ArtikelHeadlineKisah Leonard Saleo, Pahlawan dan Pemimpin Konservasi dari Timur Indonesia

Avatar Pemimpin.IDMay 8, 2021166
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/05/andrew-neel-1-29wyvvLJA-unsplash-1280x853.jpg

oleh Konstantinus Saleo

 

Pada 13 Maret 1968, di sebuah kampung di Pulau Batanta lahirlah seorang bayi yang hari ini menjadi pahlawan konservasi. Ia adalah Leonard Saleo, laki- laki yang lahir dari pasangan Hendrikus Balay Saleo dan Aleksina Mayor. Masa kecil Leonard, yang biasa dipanggil Leo, dihabiskan di kampung Yensawai, Pulau Batanta, Raja Ampat. Leo sehari-sehari beraktivitas sebagai nelayan, petani dan juga guru tari tradisional di kampungnya. Leo tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tak kenal takut menyuarakan hak-hak lingkungan masyarakat yang kadang diabaikan oleh pemerintah. Leo juga rajin mengingatkan masyarakat di sekitarnya untuk tidak melakukan aktivitas terlarang seperti menebang pohon secara liar, dan memancing menggunakan bom ikan atau potasium.

Pada tahun 2005, Leo diterima menjadi bagian dari sebuah Lembaga advokasi konservasi alam, yaitu Conservation International (CI), yang berlokasi di kota Sorong. Memulai karirnya di CI, Leo melakukan banyak kegiatan untuk memperkenalkan pentingnya konservasi laut dan hutan bagi kehidupan manusia. 

 

Perjuangan Anak Negeri

Pada tahun 2007, Leo membangun sebuah pos penjagaan Laut dan Hutan di Pulau Dayan. Pembangunan pos tersebut berjalan baik dan mendukung aktivitas penjagaan serta patroli laut dan hutan. Seiring berjalannya waktu, Leo mulai mengajak masyarakat di beberapa kampung di pesisir Pulau Batanta, seperti Yensawai, Arefi, Amdui, Yenyar dan Yarweser untuk ikut bergabung dalam kegiatan-kegiatan patroli di  Pulau Batanta. Kegiatan patroli tersebut berhasil mencegah dan menangkap pelaku illegal logging, illegal fishing untuk diserahkan kepada pihak berwajib di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat.  

Kerja keras Leo tidak berhenti untuk mempertahankan keberlangsungan Sumber Daya Alam di Raja Ampat, khususnya Pulau Batanta. Hal ini ia perjuangkan agar sumber daya alam tetap terjaga untuk hari ini, esok dan masa yang akan datang. Namun sayangnya, keberanian dan perjuangan seorang Leo berujung pada kematian. 

 

Berujung Maut

Di awal tahun 2010, tepatnya bulan Maret tangal 1, jarum jam menunjukkan pukul 09:30 pagi WITA. Leo berangkat patroli sendirian dari pos penjagaan Pulau Dayan. Sebelum-sebelumnya, Leo pasti mengajak anak-anak buahnya untuk bersama-sama melakukan  patroli. Tetapi, pagi itu berbeda. Leo memutuskan untuk pergi sendiri dan tak seorang pun mengikutinya. Ia pergi menggunakan perahu long boat Yamaha dengan kekuatan mesin laut 40. Di pagi itu juga, Leo menyisir hutan untuk mengecek beberapa lokasi yang biasanya marak terjadi aktivitas illegal logging. Sebelumnya, Leo sudah mendengar informasi dari masyarakat sekitar yang mengatakan bahwa mereka kembali menemui pelaku illegal logging di beberapa lokasi di Pulau Batanta. Benar saja, pada  pagi itu pula, Leo bertemu dengan 3 penebang pohon Tanpa berpikir panjang. Leo langsung mendatangi mereka untuk menjelaskan kedatangannya untuk menghentikan aktivitas para penebang.

Tetapi, belum sempat Leo membuka mulut, tiba-tiba salah satu penebang bernama Yotam Talaga meraih parang dan tombak yang ternyata memang sudah mereka siapkan untuk mencegah kedatangan patroli seperti Leo. Leo sempat merebut senjata-senjata dari orang tersebut dan membawanya ke perahunya dengan maksud menaruh alat-alat itu di situ. Selagi Leo berjalan ke arah perahu, datang juga perahu yang lain yang berisi kerabat Leo, yakni Elias Saleo dan Andi Saleo beserta rekan-rekannya. Jarak antara perahu Leo dan mereka sekitar 15 meter ketika Yotam masih berjalan mengikuti Leo untuk meminta alat-alatnya dikembalikan, dengan alasan alat-alat itu akan digunakan untuk berburu babi.

