HeadlineLeadership ReviewKita Semua Menginginkan Work-Life Balance, tapi Apa Kita Sudah Memahaminya?

Redaksi Pemimpin.IDFebruary 16, 202150
pexels-francesco-ungaro-2325446

Abstrak. Work-life balance merupakan dambaan banyak pekerja. Bayangan tentang memiliki karier dan kehidupan pribadi yang sama-sama membahagiakan merupakan north star yang terdengar sangat ideal. Namun, ironisnya, banyak pula yang lantas merasa tidak pernah mempunyai work-life balance tersebut karena persepsi yang begitu sempurna tentang keseimbangan karier dan kehidupan pribadi. Maka, work-life balance perlu dipahami sebagai prioritas seseorang dalam tahapan hidup tertentu dan seberapa puas dia dengan situasi yang ada pada saat itu.

 

Sabtu malam biasanya akrab dengan aktivitas bersantai. Quality time bersama keluarga atau menghabiskan episode serial TV lewat layanan streaming barangkali ialah ragam kegiatan yang lebih khas pada waktu tersebut. Namun, bagaimana kalau justru malam yang tenang damai ini diinterupsi dengan pekerjaan?

Gambar: Tangkapan layar twit Pandji Pragiwaksono

Komedian Pandji mengaku melakukan hal itu kepada para pegawainya. Dalam twitnya yang memancing banyak reaksi warganet, dia mengungkap, “Gue baru aja kirim pesan kepada tim gue tentang pekerjaan pada pukul 00.44 hari Sabtu.”

“Orang pikir bekerja sama gue itu asyik dan penuh tawa. Padahal, Pandji si Pengusaha itu berbeda banget dengan Pandji si Komedian. Gue memaksa, menuntut, dan enggak memilah kata. Ditambah lagi, gue cepat memecat orang,” tambahnya. Sepertinya bagian ini yang lebih banyak menciptakan keriuhan di dunia maya.

Melihat ekspresi dalam twit di atas, bagaimana menurutmu? Apakah bekerja di bawah bos seperti itu menekan? Apakah tekanannya akan membuatmu nyaman? Satu lagi, yang terpenting, apakah di bawah kondisi yang demikian kamu akan bisa mencapai work-life balance?

Tapi, Apa Itu Work-Life Balance?

Secara harfiah, work-life balance biasa dimaknai sebagai “keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi”. Orang yang mempunyai work-life balance dimisalkan seperti orang yang work hard, play hard alias mampu mempunyai kehidupan yang ideal di kantor dan di rumah. Ini tentu merupakan gaya hidup impian setiap insan. Keuangan terjamin karena pekerjaan yang stabil; kehidupan bahagia karena tetap bisa dinikmati.

Apakah pendefinisian kita terhadap work-life balance turut berkontribusi pada sulitnya mencapai hidup yang ideal tersebut?

Kesempurnaan tersebut membuat istilah work-life balance mungkin tidak terlalu asing bagi kita. Biasanya, work-life balance disuarakan oleh para pekerja kantoran yang sedang bergulat dengan karier dan kehidupan pribadi. Survei oleh portal pencarian kerja JobStreet, misalnya, menemukan bahwa 85% dari 17 ribu responden mengaku tidak merasakan work-life balance dalam hidup mereka.

Mengapa work-life balance terkesan sulit diraih? Tuntutan industri yang semakin sengit tentu jadi salah satu faktor utama. Namun, manusia adalah makhluk yang adaptif. Jika kondisinya memang begini, apakah pendefinisian kita terhadap work-life balance turut berkontribusi pada sulitnya mencapai hidup yang ideal tersebut?

Meluruskan persepsi tentang work-life balance

Banyak sekali definisi mengenai work-life balance yang tersebar di banyak literatur. Kalliath dan Brough (2008) mengumpulkan definisi-definisi work-life balance yang ada dan mengelompokkannya sebagai berikut:

  • Work-life balance berarti memiliki banyak peran dalam hidup
  • Work-life balance berarti kesetaraan waktu dan kepuasan dalam setiap peran
  • Work-life balance berarti kepuasan atas semua peran
  • Work-life balance berarti pemenuhan atas ekspektasi dalam berbagai peran
  • Work-life balance berarti memaksimalkan kepuasan dan meminimalisasi konflik antar peran dalam hidup
  • Work-life balance berarti mempunyai kontrol atas berbagai peran

Enam definisi yang berbeda di atas tampak berbeda-beda, tetapi bisa dipakai masing-masing menurut pengalaman dan kondisi setiap orang.

