JurnalKepemimpinan dalam Manajemen Krisis

Redaksi Pemimpin.IDApril 27, 2020378
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/04/manajemen-krisis-2-1-1280x685.png

Pendahuluan

Krisis adalah keadaan yang mutlak terjadi karena hal-hal disruptif seperti perubahan cepat di dalam organisasi, perubahan kondisi perekonomian, permasalahan anggota organisasi, perubahan teknologi yang tidak terduga, serta dampak keputusan politik yang menyebabkan guncangan stabilitas pada organisasi (Fener & Cevik, 2015). Di luar itu ternyata saat ini kita menemukan bahwa sebuah pandemi seperti COVID-19 memberikan pengaruh krisis yang luar biasa kepada banyak organisasi di berbagai bidang.

Organisasi manapun baik institusi pendidikan, kesehatan, maupun bisnis pasti menghadapi masa-masa krisis, karena krisis lekat dengan tuntutan perubahan sepanjang waktu. Krisis di satu sisi dapat diprediksi, namun di sisi lain bisa juga datang secara tidak terduga. Krisis memberikan efek menyeluruh tidak hanya kepada organisasi, melainkan juga kepada individu-individu, baik yang terlibat di internal organisasi maupun di eksternal organisasi.

Sebelum bisa memimpin di situasi krisis, kita perlu memahami dulu apa itu tipe-tipe krisis, Menurut Lerbinger (1997) tipe krisis terbagi ke dalam 8 tipe:
1. Bencana alam
2. Krisis teknologi
3. Konfrontasi
4. Kedengkian
5. Pengelolaan manajemen yang keliru
6. Kekerasan di tempat kerja
7. Rumor
8. Bencana buatan manusia

Perlu disadari oleh pemimpin bahwa perkembangan suatu organisasi tidak selamanya eksponensial. Terkadang organisasi dituntut oleh situasi krisis seakan menjadi seperti kurva yang menurun. Efek dari situasi krisis tersebut bisa merugikan sistem organisasi, anggota organisasi, bahkan penerima manfaat dari organisasi. Mari kita ambil contoh-contoh dampak yang disebabkan pandemi COVID-19.

Baca Juga : Darurat Kepemimpinan Krisis di Indonesia

Pertama sistem pembelajaran di sekolah dan universitas terganggu sehingga siswa harus belajar di rumah. Kedua, usaha kecil mulai tutup karena sepinya pengunjung. Ketiga, kantor-kantor terpaksa harus mengarahkan karyawannya bekerja di rumah. Masih banyak contoh lain yang terdampak oleh situasi krisis ini. Krisis membuat segala yang telah ditetapkan menjadi perlu direncanakan ulang.

Manajemen Krisis

Pada situasi krisis dibutuhkan peran pemimpin dalam melakukan manajemen krisis. Manajemen krisis bagi seorang pemimpin ibarat sebuah seni dalam mengubah kurva yang menurun menjadi kembali menanjak. Bayazit (dalam Fener & Cevik, 2015) menjelaskan bahwa terdapat tiga proses manajemen yang umumnya digunakan untuk mengatasi krisis pada sebuah organisasi, yaitu: manajemen pra-krisis, manajemen krisis, dan manajemen pasca-krisis.

Dalam masa pra-krisis (1), manajemen perlu memahami indikator-indikator krisis. Manajemen juga perlu mengubah kondisi krisis yang berpotensi datang, menjadi sebuah kesiapan dalam mencari peluang. Selanjutnya dalam (2) masa krisis, manajemen perlu melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari krisis yang lebih besar. Selanjutnya ketika krisis berakhir, masa (3) pasca krisis pun dimulai. Pada masa ini pemimpin akan menemukan solusi tepat yang disesuaikan dengan perubahan, solusi yang membawa dimensi baru pada aktivitas dan strategi mereka.

Kerangka Kerja Manajemen Krisis

Perubahan menuntut fleksibilitas organisasi dalam berkembang dan cara berpikir setiap anggotanya untuk lebih kreatif. Mental anggota organisasi, pada saat krisis, akan cenderung membutuhkan penyesuaian. Bahkan ada anggota yang menjadi pesimis saat menghadapi krisis. Keadaan demikian dapat dimaklumi karena krisis selalu memberikan efek kejut bagi mereka yang belum pernah mengalaminya. Ketidaksiapan, frustasi, dan hal-hal negatif lainnya secara umum mewarnai lingkungan organisasi.

Langkah pertama yang butuh diambil oleh pemimpin adalah membangun komunikasi yang penuh empati dan motivasi kepada anggotanya tanpa ada satupun yang terlewati. Penting untuk pemimpin memberikan pesan-pesan yang menenangkan demi menjaga stabilitas mental setiap anggotanya. Ketegaran yang ditunjukan oleh pemimpin adalah representasi tangguhnya organisasi, sekaligus menjadi pemicu semangat bagi setiap anggota.

