HeadlineLeadership ReviewKita Mungkin Saja Melakukan Micromanaging Tanpa Sadar

Avatar Pemimpin.IDApril 10, 2021406
pexels-andrew-neel-7174515

Raditia Yoke Pratama

ABSTRAK | Penting bagi pemimpin, terkhusus pemimpin organisasi kampus, untuk membangun kepercayaan diri sekaligus memberikan kepercayaan kepada anggota yang lain. Kalau tidak, seorang pemimpin amat mungkin menerapkan micromanaging. Pemimpin.id melakukan survei tentang tipe micromanagement yang paling sering dilakukan oleh para pemimpin organisasi kampus. Sebanyak 53% teridentifikasi ke dalam tipe the unaware micromanager. Artinya, mereka merasa terkadang masih tidak percaya diri terhadap kemampuan kepemimpinannya dan melakukan micromanaging tanpa sadar. Maka dari itu, penting bagi para pemimpin tersebut untuk membangun mindset yang benar serta mulai meningkatkan kepercayaan kepada anggota.

Pernahkah kamu mendengar istilah micromanagement? Dalam organisasi, micromanagement adalah sebuah praktik yang tidak seharusnya dilestarikan oleh pemimpin organisasi terutama di kampus. Pearl Zhu, penulis buku Digital Master, mengatakan bahwa hasil dari micromanagement memang akan membuahkan hasil dalam jangka waktu pendek, tapi seringkali menghasilkan kerusakan dalam jangka panjang (Barman, 2021). Definisi dari micromanagement sendiri bisa dibaca di sini.

Terkadang pemimpin organisasi di kampus merasa tidak percaya diri atas kapasitas dirinya sebagai pemimpin dan secara tersembunyi menjelma menjadithe unaware micromanager. Dari situlah praktik micromanagement sering kali bermula. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk terlebih dahulu membangun kepercayaan diri sekaligus memberikan kepercayaan kepada anggota yang lain.

Sebagian Besar Pemimpin Organisasi Kampus Masih Tidak Percaya terhadap Kemampuan Kepemimpinannya

Kali ini pemimpin.id telah melakukan survei tentang tipe micromanagement dan disebarkan ke berbagai kampus. Survei tentang tipe micromanagement ini menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh Donna Goodaker (2018) yang diukur dengan skala Likert.

Sebanyak 52 pemimpin organisasi kampus yang tersebar di UNS, ITB, ITS, Unika, ULM, UMS, STMM, UI, UNUD, Jember, STIES, Undipa, UPI, dan masih banyak lagi telah mengisi survei ini. Hasil survei menunjukkan hasil 38% untuk the deliberate micromanager, 52% untuk the reluctant micromanager, dan 53% untuk tipe the unaware micromanager. Perlu diingat, satu orang bisa saja menerapkan lebih dari satu tipe micromanagement.

Dari temuan ini, terlihat bahwa the unaware micromanager memiliki angka paling tinggi dibanding yang lain. Tipe the reluctant micromanager menyusul di posisi kedua dan the deliberate micromanager jadi yang paling sedikit muncul.

Dari data tersebut dapat diartikan bahwa para pemimpin organisasi kampus tersebut rata-rata cenderung memiliki tipe the unaware micromanager. Mereka merasa terkadang masih tidak percaya diri terhadap kemampuan kepemimpinannya. Hal ini ditunjukkan dengan sikap-sikap seperti mengarahkan anggota tentang cara mengerjakan suatu program padahal anggotanya sebenarnya sudah paham apa yang harus dikerjakan. Mereka pun terkadang lebih condong bertanya mengenai progres saja tanpa berusaha memberikan bantuan.

Sementara itu, tipe the reluctant micromanager ditandai oleh perilaku merekrut anggota yang tidak sesuai dengan kualifikasi serta menemui anggota yang menghilang tanpa alasan. Terakhir, tipe the deliberate micromanager ialah mereka yang jarang menjalankan program begitu saja tanpa membicarakan urgensi suatu program kepada tim.

Lalu Apa Saja Dampak dari Praktik Micromanagement?

Dilansir dari Enterprise League (2021), berikut ini dampak-dampak yang dapat terjadi jika praktik micromanagement tidak segera dikurangi:

1.   Motivasi buruk

Micromanagement dapat berdampak pada motivasi anggota organisasi. karena para anggota tidak diberikan kesempatan yang luas untuk berinovasi sehingga motivasinya menjadi semakin berkurang. Dampak yang dikhawatirkan adalah anggota tersebut menjadi tidak produktif dan tidak nyaman di organisasi tersebut.

