InspirasiJangan Ngaku Toleran, Kalau Kamu Belum Berani Melakukan Ini

Redaksi Pemimpin.IDDecember 6, 2019295
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/Toleransi-1280x853.jpg

Toleransi menjadi kata yang sangat sering didengar apalagi di Indonesia. Kalau melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi punya arti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.

Definisi lainnya, toleransi adalah penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja. Jadi, benang merah dari toleransi sebenarnya kemampuan untuk memahami apa yang berbeda dari yang diyakininya dan kemauan untuk menerima itu untuk menjaga harmonisasi hidup bersama.

Menyoal toleransi, belum lama ini IDN Research Institute mengeluarkan laporan terkait kondisi Millenial Indonesia tahun 2019. Ada banyak hal yang menjadi poin penelitian, tak terkecuali tentang bagaimana millenial bersikap terhadap agama dan keyakinan yang berbeda.

Hasilnya, 85,1% millenials mendukung Indonesia sebagai negara Republik. Sementara itu, ada 19,5% menyatakan bahwa Indonesia lebih ideal dengan menggunakan sistem khilafah.

Tepat pada tanggal 16 November 2019 lalu, kita merayakan Hari Toleransi Sedunia. Mengutip tirto.id, Hari Toleransi Sedunia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1996 dengan harapan memperkuat toleransi dan meningkatkan rasa saling mengerti antarbudaya dan bangsa.

Kata “mengerti” dan “memahami” tak pernah luput dalam setiap kalimat yang menjelaskan apa itu toleransi. Jika berusaha memahami perbedaan yang ada saja tidak bisa, apakah masih yakin bisa menerima?

Data IDN Research Institute sedikit melegakan karena ternyata, masih lebih banyak orang yang memperjuangkan keutuhan NKRI sampai saat ini. Tapi, sungguh yakinkah kamu bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja? Memang iya, semua kalangan memahami toleransi dengan baik?

Tampaknya terlalu buru-buru untuk mengatakan kondisi toleransi di Indonesia sejauh ini aman. Masyarakat masih belum bisa sepenuhnya merasa tenang jika masih ada pemberitaan tentang teroris dan khilafah di setiap lini massa.

Toleransi sejatinya tidak berhenti pada sebuah pemahaman dan pengertian, tetapi sampai pada tataran menerima ketidaksamaan itu sebagai sesuatu yang lumrah.

Sayangnya, alih-alih menciptakan sebuah pemahaman yang baik kepada generasi muda, banyak instansi yang justru menanamkan benih – benih intoleransi lewat berbagai cara. Dan, tanpa disangka, salah satu instansi yang melakukan itu adalah instansi pendidikan.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) Ahmad Taufan Damanik dalam pemberitaan kompas.com edisi 15 November 2019 mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong sikap intoleran di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pendidikan agama di sekolah masih menonjolkan narasi eksklusifisme.

“Kurikulum di sekolah yang mengajarkan untuk menghargai agama yang berbeda semakin hari semakin berkurang. Juga, kurikulum yang lebih menekankan persoalan akademik saja,” ungkap Ahmad.

Ahmad juga mengkritisi adanya organisasi mahasiswa di perguruan tinggi yang sifatnya eksklusif. Organisasi ini memicu perkembangan sikap intoleran karena enggan bergaul dengan organisasi lain.

Mau tidak mau, semua pihak tidak bisa menutup mata atas fenomena tersebut. Ini bisa semakin parah jika banyak organisasi sejenis membentuk sistem kaderisasi untuk menciptakan sosok pemimpin yang tidak terbiasa bergaul dengan kelompok berbeda. Tak menutup kemungkinan kan pemimpin itu punya kecenderungan intoleran?

Penyemaian benih toleransi seyogianya bisa dilakukan oleh diri kita sendiri, sesederhana belajar memahami dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari orang lain. Itu artinya, berbicara toleransi tidak melulu soal agama.

Justru, benih toleransi bersumber dari diri kita sendiri. Semakin kita mau bekerja sama dengan orang yang berbeda dengan kita, kita jadi semakin terlatih untuk memahami sudut pandang yang berbeda.

Itu juga melatih kita untuk bisa menerima jika pada akhirnya kita dipimpin oleh sosok yang punya perbedaan suku dengan kita. Dengan membuka mata dan hati terhadap perbedaan, akhirnya kita bisa lebih objektif dan fokus pada kapasitas yang dia miliki, bukan latar belakang sosok pemimpin itu secara pribadi.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri, sudah setoleran apa kita sebagai manusia yang hidup dalam keberagaman?

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020