Akhirnya Leo mengembalikan alat-alat tersebut, dengan harapan mereka bisa diajak duduk bersama berdiskusi mengenai aktivitas illegal logging yang jelas dilarang. Namun, tanpa diduga, Yotam mengambil parang dan mengarahkan parang tersebut ke arah Leo dengan maksud membunuhnya. Lengan kanan Leo robek akibat tebasan dari parang yang diayunkan Yotam. Ia berusaha lari menuju perahunya, namun langkah kakinya melambat karena tanah yang berlumpur. 

Yotam terus mengejar Leo dengan 2 tombak di tangannya. Sasaran lemparan tombak Yotam yang pertama adalah kerabat dan anak buah Leo, namun malah melesat ke perahu Leo. Leo berteriak kepada orang-orang di perahu yang baru datang dan semuanya berlari menyelamatkan diri dari buasnya Yotam. Lalu, tombak kedua dilemparkan ke arah Leo, namun Leo berhasil menghindari sasaran tombak tersebut dan berusaha melempar balik ke Yotam. Sayangnya, lengan tangan kanan Leo yang terluka parah sudah tidak kuat, dan lemparan tombak itu pun meleset. Yotam mencabut tombak itu dari tanah, dan akhinya menggunakannya untuk mengakhiri nyawa Leo. Leo jatuh terbaring di atas lumpur Pulau Batanta yang begitu merah karena darah, dan nyawanya hilang seketika. 

Jatuhnya Leo memicu angkara murka Elias dan Andi Saleo. Mereka yang awalanya sudah lari menyelamatkan diri, langsung berbalik dan mengejar Yotam ketika mendengar Leo berteriak, “yamarkwa!” yang artinya ‘saya mati sudah’. Elias dan Andi menangkap Yotam dan melampiaskan kemurkaannya tanpa ampun hingga Yotam pun akhirnya tak bernyawa lagi.

Pada sebuah pagi yang sangat dingin di hutan Batanta, terbaring dua orang tak bernyawa, Leonard Saleo dan Yotam Talaga. Hutan Batanta yang begitu hijau dan rimbun menjadi saksi bisu terjadinya pertumpahan darah dan tumbangnya seorang anak negeri dan pahlawan pahlawan konservasi laut dan hutan Raja Ampat. Meninggalnya seorang Leo menghentikan perjuangannya untuk terus melakukan konservasi laut dan hutan di Raja Ampat. 

Sepanjang Maret dan April 2010, suasana di kampung Yensawai mencekam dilanda tangis duka masyarakat di seluruh Pulau Batanta. Berita heroisme Leo pun perlahan tersebar ke seluruh tanah Papua, berita bahwa salah satu pahlawan konservasi telah meninggal dunia di tangan seorang penebang liar.

 

Perjuangan Membuahkan Hasil Yang Baik

Pengorbanan Leonard Saleo membuahkan hasil yang manis. Setelah kematiannya, pemerintah Provinsi Papua bergerak cepat, dan pada akhirnya seluruh hutan Pulau Batanta kini telah terlindungi oleh pemerintah Raja Ampat dan beragam Lembaga pemerhati lingkungan. Tragedi ini juga berujung pada ditahannya pemilik sebuah perusahan kayu besar di Papua, Sitorus, yang beroperasi secara ilegal di hutan Batanta selama bertahun-tahun dan akhirnya harus menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel tahanan. 

Dengan begitu, masyarakat hutan Batanta begitu berharap tidak akan ada lagi penebangan hutan secara liar, maupun pelanggaran alam lainnya. Pada akhirnya, masyarakat Raja Ampat, khususnya masyarakat Pulau Batanta, belajar mengolah hutannya dan lautnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan sehari-sehari. Berkat pengorbanan Leo, tidak ada lagi penduduk yang memakai bom ikan atau potasium karena mereka telah sadar dan berbalik untuk kembali menjaga dan melestarikan alam pulau Batanta sampai saat ini.

Akhir perjuangan Leonard Saleo telah melahirkan banyak generasi baru yang peduli terhadap lingkungan dan alam di pulau Batanta. Gugurnya Leo memupuki semangat baru untuk tetap memperjuangkan, melindungi dan melestarikan alam titipan Tuhan yang begitu indah di Pulau Batanta.

 

Photo by: Andrew Neel

 

 

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.