Acara PemimpinIs Okay to Be You : the Key of Acceptance #TerasBelajar2

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/12/ytb-terajar2100-1280x720.png

Sudah hampir satu tahun ini kita dihadapkan dengan keadaan yang mengharuskan kita berdiam diri di rumah dan membatasi segala kegiatan di luar rumah. Kita dituntut untuk bisa beraktivitas seperti biasa, tapi tetap di dalam rumah. Bukan hal yang mudah tentunya bagi kita yang terbiasa menghabiskan hampir 80% waktu kita untuk melakukan kegiatan di luar.  Dampaknya, tak jarang banyak yang akhirnya mengalami stres atau gangguan kesehatan lainnya. 

Diskusi malam itu dibuka oleh Bang Aji yang menyampaikan bahwa “Seorang difabel itu bukan hanya orang yang mengalami kekurangan secara fisik namun terdapat  juga difabel tidak terlihat yaitu ketika seseorang mengalami penyakit yang tak kasat mata seperti gangguan jiwa atau mental atau mungkin penyakit dalam lainnya. Bahkan, jumlah penderita difabel tak kasat mata lebih banyak dibandingkan dengan yang terlihat secara fisik,” tambahnya.

Dengan membawakan topik It’s Okay to Be You: The Key of Acceptance, Teras Belajar malam itu sekaligus memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember 2020. Seperti biasa, sebelum sesi sharing dimulai terdapat sesi breakout room. Ada yang menarik di sesi ini, yaitu pernyataan dari salah satu peserta yang dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa, “Mengenali diri itu gak cukup hari ini, besok, lusa, bahkan hingga tahun depan karena, sifat manusia itu dinamis yang selalu mengalami perubahan kapanpun. Karena, emang seperti itu dasarnya, itu adalah bagian dari proses sampai kita meninggal nanti.” tuturnya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk selalu mengenali dan menerima diri kita apa adanya.

Selain pernyataan tersebut, masih banyak pendapat dari narasumber yang bisa menjadi pengingat bagi kita untuk belajar menerima. Di antaranya datang dari Bang Shofwan yang menyampaikan kunci dalam menjalani kehidupan yang heterogen ini, yaitu mendengarkan dan belajar berempati. Cobalah untuk memahami kondisi sekitar dengan menurunkan ego yang dimiliki karena pada dasarnya empati itu perlu dilatih, tidak bisa instan. Selain itu, salah satu sifat dasar manusia adalah self-centric atau menganggap bahwa dirinya yang paling menderita, maka cobalah untuk lebih memahami penderitaan orang lain dan paham akan privilege diri sendiri. 

Menurut Mbak Alinne, pemahaman atas identitas dan konsep diri itu harus diluruskan lagi karena bisa jadi kita yang hari ini tidak sama dengan yang kemarin atau besok. Ditambah lagi, terkadang kesalahan kita adalah kita sibuk mengejar apa yang dicapai orang lain tanpa memastikan apakah itu benar-benar yang kita inginkan. Ibaratnya, kita sibuk menuliskan buku tentang orang lain, bukan buku kita sendiri. Maka dari itu, perlu adanya tujuan hidup yang jelas agar bisa menentukan value atau nilai kebaikan dalam diri, sehingga kita bisa hidup bersama dengan value tersebut tanpa menghilangkan jati diri kita. 

Sharing session ditutup oleh Dr. Sawitri yang menyampaikan kunci menjadi orangtua yang baik, yaitu harus bisa mempersiapkan diri untuk menerima segala kondisi anaknya kelak. Selain itu, orang tua harus mau belajar dan updated terkait tumbuh kembang anak, utamanya di usia-usia yang rawan seperti di bawah 2, 3, 5, 7, 11, dan 13 tahun atau saat menginjak remaja.

Lantas, bagaimana saran beliau terkait penanganan anak yang berkebutuhan khusus? Pertama, beliau meyakini bahwa segala makhluk yang diciptakan tidak ada yang sia-sia. Kemudian, cobalah untuk menerima dan mulailah gali apa yang menjadi potensi yang dapat dikembangkan oleh anak tersebut dan jangan lupa coba arahkan dengan sebaik mungkin. Sebagaimana dikutip dari beliau, “Lebih baik memiliki satu senjata yang mematikan daripada memiliki banyak peluru namun tidak dapat menggunakannya dengan baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sebagai orang tua, terkadang ketegasan diperlukan karena itu juga menjadi salah satu bagian dari kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya.

Ketika ditanya mengenai cara menerima trauma di masa lalu terkait bullying, ketiganya kompak menjawab bahwa acceptance is the key to fight bullying. “Ketika kita berani mengiyakan apa yang diejekkan kepada kita maka dengan sendirinya mereka akan diam,” tutur Mbak Alinne.

Bullying merupakan salah satu fenomena sosial yang struktural, jadi ada tanggung jawab kita semua untuk bisa menciptakan ekosistem yang aman dan kondusif terlepas dari tanggung jawab individu untuk bisa menjaga perilaku masing-masing,” tambah Bang Shofwan. Acara malam itu ditutup dengan sesi foto bersama dengan peserta dan ketiga narasumber.

Avatar

Redaksi Pemimpin.ID