InspirasiKekurangan Buku, Beginilah Kisah Anak Perbatasan Bangun Pendidikan

Redaksi Pemimpin.IDNovember 25, 201945
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/11/Atambua-1.jpeg

Tinggal di daerah perbatasan tak lantas membatasi sosok Paskalis Apri untuk menjadi pribadi yang mampu melampaui batas. Optimismenya untuk terlibat membangun negeri begitu terasa saat dia berbagi cerita tentang merintis Taman Baca di Kelurahan Umanen, Kabupaten Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Setapak demi setapak, Paskalis berusaha mewujudkan mimpinya membangun taman baca bagi anak-anak Atambua. Paskalis memulai langkah awalnya pada tahun lalu. Dia mengawalinya dengan mencari tempat yang nyaman untuk anak-anak berkumpul.

Beruntung semesta mendukung. Saat itu, ada seorang warga yang yang merelakan rumahnya untuk dijadikan tempat berkumpul bagi anak – anak. Nama warga itu Deni Nahak.

“Dia seorang PNS sebagai Kepala Bidang di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga. Menurut saya dia idealis sekali,” kata Paskalis saat berbagi cerita kepada PemimpinId.

Sejak saat itu, Taman Baca tersebut dia beri nama Maluk Diak yang artinya Kawan Baik. Meski persoalan tempat untuk Taman Baca sudah terjawab, tugas Paskalis belum selesai. Dia masih harus memutar otak dan memikirkan cara untuk menghimpun buku-buku bacaan.

Namun begitu, pria kelahiran 1992 ini pun tak kehabisan akal. Dia memanfaaatkan jejaring yang selama ini dia kenal untuk ikut terlibat menggalang buku. Beruntungnya, Paskalis menyadari bahwa proses tak selalu berjalan mulus. Apa yang menjadi ekspektasi Paskalis tak terwujud dalam sekejap. Pasalnya, buku-buku yang dia harapkan tak kunjung didapat.

Paskalis bermain dengan anak-anak

Idealisme Paskalis sangat kuat, niatnya juga tulus untuk mengabdi bagi anak-anak negeri. “Keputusan saya sudah bulat kalau anak-anak harus diperhatkikan karena masih banyak yang belum merasakan apa yang saya rasakan hingga bisa mengenyam pendidikan sampai sarjana,” ungkapnya.

Keinginannya yang tulus itulah yang membuat pria alumni Universitas Udayana ini tak kunjung lelah untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak anak-anak. Alih-alih mengutuki persoalan yang sedang menimpa dirinya, Paskalis justru mencari inisiatif-inisiatif baru untuk menemukan solusi. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan menjadi simpatisan bagi komunitas literasi yang bergerak di bidang pendidikan.

Komunitas ini tampaknya menjadi pintu keluar bagi Paskalis untuk mendapat titik terang dari persoalan yang dialaminya. Dari komunitas ini pun, dia menemukan jejaring untuk mendapatkan donasi buku dari Komunitas Buku Bagi NTT.

Apakah kemudian permasalahan selesai? Ternyata tidak sesederhana itu. Sebagai seorang single fighter yang berusaha menghidupi taman baca, Paskalis harus punya cara-cara kreatif yang bisa membuat anak tertarik untuk datang dan membaca buku di sana.

Paskalis sudah tidak bisa mengandalkan Buku Bagi NTT untuk bisa mendatangkan buku-buku baru. Tentu,ini menjadi tantangan tersendiri bagi pria yang memiliki hobi bermain bola ini, lantaran dia harus menghadapi anak – anak yang mengeluh karena semua buku di sana sudah habis dibaca, sementara buku baru belum juga datang.

“Taman Baca ini awalnya bagus, pertama kali anak-anak semangat sekali. Setelah berjalan hampir setahun, sekitar 8 bulan, anak-anak mulai bosan dengan bacaan yang ada itu saja. Sehingga taman baca baru jalan 50%,” cerita Paskalis.

Ketika anak-anak sudah merengek meminta buku baru, lanjut Paskalis, dirinya mencari cara agar anak-anak bisa mengalihkan perhatiannya dan tetap memiliki keinginan untuk datang. Biasanya, Paskalis cenderung mengajak anak-anak untuk bermain.

Hingga saat ini, Paskalis tetap gigih mempertahankan dan mengembangkan Taman Baca Maluk Diak. Agar tetap berkelanjutan, dia bahkan mulai mencari relawan yang bisa membantu mengelola Taman Baca tersebut. Tak hanya pengelola, Paskalis juga tengah mencari relawan yang mau mengajar anak-anak di sana.

Kisah Paskalis menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi penghalang seseorang untuk terus maju. Adanya kemauan yang kuat untuk berusaha dan melatih diri pada akhirnya ikut berkontribusi terhadap terwujudnya impian seseorang. Bekal itulah yang kemudian harus dimiliki oleh seorang pemimpin ketika ingin menggerakan banyak orang. Tak lupa, membuka diri untuk berjejaring dan berkolaborasi pun menjadi nilai tambah juga dalam aksi kepemimpinan kita.

Buat teman-teman yang memiliki buku cerita, buku ilmu pengetahuan, buku bergambar, maupun mewarnai, Taman Baca Maluk Diak sangat terbuka menerima donasi teman-teman semua. Sila hubungi tim PemimpinId melalui DM di Instagram @pemimpin.indonesia ya!

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019