HeadlineJurnalKarier vs Keluarga? Bagaimana Bila Keduanya?

Redaksi Pemimpin.IDDecember 23, 2019756
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/family-are-preparing-bakery-together-HUNVKGW-1280x854.jpg

Pilih mana, karier atau keluarga? Pertanyaan ini menjadi dilema yang dialami banyak ibu. Tapi mengapa harus memilih, bila keduanya mampu dijalani. Bahkan dengan dukungan keluarga, kemampuan multi tasking seorang ibu kian berkembang.

Memiliki posisi tinggi pada sebuah perusahaan internasional, tentu membawa dilema tersendiri bagi seorang ibu. Tanggung jawab pekerjaan yang tinggi tidak jarang menguras waktu, energi dan pikiran. Di sisi lain, ada keluarga yang juga menjadi prioritas dan cinta utamanya. Dyah Oetari, Pimpinan LEGO Group untuk Asia Pacific pernah mengalami hal tersebut.

Beruntung, ia mendapat dukungan penuh dan inspirasi dari keluarga terutama kedua putrinya. Sehingga bukan saja mampu menjalankan peran sebagai ibu dan pimpinan bisnis, namun juga berperan aktif dalam pengembangan masyarakat. Melalui personal project bernama Langkah Pertama, ia menyebarkan cinta dan inspirasi kepada anak perempuan lainnya agar memiliki mentally life skill yang dapat membantu kehidupan mereka di masa depan.

Dyah Oetari

Apa latar belakang Ibu mendirikan Langkah Pertama?
Langkah Pertama itu personal project. Saya terinspirasi oleh dua anak saya. Saya merasa dua anak perempuan saya ini beruntung karena mereka bisa mengecap pendidikan. Bisa tinggal di luar Indonesia sehingga mengetahui perbedaan. Itu privillege mereka sekarang.

Saya tahu, saya menggunakan kata-kata privillege karena di luar sana masih banyak anak-anak perempuan yang kurang beruntung. Itu yang paling mendasar kenapa saya mau mendirikan Langkah Pertama.

“Langkah Pertama adalah sebuah proyek sosial yang didirikan oleh Dyah Oetari pada 2017. Rasa syukur Dyah karena memiliki anak-anak perempuan yang bisa mencecap pendidikan layak, membuatnya tergerak untuk membantu anak-anak untuk terus bermimpi dan berani menciptakan masa depan mereka sendiri.”

Mengapa Ibu menjadikan anak-anak Ibu sebagai sumber inspirasi?
Jadi saat saya masih di concept phase, saya banyak kasih pertanyaan ke mereka berdua untuk jadi acuan saya dalam membuat sebuah framework. Ada beberapa insight yang saya tanyakan ke mereka. Bahkan yang berusia 20 tahun, saat tahap eksekusi Langkah Pertama juga ikut turun membantu saya.

Mengapa remaja perempuan menurut Ibu penting untuk diberdayakan sejak awal?
Menurut saya, kesetaraan gender itu masih menjadi masalah sosial yang sangat besar, karenanya saya berpikir anak-anak perempuan ini, terutama mereka yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi harus dibantu.

Bahwa mereka bisa, bahwa mereka tidak lebih rendah dari yang lain. Jadi lebih kepada mentality life skill. Itu yang menurut saya penting untuk ditanamkan ke anak-anak perempuan muda karena dengan bekal keyakinan bahwa saya bisa, it will stay confidence.

Sebagai Ibu rumah tangga dan wanita karier yang masih menyempatkan diri untuk mengerjakan kegiatan sosial, bagaimana Ibu mengelola waktu?
Keluarga saya itu sangat suportif ya, apalagi anak-anak. Jadi karena posisi saya yang duduk di kantor regional, troubling sering banget terjadi, tetapi itu membuat mereka mandiri.

Jadi kalau bilang apakah waktu bisa balance, sebetulnya itu enggak balance. Lebih banyak anak-anak yang sacrifice membiarkan ibunya berkarya di luar sana. Tetapi, in term of value, yang saya terapkan di kantor dan di rumah itu tetap sama. Jadi membangun orang untuk punya inisiatif, kritis, punya motivasi sendiri. Itu yang mau saya coba untuk bangun.

Untuk approach kadang-kadang berbeda antara kantor dan rumah, tetapi kadang-kadang suka kebawa. Jadi kadang di rumah pun kebawa gaya kantornya, which is not good, tetapi kurang lebih seperti itu.

Dyah Oetari bersama kedua anaknya/Dok. Pribadi

Apakah anak-anak Ibu pernah mengungkapkan protes karena kesibukan Ibu?
Enggak, karena sejak kecil saya selalu melibatkan mereka ke dunia pekerjaan saya. Misal ketika saya pertama kali di ritel, Kids Station. Saya bisa membawa mereka, bahkan saat saya sedang review sample, komentar, ide mereka bisa menjadi insight. Sampai ke sini pun, jadi mereka tahu apa yang saya kerjakan.

Hal apa yang coba Ibu tanamkan pada anak-anak sebagai bekal masa depan?
Saya berusaha untuk mencotohkan dan menanamkan self motivation, karena itu yang paling utama. Semangat untuk membangkitkan motivasi diri tentu banyak cara, dan Langkah Pertama adalah salah satunya.

Setelah semua termotivasi dan terinspirasi, kembali ke pertanyaan awal, what’s next for me dan itu the full holistic journey dari mulai termotivasi sampai melakukan sesuatu.

Kecintaan pada anak-anak, pada akhirnya menumbuhkan hasrat untuk juga mencintai anak-anak perempuan di Indonesia yang kurang beruntung. Tujuannya satu, agar motivasi mereka untuk meraih mimpi terus terjaga. Bagi Dyah, siapapun berhak meraih mimpi-mimpinya.

Tahun depan, perempuan yang merupakan alumni Universitas Indonesia ini akan memulai proyek sosial terbarunya. Dyah belum mau menceritakan lebih jelas tentang apa dan bagaimana proyek sosial yang akan dibuatnya. Yang pasti, proyek itu adalah kelanjutan dari proyek Langkah Pertama, yaitu melakukan sesuatu yang konkret setelah mendapat motivasi.

Dyah Oetari hanyalah satu contoh dari banyaknya perempuan Indonesia yang berdaya dan mampu memberdayakan orang lain dengan adanya dukungan dari keluarga. Ada banyak sekali sosok Ibu Indonesia yang menginspirasi dengan caranya masing – masing. Pun kamu, yang sudah bertahan sampai detik ini, sadarkah kamu bagaimana seorang Ibu menuntun perjalanan hidupmu sejauh ini?

Selamat Hari Ibu, Pemimpin Muda!
Semoga kehangatan dan ketulusan Ibu dalam menuai cinta selalu mendukung kita dalam berkarya bagi negeri ini, yah!

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020