JurnalIni Alasan Mengapa Budaya Organisasi Begitu Krusial

Klaudia MolasiaraniNovember 5, 202088
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/11/ali-yahya-Tn224epst1E-unsplash-1280x853.jpg

Era kompetitif menuntut perusahaan untuk bergerak cepat agar tidak kalah bersaing atau setidaknya mampu bertahan dalam menghadapi dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Kondisi itu lantas membuat para pemimpin memfokuskan perhatiannya pada target perusahaan, alih – alih menciptakan budaya organisasi yang suportif. Padahal, budaya organisasi adalah kunci terciptanya keberlangsungan hidup perusahaan.

Strategi memang harus selalu diatur agar organisasi mampu mencapai target – target yang sudah diperhitungkan. Namun, strategi tanpa budaya yang melandasi perilaku anggota organisasi, tentu akan percuma dan bisa berakibat fatal.

Groysberg, et al  dalam jurnal yang dipublikasikan melalui Harvard Business Review berjudul The Leader’s Guide to Corporate Culture (2018) menjelaskan bahwa strategi dan budaya adalah salah dua pengungkit utama yang harus ada dalam kepemimpinan seseorang, dalam upaya mempertahankan kelayakan dan efektifitas organisasi yang berkelanjutan.

Adanya strategi, membuat individu dalam organisasi merasa jelas dan fokus untuk melakukan pekerjaan dalam tim maupun dalam pengambilan keputusan. Sementara dengan adanya budaya, organisasi tersebut memiliki kesamaan pola dalam berpikir dan berperilaku yang bisa memunculkan perasaan memiliki terhadap organisasi tersebut.

Penelitian Groysberg, dkk juga menyebutkan fakta bahwa banyak organisasi atau perusahaan yang justru menganggap budaya organisasi tidak lebih penting dari strategi organisasi.

“They may lay out detailed, thoughtful plans for strategy and execution, but because they don’t understand culture’s power and dynamics, their plans go off the rails”(Groysberg et al, 2018)

Tidak sedikit penelitian yang mengulas budaya organisasi sebagai bagian penting dari manajemen organisasi. Simon Sinek, seorang konsultan kepemimpinan dalam bukunya yang berjudul Leader Eat Last (2014) mengutip pernyataan Goethe-seorang pemikir besar di abad 19 yang mengatakan bahwa kita dapat dengan mudah menilai karakter seseorang dengan melihat bagaimana dia memperlakukan sesamanya. Dengan begitu, menurut Simon Sinek, sebuah budaya organisasi mampu menjelaskan karakter dari sekelompok orang dan bagaimana mereka berpikir serta bertindak secara kolektif.

Dunia yang kompetitif tentunya membutuhkan seorang pemimpin yang kreatif dalam menciptakan budaya organisasi yang suportif.  Victor Lipman, seorang pakar dan pembicara tentang manajemen, menulis buku The Type B Manager : Leading Successfully in a Type A World (2015). Dalam bukunya, dia menuangkan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan alasan kebanyakan pekerja memilih untuk meninggalkan tempat kerjanya.

Faktanya, mereka melakukan itu bukan karena tanggung jawab yang diberikan, melainkan karena merasa tidak nyaman dengan cara pemimpin mereka membuat sistem di lingkungan kerja, termasuk bagaimana cara si pemimpin memperlakukan mereka. Hal inilah yang kemudian membuat lingkungan kerja menjadi sangat toxic sehingga para pekerja kehilangan motivasi kerja (disengaged).

Oleh sebab itu, pemimpin perlu lebih jeli tidak hanya dalam hal memetakan strategi organisasi, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang membuat para pekerja merasa berkembang ketika menjadi bagian didalamnya.

Simon Sinek membedakan organisasi yang memiliki budaya organisasi dan tidak memiliki budaya organisasi. Organisasi dengan budaya organisasi memiliki karakter di antaranya :

  • Setiap orang memperlakukan rekan kerjanya dengan baik, tidak hanya dengan orang – orang yang memiliki kepentingan dengan mereka,
  • Mereka merasa dilindungi oleh pemimpin mereka,
  • Timbul perasaan bahwa setiap rekan kerja adalah kawan, bukan lawan.

Sementara itu, organisasi yang tidak memiliki budaya organisasi, memiliki karakter di antaranya:

  • Setiap orang didalamnya merasa saling berkompetisi satu sama lain untuk mencapai target atau merebut posisi tertentu.

“Performance can go up and down, the strength of a culture is the only thing we can truly rely on” (Simon Sinek, 2014 : 163)


Budaya yang Kuat Mampu Ciptakan Rasa Memiliki

Ketika seorang pekerja merasa nyaman dengan lingkungan tempatnya bekerja, mereka akan menempelkan value pribadinya dengan value dalam organisasi. Lebih dari itu, para pekerja pun dengan bangga menganggap dirinya sebagai bagian dari organisasi.

“As humans, our behavior is significantly influenced by the environment in which we work for better and for worse” (Simon Sinek, 2014 : 165)

Simon Sinek memberikan contoh cerita tentang perusahaan penerbangan Canada bernama WestJet. Budaya organisasi yang sangat mendukung performa kerja para karyawan WestJet, membuat mereka bangga untuk mengakui perusahannya sebagai bagian dari identitas pribadi.  Mereka tidak akan mengatakan bahwa mereka bekerja di WestJet, tetapi mereka akan mengatakan dirinya adalah WestJetters.

Rasa memiliki atau rasa menjadi bagian dari organisasi akan muncul ketika budaya yang dibentuk sangat mampu memunculkan perasaan nyaman. Alih – alih berkompetisi,  antarpekerja sebenarnya bisa saling mengisi. Untuk itu, salah satu value yang harus ada untuk membentuk budaya organisasi yang baik adalah rasa empati. Tanpa adanya empati atau kepedulian, suasana di lingkungan kerja hanya akan dipenuhi oleh ego pribadi sehingga berimbas pada perilaku – perilaku yang tidak kolaboratif maupun suportif.

Referensi :

  • Sinek, Simon.2014.Leader Eat Last : Why Some Teams Pull Together and Others Don’t. New York : Penguin Group.
  • Lipman, Victor.2015. The Type B Manager : Leading Successfully in a Type A World. New York : Penguin Group.
  • Groysberg, Boris, Jeremiah Lee, Jesse Price, J. Yo-Jud Cheng. 2018. The Leader’s Guide to Corporate Culture. Harvard Business Review Article diunduh pada 27 Juni 2020. https://hbr.org/2018/01/the-culture-factor

Klaudia Molasiarani