2.   Tidak percaya diri

Keputusan yang terus diarahkan oleh pemimpin kepada anggotanya jelas akan mengakibatkan kepercayaan diri anggota tersebut berkurang. Ini terjadi jika anggota tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. nggota yang sering diberi arahan, bahkan untuk hal-hal detail, akan mengalami penurunan kepercayaan diri.

3.   Membatasi kreativitas

Ketika motivasi sudah melemah dan kepercayaan diri berkurang,daya untuk berkreasi dan berinovasi pasti berkurang. Anggota butuh ruang yang luas untuk mengeluarkan potensinya dan mengambil keputusan sendiri. Selain akan membuat mereka merasa bertanggung jawab, otonomi bagi anggota juga memungkinkan ide-ide unik yang belum pernah ada sebelumnya bisa jadi tercipta.

4.   Performa tim yang buruk

Micromanagement menyebabkan anggota akan merasa jika apapun yang ia lakukan secara konstan diawasi. Kecemasan dan kekhawatiran pasti akan dialami oleh anggota tersebut. Jika hal itu terjadi di setiap anggota, tentu akan berdampak kepada performa tim yang tidak optimal.

5.   Menghabiskan energi si pemimpin

Spesifik bagi pemimpin, micromanagement akan membakar habis energimu. Pekerjaanmu sendiri sebagai pemimpin akan berantakan. “Sebagai direktur, saya selalu memastikan kerja setiap anggotaku segala sesuatu berjalan baik. Dalam jangka pendek, tidak banyak masalah. Namun setelah beberapa bulan, itu membuat saya lelah dan stres, saya menjadi tidak fokus,” pungkas Chris Prasad, Direktur Marketing JookSMS (Enterprise League, 2021).

Solusi untuk Para Pemimpin di Organisasi Kampus
1.   Tingkatkan kepercayaan

Beranilah untuk menaruh kepercayaan kepada anggota. Semakin anggota diberikan kepercayaan, semakin mereka belajar, dan akan semakin terbangun kesadaran serta tanggung jawab. Ini akan menjadi fondasi yang baik dalam performa berikutnya.

2.   Kurangi mentoring formal, tambahkan mentoring informal

Ajak anggota untuk makan siang dan bangun obrolan yang natural, tetapi penuh dengan nilai. Itu akan lebih mudah diterima karena hubungan yang dibangun adalah hubungan kultural. Selain akan lebih merekatkan hubungan secara kultural, pendekatan ini juga pasti akan berpengaruh terhadap produktivitas tim.

3.   Bangun mindset yang tepat

Bangun perspektif bahwa setiap orang punya keunikan dan tanggung jawab masing-masing. Apabila anggota diberi kesempatan menggabungkan keunikan dengan tanggung jawabnya, maka hasil yang didapat bagi organisasi akan lebih variatif dan optimal. Jika perlu, lakukan meditasi supaya pikiran kita tenang tentang kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat kita cemas dan akhirnya membuat kita bertindak micromanaging.

4.   Libatkan anggota dalam diskusi sebelum mulai proyek

Pastikan selalu libatkan anggota dalam diskusi-diskusi proyek supaya kita bisa melihat perspektif anggota secara langsung yang barangkali tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Dari sini, seorang pemimpin dapat memperoleh pengetahuan tentang performa anggota dan akhirnya dapat memilih keputusan yang lebih bijak.

 

Referensi:

Barman, J. P. (2021, March 23). How micromanagement is harming your company. https://blog.vantagecircle.com/micromanagement/

Enterprise League. (2021, March 1). 10 negative effects of micromanagement with severe consequences. https://enterpriseleague.com/blog/negative-effects-of-micromanagement/

Goodaker, D. (2018, November 13). Micromanagement is not a leadership strategy. https://medium.com/publishous/micromanagement-is-not-a-leadership-strategy-b6a31e660b9

Pemimpin.id. (2021, March 1). Kenapa ada pemimpin yang micromanaging?.  https://pemimpin.id/kenapa-ada-pemimpin-yang-micromanaging/

 

Photo by: Andrew Neel

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.