JurnalIngin Kreatif? Jangan Lupa Istirahat!

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/08/sid-leigh-YxqLwUeS0Bs-unsplash-1280x853.jpg

Apabila kamu membandingkan industri kerja di beberapa dekade yang lalu dan di dunia saat ini, maka tidak akan sulit untuk mencari perbedaannya. Satu aspek yang baru di era informasi ini adalah berkembangnya knowledge economy, yang mendorong ketergantungan lebih besar pada kemampuan intelektual pekerja dibandingkan pada usaha fisik maupun keberadaan sumber daya alam (Powell & Snellman, 2004). Oleh karena itu, industri di saat ini sangat bergantung pada kreativitas pekerja.

Knowledge economy mendorong dibentuknya pekerjaan yang lebih abstrak, seperti problem-solving, konsultasi, dan produksi konten. Karena produk yang dihasilkan lebih abstrak, maka perusahaan dapat mengalami kesulitan dalam mengukur performa kerja. Pada akhirnya, banyak yang menggunakan durasi kerja sebagai tolak ukur. Dampak dari peristiwa tersebut adalah terciptanya budaya manusia yang mengagungkan produktivitas. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan istilah hustle culture, yang dikelilingi oleh meningkatnya popularitas kopi, co-working spaces, dan aplikasi produktivitas

Namun, budaya yang mendorong masyarakatnya untuk bekerja tanpa henti tentunya bertolak belakang dengan budaya yang membutuhkan kreativitas. Dalam kata lain, masyarakat dituntut untuk menampilkan produktivitas sekaligus kreativitas secara bersamaan, tetapi tanpa adanya kesempatan untuk beristirahat.

Istirahat adalah faktor yang penting dalam kreativitas, bahkan dalam aktivitas bekerja secara umum. Tetapi, sayangnya manfaat dari istirahat seringkali diabaikan atau bahkan tidak diketahui, oleh budaya, organisasi, maupun masyarakat secara individu. Hustle culture, dan bahkan perkembangan modern lainnya, telah mendorong kita semakin jauh dari kebutuhan istirahat. Lihat saja perkembangan fast food, yang memudahkan kita untuk mempersingkat waktu makan agar kita dapat kembali bekerja. Padahal, waktu makan siang memiliki keuntungan bagi kreativitas individu.

Sebenarnya, tidak hanya waktu makan siang yang menguntungkan, tetapi istirahat secara umum sangat dibutuhkan bagi individu, dan dapat membantu memajukan kreativitas. Ketika kamu merasa terhambat dalam berpikir atau sedang menghadapi masalah kreatif, dibandingkan dengan memaksakan diri untuk terus berpikir sampai menemukan ide yang tepat, cobalah istirahat sejenak. Istirahat singkat dapat membantu kamu untuk kembali fokus dalam bekerja dan menghasilkan ide-ide inovatif. 

Kenal dengan eureka moment? Momen sesaat di mana kamu tiba-tiba mendapatkan suatu ide atau mengerti sebuah konsep. Nama lain dari eureka moment adalah aha! moment, karena individu yang mengalaminya biasanya mengucapkan “Aha!”. Menurut Harvard Business Review, eureka moment biasanya terjadi saat periode inkubasi, yaitu masa ketika individu mundur sejenak dari pekerjaan mereka, dengan keyakinan bahwa periode ini adalah saat di mana ide-ide mulai terkumpul.

Penelitian dari Sophie Ellwood menemukan bahwa ketika individu bekerja untuk memecahkan sebuah masalah secara berkelanjutan, mereka bisa terjebak pada solusi tradisional. Seperti yang kita ketahui, masalah kompleks membutuhkan solusi yang sesuai pada konteks masing-masing masalahnya, dan tidak efektif untuk menerapkan solusi dari masalah terdahulu. Sebaliknya, ketika individu mengambil waktu istirahat dari masalah yang dihadapi — atau bahkan bertukar untuk mengerjakan tugas yang berbeda — , otak mereka mampu melepaskan diri sejenak supaya bisa kembali kepada masalah dengan pikiran yang lebih terbuka.

Simon Sinek, penulis buku Leaders Eat Last, mengatakan bahwa kita tidak bisa memaksakan diri untuk berpikir kreatif di saat tertentu. Melainkan, otak kita membutuhkan waktu untuk memproses informasi yang sudah ada, maupun yang baru diterima, sebelum menghasilkan ide yang baru. Maka, kita harus memberikan kesempatan bagi otak kita untuk melakukan mind wandering, yaitu membiarkan pikiran untuk “mengembara” dan tidak fokus kepada satu hal khusus.

Di keseharian kita yang sibuk, sebenarnya terdapat kesempatan untuk melakukan mind wandering ini. Lain kali, ketika kamu sedang memiliki waktu kosong, simpan gadget kamu dan biarkan otak kamu istirahat tanpa menerima stimulus dari media sosial atau games. Kalau kamu masih merasa tidak ada waktu untuk beristirahat, tuliskan waktu istirahat di jadwal kamu. Sinek juga membicarakan tentang pentingnya bagi individu untuk memperlakukan waktu istirahat seperti waktu kerja. Keduanya sama penting, maka sebaiknya kita hargai kesejahteraan dan otak kita dengan secara aktif meluangkan waktu untuk beristirahat, dibandingkan dengan menunggu sampai ada waktu kosong saja.

Referensi

Burkus, D. (2014, March 11). How to have a eureka moment. Harvard Business Review. https://hbr.org/2014/03/how-to-have-a-eureka-moment 

Oppong, T. (May 30, 2017). For a more creative brain, take breaks. Inc. https://www.inc.com/thomas-oppong/for-a-more-creative-brain-take-breaks.html

Powell, W. W., & Snellman, K. (2004). The knowledge economy. Annu. Rev. Sociol., 30, 199-220. doi: 10.1146/annurev.soc.29.010202.100037

Sinek, Simon. [Simon Sinek]. (2019, December 24). The Value of Brainstorming is Asking the Question | Simon Sinek [Video file]https://www.youtube.com/watch?v=MgNnR0eGP3Q

TED (2020, February 10). How burnout makes us less creative | The Way We Work, a TED Series [Video file]. https://www.youtube.com/watch?v=Dvhu2OK7ffg

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020