sesama.

Mbak Tanti ikut menambahkan bahwa setiap orang memiliki emotional agility, yaitu suatu kemampuan untuk menyadari emosi diri sendiri, sehingga bisa tahu kapan waktunya untuk berhenti atau melanjutkan mencapai hal diinginkan. Kemampuan tersebut perlu dilatih dengan cara bertanya pada diri sendiri apa yang menjadi value kita, dan tak jarang untuk kita mencari role model, serta memilih pergaulan yang baik. Pada dasarnya, ketika seseorang dihadapkan dengan sesuatu yang bersifat materialistis, tapi tidak sesuai dengan value mereka, orang tersebut tidak akan tergoda.. “Value akan membantu kita mengetahui mana yang lebih baik untuk diikuti dan tidak,” tambah Mbak Tanti sebagai penutup sharing session malam itu.

Kalau ditanya, ambisi itu berarti tidak boleh berlebihan juga dong? Tidak dong, sebab ambisi itu ibarat api atau bahan bakar di dalam diri kita. Maka, tak perlu dikurangi atau ditahan selama kita tahu rambu-rambunya. Apa itu? Ya, niat dan value diri sendiri.

Sebagai penutup ketiganya berpesan, cari tahulah apa yang menjadi kebahagiaan kita. Ketika mengetahuinya, kita akan lebih mengetahui batasan cukup bagi diri sendiri. Jangan pedulikan orang di sekitar kita karena ketika kita bahagia mereka juga akan merasakan kebahagiaan tersebut. Kebahagiaan tidak diukur dari uang semata.

Redaksi Pemimpin.ID