Namun, beragam definisi tentang work-life balance tadi bisa disatukan dalam satu kalimat saja. “Work-life balance adalah persepsi seseorang atas kecocokan aktivitas kerja dan nonkerja yang menunjang pertumbuhan diri menurut prioritas hidup individu saat itu,” menurut Kalliath dan Brough (2008).

Work-life balance adalah persepsi seseorang atas kecocokan aktivitas kerja dan nonkerja yang menunjang pertumbuhan diri menurut prioritas hidup individu saat itu.” 

Kalliath dan Brough (2008)

Work-life balance sejatinya seputar persepsi dan prioritas

Dari definisi tersebut, sebenarnya work-life balance merupakan konsep yang bersifat individual. Work-life balance bukan berarti menyeimbangkan alokasi waktu dan tenaga antara kerja dan urusan pribadi secara mutlak. “Balance” tidak serta merta berarti situasi 50-50. 

Dalam literatur terbaru, biasanya konsep ini juga disebut sebagai “work-life harmony”. Maknanya, kehidupan work dan life memang tidak perlu dibuat seimbang secara mutlak, melainkan diatur sedemikian rupa untuk saling menunjang kesatuan gaya hidup yang harmonis (Ong & Jeyaray, 2014).

Work-life balance bukan berarti menyeimbangkan alokasi waktu dan tenaga antara kerja dan urusan pribadi secara mutlak. “Balance” tidak serta merta berarti situasi 50-50.

Persepsi dan prioritas justru menjadi kunci penting untuk menentukan balance antara work dan life. Dalam mencapai work-life balance, seseorang berarti memfokuskan diri terlebih dulu pada pertumbuhan diri (self-growth). Ini bentuknya bisa apa saja, seperti peningkatan softskill, penyaluran hobi, rekreasi bersama keluarga, dan mengejar promosi di tempat kerja. 

Apapun itu, penentuannya bergantung pada prioritas seseorang pada suatu periode dalam hidupnya. Bagi orang yang memprioritaskan kerja, barangkali meladeni bos pukul 00:44 menjadi sesuatu yang membuatnya bersemangat. Terdengar aneh, ‘kan? Apalagi bagi orang yang memprioritaskan pertumbuhan dirinya lebih ke arah rekreasi, hobi, keluarga, dan sebagainya. Balance bagi mereka punya bentuk yang sangat berbeda.

Maka, persepsi seseorang atas porsi dan kecocokan aktivitas-aktivitas di ranah kerja dan nonkerja jadi sangat vital bagi pengalaman mempunyai work-life balance di dalam hidupnya.

Bagi orang yang memprioritaskan kerja, barangkali meladeni bos pukul 00:44 menjadi sesuatu yang membuatnya bersemangat … Balance bagi mereka punya bentuk yang sangat berbeda.

Cara Meraih Work-Life Balance

Meski balance bagi setiap orang bisa jadi tak sama, sebab bergantung pada prioritas pertumbuhan diri yang beragam, tetap ada prinsip meraih work-life balance secara umum. Artikel dari Lupu dan Ruiz-Castro (2021) yang dirilis oleh Harvard Business Review mengemas langkah-langkahnya sebagai berikut:

    1. Berhenti sejenak

Ketika terasa ada yang salah dengan daur hidup harian yang tengah dijalani, coba berhenti sejenak dan ambil sudut pandang yang introspektif. Pikirkan lagi, apakah yang kamu tengah kerjakan ini sesuai dengan nilai hidupmu? Apakah secara jangka panjang inilah yang kamu ingin tekuni? Apa saja yang kamu korbankan sekarang? Apakan semuanya worth it?