Langkah kedua, pemimpin dalam manajemen krisis butuh membangun nuansa yang menjadikan setiap anggotanya terus berkembang. Situasi krisis merupakan waktu yang tepat untuk seluruh anggota organisasi belajar secara holistik melihat fenomena yang dialami oleh organisasi dan penerima manfaatnya. Langkah ketiga, menjalin kemitraan dengan mitra terkait. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan krisis bersama-sama.

Baca Juga : Sudah Seberapa Efektifkah Gayamu Memimpin?

Pemimpin harus memaksimalkan koneksi kemitraan yang dimiliki selama ini untuk meringankan resiko yang ditanggung organisasi. Dengan demikian pemimpin akhirnya dapat memetakan mitra-mitra yang bersedia untuk bersinergi dalam jangka panjang, karena telah teruji loyalitasnya pada situasi yang tidak menguntungkan. Langkah keempat, pemimpin butuh merencanakan strategi untuk menghadapi situasi selama krisis. Menjadi hal yang mutlak jika organisasi mengalami kerugian selama krisis, maka sikap untuk meminimalisir resiko adalah sikap yang cermat.

Setiap kerugian yang dialami organisasi harus dihitung dengan teliti. Sangat penting untuk organisasi memikirkan batas kerugian yang dapat diterima. Pemimpin juga butuh merencanakan strategi menyambut pasca-krisis dengan penuh semangat. Bagaimanapun optimisme harus disambut dengan perencanaan yang matang, agar kondisi pasca-krisis menjadi momen bagi organisasi untuk lebih kontributif.

Sikap Kepemimpinan dalam Krisis

Kesatuan antara apa yang direncanakan, disampaikan, dan dijalankan sebaiknya tercermin pada diri pemimpin. Terlebih pada situasi krisis, anggota akan melihat pemimpinnya sebagai role model. Bisa saja anggota tersebut belum memiliki pengalaman menghadapi krisis sebanyak yang dihadapi oleh pemimpinnya. Maka dengan demikian, sangat wajar jika anggota menaruh ekspektasi yang besar pada pemimpinnya. Namun pemimpin tetaplah manusia yang tidak luput dari keliru. Sehingga ekspektasi anggota bisa saja tidak terpenuhi.

Di lain sisi, suatu sikap yang akan menjadikan pemimpin tetap berwibawa ketika melakukan kesalahan adalah meminta maaf kepada siapa saja yang merasa dirugikan akibat kekeliruan tindakannya. Meminta maaf mungkin tidak cukup sehingga bisa saja membuat hilangnya sebagian loyalitas, tapi tidak dengan integritas.

Memimpin turut menuntut kita untuk bersikap lebih altruis. Memikirkan orang lain lebih banyak bila dibanding diri sendiri. Sebagaimana peribahasa Belanda mengajarkan “leiden is lijden” yang artinya memimpin itu menderita. Memimpin bukan bertujuan untuk menjadikan anggota sebagai katrol untuk meningkatkan keuntungan pribadi, tapi memimpin bertujuan untuk mengembangkan potensi anggota yang dimilikinya dan menjadikan mereka lebih berharga bila dibanding sebelumnya.

Penutup

Beragamnya bentuk krisis menuntut kesiapan pemimpin pada saat kapanpun. Selama keadaan krisis seorang pemimpin harus dapat membiarkan anggotanya mengekspresikan pendapat mereka secara bebas dan menghargai reaksi mereka. Kondisi yang menurun pada organisasi karena dampak krisis menjadi tantangan bagi pemimpin untuk mengubahnya menjadi kembali menanjak, meski bisa saja harus memakan waktu yang cukup lama. Kualitas seorang pemimpin bisa teruji ketika masa-masa krisis.

Cara pemimpin menyikapi kondisi krisis dapat menjadi salah satu indikator penilaian kualitasnya. Situasi krisis adalah situasi yang penuh keterbatasan. Jika pemimpin mampu memaksimalkan peluang dari keterbatasan, maka yang demikian dapat disebut sebagai pemimpin kreatif. Namun, jika pemimpin hanya mampu mendapatkan peluang dari sumber daya yang tanpa batas, hal itu hanya dapat disebut sebagai pemimpin beruntungan. Sangat jelas perbedaan antara pemimpin yang terbiasa dalam kondisi serba terbatas dengan pemimpin yang hanya terbiasa dalam kondisi serba tanpa batas. Mereka yang mampu memimpin pada kondisi terbatas lebih menarik untuk ditunggu cerita suksesnya.

Referensi:
Fener, Tugba & Cevik, Tugce. (2015). Leadership in crisis management: Separation of leadership and executive concepts. Procedia Economics and Finance, 26. 695-701
Lerbinger, O. (1997). The crisis manager: Facing risk and responsibility. Mahwah, NJ: Erlbaum.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020