InspirasiIni PR Nadiem Setelah Tahu Data PISA 2018

Redaksi Pemimpin.IDDecember 6, 2019258
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/060487400_1477562475-Nadiem_Makarim-1280x720.jpg

Seperti seorang murid, Indonesia mendapat rapor merah dalam bidang pendidikan. Hasil data PISA 2018 seolah menjadi momentum, sampai kapan pendidikan Indonesia seperti ini?

Berada pada posisi di bawah rata-rata dalam data Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 tentu bukan hadiah penutup tahun yang membanggakan. Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Sumber : www.oecd.org

Menanggapi Hasil PISA 2018, Nadiem Makarim berencana untuk melakukan inovasi dan terobosan yang diperlukan untuk mempercepat proses dan lompatan di bidang pendidikan. Salah satu terobosan itu adalah melakukan pembenahan assesment.

Bagi Nadiem, hal itu penting karena melalui pembenahan assesment, pihaknya ingin untuk selalu melibatkan guru dan orang tua agar mereka pun bisa ikut belajar.

Nadiem belum menjelaskan secara konkret tentang pembenahan assesment seperti apa yang ia maksud. Tapi, Kemendikbud berencana untuk segera melakukan perbaikan praktik pengajaran maupun perumusan kebijakan pendidikan.

Mengutip pemberitaan tempo.co edisi 3 Desember 2019, selain assssment, menteri lulusan Harvard Business School ini juga menyoroti masih banyaknya perundungan yang terjadi di sekolah dan membuat para siswa kurang bahagia.

“Kemudian dari sisi kebahagiaan, siswa-siswa kita memiliki ketabahan yang tinggi. Ini harus ditangani, mau sampai kapan anak-anak kita dengan ketabahan bisa mengatasi trauma. Trauma itu tidak terlihat dalam waktu pendek, dalam jangka panjang dapat bermutasi ke arah negatif. Dalam hal ini, pendidikan karakter menjadi kunci,” kata Nadiem seperti dikutip dari tempo.co (3 Desember 2019).

Salah satu karakter yang ia harapkan ada pada setiap murid adalah percaya diri dengan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Karena percaya diri merupakan modal dasar yang paling utama dalam diri seseorang untuk bisa mengaktualisasikan diri.

Rencana Nadiem untuk berbenah perlu mendapat dukungan dari banyak pihak. Ini beberapa poin yang barangkali bisa menjadi pertimbangan Kemendikbud dalam membuat teroboson baru :

1. Memahami perbedaan kondisi pendidikan dari satu daerah ke daerah lain
Tentu sudah banyak yang tahu kalau praktik pengajaran di sekolah sebagian besar sifatnya birokratis. Apa yang dituntut oleh pusat, itulah yang harus dilakukan dan dikerjakan oleh para pengajar di setiap daerah.

Padahal, tidak semua peserta didik punya kemampuan yang sama dalam menyerap kurikulum yang diberikan. Dan, pemerintah pusat belum memiliki pemahaman bahwa kondisi pendidikan di tiap daerah Indonesia sangatlah berbeda antara satu daerah dengan daerah lain.

Dengan begitu, perlu pendekatan yang titis jika memang pemerintahan Kabinet Indonesia Maju ingin membuat terobosan yang baru.

2. Kompetensi
Kompetensi tampaknya menjadi kunci yang harus dipahami bersama. Sayangnya, kurikulum pendidikan di Indonesia seolah menutup mata pada apa yang disebut kompetensi itu. Entah kurikulum atau sistem yang membuat kompetensi pada akhirnya terlupakan.

Hampir setiap hari, peserta didik menerima materi eksakta, sains, dan hal lain yang belum tentu mereka punya kompetensi yang mumpuni dalam bidang-bidang tersebut.

Bisa jadi, mereka akan lebih cemerlang ketika diberi ruang untuk berkarya di bidang kesenian, sastra atau hal lain yang belum mendapat porsi besar dalam kurikukulum pendidikan Indonesia.

3. Melibatkan Orang Tua dan Masyarakat
Menggandeng orang tua, seperti yang direncanakan Nadiem, bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Selama ini, beberapa orang tua sibuk mencari uang dan mempercayakan anaknya kepada pihak sekolah begitu saja. Tak peduli seberapa mahalnya pendidikan, yang penting mereka bisa bayar dan menyekolahkan anak-anaknya.

Apakah para orang tua menyadari dengan sungguh proses anak – anak mereka selama di sekolah? Atau minimal, adakah keluarga juga ikut mendorong anak-anak untuk punya kebiasaan membaca di rumah?


Orang tua bisa memberikan ruang kepada anak-anak untuk bertanya atau mempraktikan perhitungan dalam rutinitas sehari-hari. Misal, mereka diminta untuk membagi 10 kue kepada 20 temannya. Kira-kira, berapa kue yang akan didapatkan oleh satu setiap teman? Itu semua untuk mengasah kreatifitas dan pola pikir mereka.

Itu hanya contoh sederhana untuk melibatkan orang-orang di lingkungan siswa dalam mendukung pendidikan mereka. Banyak kalangan lupa bahwa pendidikan sejatinya adalah tanggung jawab semua orang terdidik. Tentu, mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pendidkan menjadi PR bagi Nadiem, terutama dalam membenahi sistem assessment di Indonesia.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020