2. Perhatikan kondisi emosi

Amati perasaan yang bergejolak sebagai reaksi terhadap aktivitas yang menyibukkanmu saat ini. Apakah kamu merasa puas, senang, dan nyaman? Atau justru marah, kesal, dan suntuk? Penting untuk bisa mendeteksi situasi yang memicu reaksi emosi tertentu. Apakah pekerjaan yang memicunya? Atau malah sumbernya dari teman, keluarga, dan diri sendiri?

3. Buat prioritas yang baru

Setelah itu, tentukan pertumbuhan diri yang ingin kamu wujudkan dalam dirimu saat ini. Prioritaskan itu dan pilih cara untuk menempuhnya. Apakah kamu bersedia untuk bekerja lebih keras lagi untuk meraihnya? Atau, sebaliknya, apakah kamu sekarang butuh istirahat dan memperbanyak refleksi diri bersama teman dan keluarga?

4. Pertimbangkan alternatif

Apapun yang tengah berjalan sekarang masih bisa diubah demi mencapai prioritas yang baru tersebut. Jika pekerjaan kini telanjur menjemukan, beranikan diri untuk bereksperimen dalam mencari variasi lain untuk melakukannya. Jika keluarga menjadi prioritas yang baru, cobalah temukan cara untuk menyesuaikan beban pekerjaan sehingga dapat mengakomodasi kepentingan keluarga. Perencanaan untuk melakukan ini semua mungkin tidak akan mudah, tetapi penting untuk menjamin balance.

5. Terapkan perubahan

Sesudah merencanakan langkah 1 hingga 4, saatnya untuk menerapkannya secara konkret. Caranya bisa dengan menjalin komunikasi dengan rekan kerja atau keluarga tentang pilihan yang sudah diambil. Bisa juga dengan mengubah serangkaian pola pikir dan kebiasaan yang melekat dalam diri. Baik itu cara yang melibatkan orang lain atau yang hanya melibatkan diri sendiri, prosesnya mungkin kompleks dan memakan waktu, jadi pelan-pelan saja. Tidak usah ragu juga untuk meminta bantuan jika perlu.

Langkah-langkah di atas bukan sulap yang dilakukan sekali dan langsung berbuah work-life balance. Justru, lima langkah tersebut merupakan perjalanan yang dilakukan terus menerus untuk membantumu selalu bisa menjamin keseimbangan hidup. Tentu saja akan selalu ada masalah hidup, baik itu dalam konteks kerja maupun pribadi, tetapi kamu dapat memilih untuk bereaksi berdasarkan lima langkah tadi.

Work-life balance biasanya didengungkan sebagai mitos bagi pekerja kantoran. Mana mungkin ada kehidupan yang seimbang antara ambisi memperjuangkan karier dan hidup damai tanpa beban? Biasanya, kita perlu memilih satu di antaranya atau mengompromikan dua-duanya. Namun, work-life balance sebenarnya selalu dapat diatur melalui persepsi dan prioritas kita masing-masing di tahapan hidup tertentu. Dengan kata lain, work-life balance sebetulnya bukanlah membuat porsi hidup yang balance, melainkan mewujudkan work-life harmony.

Referensi

73% karyawan tidak puas dengan pekerjaan mereka. (2016, January 4). JobStreet Indonesia. https://www.jobstreet.co.id/career-resources/73-karyawan-tidak-puas-dengan-pekerjaan-mereka/

Kalliath, T. & Brough, P. (2008). Work-life balance: A review of the meaning of the balance construct. Journal of Management & Organization, 14, 323–327. https://deepcbds.com/wp-content/uploads/2020/02/Work-life_balance__A_review_of_the_meaning_of_the_balance_construct.pdf.pdf

Lupu, I. & Ruiz-Castro, M. (2021, January 29). Work-life balance is a cycle, not an achievement. Harvard Business Review. https://hbr.org/2021/01/work-life-balance-is-a-cycle-not-an-achievement

Ong, H. L. C., & Jeyaraj, S. (2014). Work–Life Interventions. SAGE Open, 4(3). 1-11. https://doi.org/10.1177/2158244014544289

 

Photo by: Luis Del Rio

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.