HeadlineJurnalKepemimpinan dan Parenting: Apa Kesamaannya?

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/07/cdc-20YP7NENJzk-unsplash-1280x853.jpg

Setiap tahun pada tanggal 23 Juli, Indonesia merayakan Hari Anak Nasional. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA RI) menyatakan bahwa hari tersebut bertujuan untuk memperingati “kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak”.

Berdasarkan pernyataan tersebut, peringatan Hari Anak Nasional juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan lingkungan keluarga yang lebih optimal, harmonis, dan bermanfaat bagi perkembangan anak. Keluarga, terutama orang tua, memiliki peran besar di kehidupan anak. Maka, orang tua sebaiknya mempelajari dan memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam mengasuh anak (parenting), seperti keterampilan berkomunikasi dan regulasi emosi.

Ternyata, keterampilan yang bermanfaat dalam parenting juga berhubungan dan bisa diaplikasikan dalam kepemimpinan, lho! Sebenarnya, dalam perspektif tertentu, orang tua juga merupakan pemimpin. Mengasuh anak dapat menyediakan peluang bagi orang tua untuk mengasah keterampilan memimpin.

Dalam TED Talk-nya, Simon Sinek, penulis buku Leaders Eat Last, mengungkapkan bahwa seorang pemimpin yang hebat adalah yang berperilaku seperti orang tua yang baik. Seperti orang tua kepada anaknya, pemimpin ingin memberikan kesempatan kepada karyawan atau tim mereka untuk “mendapatkan pendidikan, mendisiplinkan bila perlu, membangun kepercayaan diri, mengambil peluang, dan mengalami kegagalan”, agar mereka bisa meraih banyak pencapaian di masa depan.

Sinek juga membicarakan tentang Charlie Kim, penemu Next Jump, sebuah perusahaan e-commerce. Next Jump terkenal dengan menerapkan “No Firing Policy”, yang menawarkan komitmen lifetime employment, yaitu karyawan tidak dapat dipecat karena masalah performa kerja. Dalam kata lain, karyawan bisa merasa aman dalam menampilkan kelemahan atau melakukan kesalahan tanpa merasa takut akan dihukum atau dipecat. 

Sumber : Christina Morillo – pexels.com

Ketika ada karyawan yang mengalami kesulitan, Next Jump akan berusaha untuk mendukung mereka dan membantu menyediakan solusi. Hal ini sama seperti yang dilakukan orang tua yang baik ketika anak mereka menghadapi tantangan atau kegagalan.

Pengadopsian kebijakan atau budaya seperti yang diterapkan dalam parenting berarti seorang pemimpin mengedepankan psychological safety (keamanan psikologis) karyawan atau anggota timnya. 

Menurut Edmondson (1999), tim yang menjunjung tinggi psychological safety memiliki karyawan yang “merasa percaya diri bahwa anggota tim tidak akan mempermalukan, menolak, atau menghukum seseorang karena berbicara atau berpendapat”. Psychological safety berakar dari rasa saling menghormati dan kepercayaan antara anggota tim.

People Operations perusahaan Google melakukan pengumpulan data untuk mengetahui apa yang membuat sebuah tim di Google bisa efektif. Hasil mereka rumuskan dalam bentuk 5 dinamika yang menjadi kunci tim yang sukses. Dari kelima dinamika tersebut, psychological safety merupakan yang paling penting dan merupakan fondasi dari keempat lainnya.

Mengapa? Kita semua enggan untuk melakukan hal-hal yang bisa memperburuk pandangan orang lain terhadap kita. Misalnya, takut untuk berpendapat karena tidak ingin diberi label sebagai individu yang “sok tahu”. Namun, kepercayaan seperti ini bisa menghalangi efektivitas kinerja tim serta kelancaran pemikiran strategis individu. Maka, anggota tim yang merasa aman dengan satu sama lain cenderung lebih bersedia untuk mengakui kesalahan, bekerja sama orang lain, dan mengambil peran baru.

Tinjauan literatur mengenai psychological safety oleh Newman et al. (2017) menunjukkan hasil yang mendukung. Sebagian besar penelitian menyatakan bahwa psychological safety adalah mekanisme yang dapat mendorong karyawan untuk berbagi pengetahuan, serta meningkatkan keterlibatan, kreativitas, inovasi, dan kinerja mereka.

Psychological safety juga berhubungan dengan koordinasi dalam organisasi atau tim. Aspek-aspek koordinasi yang baik — memiliki tujuan bersama, saling berbagi pengetahuan, dan saling menghormati — tampaknya kondusif untuk pengembangan psychological safety (Carmeli & Gittell, 2009). Apabila karyawan merasa aman untuk berbicara tentang kesalahan dan masalah tanpa merasa takut akan konsekuensinya, maka tim dapat bekerja dengan selaras dan damai.

Mari kita kembali lagi kepada Simon Sinek, yang mengatakan bahwa “a great leader is like being a parent”. Menurutnya, peran seorang pemimpin adalah untuk memastikan bahwa lingkungan kerja kondusif bagi para karyawannya. Jika lingkungan tersebut salah, anggota tim akan terpaksa untuk menghabiskan banyak energi dan waktu untuk melindungi diri dari satu sama lain dibandingkan untuk bekerja, dan pada akhirnya dapat berisiko untuk melemahkan organisasi. 

Sebaliknya, jika lingkungannya sudah sesuai dan nyaman, setiap orang memiliki kapasitas untuk melakukan hal-hal luar biasa dan bekerja dengan maksimal, sehingga bisa tercapainya tujuan bersama.

Referensi

Carmeli, A., & Gittell, J. H. (2009). High‐quality relationships, psychological safety, and learning from failures in work organizations. Journal of Organizational Behavior: The International Journal of Industrial, Occupational and Organizational Psychology and Behavior, 30(6), 709-729. https://doi.org/10.1002/job.565

CharlieHR. (n.d.). Culture spotlight: Next Jump, the company which never fires anyone for performance reasons. https://www.charliehr.com/blog/next-jump-ddo/

Delizonna, L. (2017, August 24). High-Performing Teams Need Psychological Safety. Here’s How to Create It. Harvard Business Review. https://hbr.org/2017/08/high-performing-teams-need-psychological-safety-heres-how-to-create-it

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative science quarterly, 44(2), 350-383. https://doi.org/10.2307/2666999

Newman, A., Donohue, R., & Eva, N. (2017). Psychological safety: A systematic review of the literature. Human Resource Management Review, 27(3), 521-535. https://doi.org/10.1016/j.hrmr.2017.01.001

Rozovsky, J. (2015, November 17). The five keys to a successful Google team. re:Workhttps://rework.withgoogle.com/blog/five-keys-to-a-successful-google-team/

TED. (2014, May 19). Why good leaders make you feel safe | Simon Sinek [Video file]. https://www.youtube.com/watch?v=lmyZMtPVodo

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020