HeadlineJurnalKecerdasan Emosional Seorang Pemimpin

Redaksi Pemimpin.IDJune 1, 2020267
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/06/kecerdasan-emosi-pemimpin-indonesia-covid-19--1280x960.jpg

Kecerdasan emosional (emotional intelligence) merupakan softskill yang butuh dimiliki oleh setiap orang, tidak terkecuali seorang pemimpin. Menurut Psychology Today, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi sendiri dan emosi orang lain. Kecerdasan ini berkaitan antara kompetensi emosional dan sosial; yang berkontribusi pada seberapa efektif seseorang memahami dan mengekspresikan diri mereka, memahami orang lain dan berhubungan dengan mereka, dan kemudian mengatasi stres serta tuntutan sehari-hari.

Menarik apabila kita melihat tingkat kecerdasan emosional Orang Indonesia dibanding dengan Orang Belanda. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa kecerdasan emosional Orang Indonesia berada di bawah Orang Belanda. Orang Indonesia, sampai batas tertentu, lebih terampil dalam berinteraksi dengan orang-orang dekat di lingkungannya daripada dalam interaksi pada situasi formal. Dalam situasi formal, Orang Indonesia mungkin merasa enggan berurusan dengan orang lain. Mereka cenderung pemalu, ragu-ragu, dan waspada; sementara Orang Belanda, sampai batas tertentu, lebih percaya diri.

Penelitian tersebut seharusnya menjadi pembelajaran yang baik bagi Orang Indonesia untuk lebih mempelajari kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional bukanlah sebuah anugerah bagi seseorang sedari lahir, tetapi merupakan sebuah softskill yang terus dilatih. Menjadi pemimpin tentunya harus melatih softskill ini untuk memahami diri sendiri dan untuk memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak.

Karakteristik kecerdasan emosional

Menurut psikolog ternama, Daniel Goleman, orang yang cerdas secara emosional memiliki empat karakteristik:

    1. Self-awareness: emotional awareness, penilaian diri pribadi, dan percaya diri.
    2. Self-management: emotional self-control, kemampuan beradaptasi, orientasi pada prestasi, dan optimis.
    3. Social awareness: empati, organizational awareness, dan orientasi melayani.
    4. Social management: manajemen konflik, inspirational leadership, developing others, dan influence.

Kecerdasan emosional seseorang dapat dilihat ketika orang tersebut pandai memahami emosi mereka sendiri (self-awareness), pandai mengelola emosi (self-management), berempati terhadap dorongan emosi orang lain (social awareness), dan pandai menangani emosi orang lain (social management).

Pemimpin membutuhkan empat karakteristik tersebut untuk menjadi sosok yang cerdas secara emosional. Ketika seorang pemimpin memiliki kecerdasan emosional yang baik, dia akan mampu beradaptasi dengan dunia yang lebih inklusif dan bahkan mampu membawa dunia menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni oleh siapapun.

Sebagai contoh, seorang pemimpin memiliki kepedulian terhadap penyandang difabel tuli (self-awareness). Dia memahami kesulitan-kesulitan yang dialami oleh difabel tuli tersebut seperti infrastruktur dan pelayanan publik yang belum aksesibel (social awareness). Selanjutnya dia mencoba beradaptasi dengan belajar bahasa isyarat untuk bisa memahami lebih dalam seperti apa sulitnya sebagai difabel tuli (self-management).

Pada akhirnya ketika pemimpin tersebut sudah mendapat makna dari pembelajarannya, dia mulai memberikan pengaruhnya untuk membangun kesadaran orang banyak terhadap difabilitas (social management). Di sinilah pentingnya kehadiran seorang pemimpin; melayani dan memberi pengaruh positif kepada pengikut dan calon pengikutnya.

Kecerdasan emosional membentuk kepemimpinan yang efektif

Manusia jelas mendapatkan manfaat dari perkembangan emosi. Bahkan emosi orang-orang di sekitar turut mempengaruhi perkembangannya. Bayangkan sebuah perusahaan yang selalu menerapkan daily scrum, mereka secara penuh empati saling memahami tugas masing-masing rekannya di saat daily scrum berlangsung. Mereka saling mengutarakan kendala yang dialami dan saling memberi masukan. Tentu nuansa nyaman akan terasa di dalam perusahaan tersebut, karena adanya dukungan dan rasa saling memahami antar rekan maupun pimpinan.

Di lain hal terdapat tipe kepemimpinan yang harus kita sadari ternyata memberi ketidakefektifan terhadap kecerdasan emosional kita, tipe kepemimpinan laissez-faire, misalnya. Kepemimpinan laissez-faire atau biasa dikenal sebagai tipe kepemimpinan delegatif merupakan tipe dimana seorang pemimpin banyak menyerahkan keputusan untuk diambil oleh anggotanya. Yang terjadi dari tipe kepemimpinan ini justru kurangnya influence yang dirasakan oleh anggota dari pemimpinnya. Anggota mungkin menjadi lebih produktif karena diberi ruang otonomnya, namun menjadi hampa akan nilai. Pemimpin selain terfokus pada target, dia juga harus bisa menjelaskan kenapa anggotanya harus mengejar target tersebut.

Kepemimpinan yang berelasi baik dengan kecerdasan emosional adalah tipe kepemimpinan yang transformatif-melayani. Tipe kepemimpinan tersebut merupakan tipe kepemimpinan yang dapat melatih kecerdasan emosional seorang pemimpin secara berkelanjutan. Sebagai contoh, pemimpin dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi berhasil mengelola tantangan yang kompleks melalui membangun kepercayaan, kepercayaan diri dan keberanian, memahami kebutuhan orang lain, berkomunikasi secara terbuka dan langsung, menunjukkan kepedulian yang tulus untuk orang lain, dan berkolaborasi.

Maka dari itu, kemampuan beradaptasi dengan tantangan akan terus menjadi pembelajaran berkelanjutan yang baik untuk seorang pemimpin. Dia akan mengejar target dan nilai; bersama anggota-anggotanya dari waktu ke waktu. Bersamaan dengan hal tersebut, karakteristik kecerdasan emosional seorang pemimpin akan terbentuk.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020