InspirasiIni Jurus Jitu Orang Muda Maluku Jadi Local Leader

Redaksi Pemimpin.IDNovember 20, 201980
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/11/local-leader-3-1280x1280.jpeg

“Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkah kayu dan batu jadi tanaman”

Sepenggal lirik lagu Koes Plus berjudul Kolam Susu ini menggambarkan betapa kaya dan indahnya Indonesia. Kita, sebagai orang Indonesia boleh berbangga atas semua yang kita miliki. Tapi, sudah beranikah kita memegang tanggung jawab untuk juga menjaga dan mengembangkan semua kekayaan itu?

Disadari atau tidak, semua masyarakat Indonesia punya andil untuk terlibat dalam membangun negeri. Hal inilah yang kemudian disebut dengan pelibatan masyarakat. Tidak sedikit gerakan – gerakan akar rumput yang merupakan bentuk dari keterlibatan masyarakat. Ini tampak dari munculnya gerakan – gerakan atas dasar kegelisahan yang mereka alami.

Saya memiliki pengalaman bertemu dan berkolaborasi dengan local leader ketika sedang melakukan kegiatan kerelawanan di sebuah daerah terpencil di Kecamatan Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya. Saat itu, tujuan kedatangan saya adalah untuk membawa misi pendidikan.

Awalnya terasa tidak mudah untuk menemukan sosok local leader muda yang saya harap bisa membantu dalam memperjuangkan misi tersebut. Tokoh pendidikan yang lebih banyak mengambil peran pada saat itu hanya para guru dan kepala sekolah.

Jumlah guru tidak memadai, sehingga wajar jika seorang guru harus mengajar dua kelas sekaligus. Belum lagi jika kepala sekolah atau guru mendapat panggilan dari Dinas Pendidikan untuk menerima sosialisasi kurikulum dan sejenisnya.

Selayaknya tamu yang berkunjung untuk pertama kalinya, saya perlu “kula nuwun” kepada penduduk setempat. Mengkomunikasikan niat saya menjadi hal pertama yang dilakukan. Mencoba menjelaskan mulai dari anak-anak, pemuda-pemudi orang tua hingga stakeholder seperti kepala desa dan tokoh adat.

Ada hal menarik yang terjadi saat itu, yakni ketika saya berjumpa dan berbincang dengan seorang pemuda bernama Charlie Wakole. Pemuda berusia 30 tahun yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan ini menyampaikan kegelisahannya tentang pendidikan di daerah itu.

Menurut Charlie, tidak semua orang tua memperhatikan anak-anaknya dengan baik, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kebun. Charlie juga resah ketika peraturan desa tidak memperhitungkan kepentingan pendidikan. “Sebetulnya kalau Bapa Kades mau peduli, antua (beliau) bisa alokasikan dana desa untuk bantuan biaya kuliah anak-anak berprestasi. Jadi, katong pung anak-anak semangat,” kata Charlie.

Kegelisahan itu akhirnya membuat Charlie tergerak untuk melakukan langkah konkret mengatasi hal ini. Charlie menyadari bahwa mimpinya tidak bisa ia wujudkan seorang diri. Perlu ada teman-teman yang mendukung. Dan, kenyataan tak selalu beriringan dengan ekspektasinya.

Saat itu, tidak ada seorang pun kawan yang bisa diajak berkolaborasi. Ada kekecewaan yang nampak dari raut wajahnya. Sebagai teman baru saya berusaha menyuntikan semangat setiap hari, agar mimpi besar itu tetap hidup. Perlahan semangatnya bangkit dan ia pun kembali berusaha.

Saya percaya usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Dan, itu terbukti pada perjuangan Charlie. Perlahan namun pasti penduduk Pulau Masela mulai tergerak mendukung. Saya mengikuti diskusi dan kegiatan yang dilakukan oleh Charlie dan teman-temannya tentang pendidikan. Meski banyak dari mereka yang tidak berhasil menyelesaikan studi sampai ke jenjang sarjana, anak – anak muda ini punya ambisi kuat memajukan daerah mereka yang secara geografis berada di penghujung Indonesia.

Penggerak pendidikan berdiskusi untuk menyiapkan kegiatan pendidikan Pulau Masela

Charlie sebagai local leader muda mampu memberikan pemantik kolaborasi antara kepala desa, pihak sekolah, dan masyarakat untuk mencapai apa yang menjadi harapan bersama. Hingga akhirnya, tercetuslah gagasan dari teman-teman muda ini untuk menciptakan sebuah gerakan kepedulian pendidikan dan menamainya, Komunitas Pemuda – Pemudi Peduli Pendidikan.

Melalui komunitas itu, mereka membuat berbagai macam kegiatan yang fokus pada peningkatan potensi anak-anak dan kapasitas guru. Mereka bahkan menggandeng stakeholder untuk bisa memudahkan setiap aksi pendidikan yang mereka lakukan. Pun dalam setiap musyawarah desa, teman-teman muda ini sering terlibat aktif dan ikut berpendapat. Salah satu yang diperjuangkan oleh mereka hingga saat ini adalah terbentuknya Taman Baca.

Ada satu pernyataan yang terekam secara baik di benak saya ketika mengajak mereka berdiskusi tentang pendidikan. Seorang pemudi bernama Lebrina Imlawal mengungkapkan kekhawatirannya tentang generasi anak-anak saat ini. Baik Lebrina, Charlie, dan tokoh muda lainnya di sana bergerak atas dasar kesadaran dan kegelisahan bersama serta keinginan untuk berbagi segala sesuatu yang barangkali tidak didapat dari para guru atau pun orang tua mereka.

“Beta takut, kalau anak-anak seng tau Bahasa Inggris. Nanti kalau dong merantau jauh, la bakudapa deng orang luar, pasti ada rasa malu. Beta seng mau begitu. Katong mesti latih anak-anak dong dari sekarang.”
(Saya takut kalau anak-anak tidak bisa Bahasa Inggris. Nanti kalau mereka merantau jauh dan bertemu dengan orang baru di luar sana, mereka bisa malu. Saya tidak mau begitu. Kita mesti latih anak-anak mulai dari sekarang).

Cerita di atas adalah contoh bagaimana local leader muda mengambil peran untuk terlibat dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat. Inisiatif para local leader mulai dari menghimpun hingga menggerakan massa sudah semestinya mendapat apresiasi dari para stakeholder di daerah hingga pemerintah pusat agar kerja nyata itu terus berkelanjutan.

Kemampuan local leader dalam memetakan masalah yang terjadi di daerahnya, membuat mereka terus mengasah kreativitas berpikirnya untuk menemukan strategi terbaik. Tugas mereka tidak berhenti di situ. Para local leader ini biasanya memiliki kemampuan fasilitasi yang cukup baik untuk terus mengawal tujuan yang diharapkan bersama. Mereka mampu menjejaringkan aktor pendidikan dengan para pemangku kebijakan untuk bisa duduk bersama membahas kemajuan pendidikan di daerah tersebut.

Local leader pada akhirnya menjadi aset berharga yang dimiliki oleh Indonesia. Kehadiran mereka sangat mendukung pembangunan yang dimulai dari ujung negeri. Itulah mengapa, ekosistem keterlibatan masyarakat dalam pembangunan harus terus didukung agar keberlanjutan tetap dapat dirasakan. Selain itu, kontribusi yang mereka lakukan pun bisa sejalan dengan apa yang tengah dicanangkan oleh pemerintah.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019