JurnalImagineering Membimbing Inovasi

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/11/clever-visuals-iMwiPZNX3SI-unsplash-1-1280x863.jpg

Eksistensi organisasi bergantung kepada inovasi yang dilakukannya.

Inovasi pada dasarnya diarahkan dari proses berimajinasi dan perekayasaan atau dapat disebut imagineering. Imagineering adalah gabungan kata dari ‘imagination (imajinasi)dan ‘engineering (rekayasa)’. Imagineering‘ berarti mengubah imajinasi menjadi konkrit. Dengan kata lain, imagineering adalah prosedur mengubah ide menjadi produk inovatif. Produk didistribusikan kepada masyarakat selaku penerima manfaat, tapi butuh diketahui bahwa penerimaan masyarakat dapat terus berubah seiring waktu.

Saat ini kita melihat perkembangan yang terjadi dalam masyarakat kita sehari-hari, yang memengaruhi perilaku setiap individu. Dahulu mungkin orang untuk pergi berbelanja harus ke pasar swalayan, tapi kini setiap individu bisa berbelanja melalui daring. Berbelanja melalui daring membangun persepsi masyarakat bahwa berbelanja menjadi lebih mudah dan irit. Mereka  tidak perlu menghadapi kemacetan ataupun membayar biaya parkir di pasar swalayan, yang mungkin biayanya lebih mahal dibanding biaya ongkos kirim ketika belanja daring. Kita akhirnya harus mengakui bahwa ‘rekayasa sosial’ ini didorong oleh satu hal: inovasi. Pasar daring yang diciptakan oleh perusahaan-perusahaan unicorn tentunya bermula dari inovasi. Namun, inovasi tidak akan ada artinya apabila tanpa bantuan dari imagineering.

Bayangkan sebuah perusahaan yang sedang melakukan riset perilaku belanja masyarakat, mereka pertama melihat kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat (pain point). Lalu, dari  hasil riset yang didapatkan, perusahaan tersebut ingin menciptakan inovasi yang akan memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhannya. Lalu pertanyaannya, bagaimana proses mereka menciptakan inovasi? Tentunya lagi-lagi dengan bantuan imagineering. Jika seseorang memiliki banyak pengetahuan tetapi kurang imajinasi dan tidak mampu membuat rekayasanya, mereka tidak akan mampu memanfaatkan dan mengubah sesuatu yang abstrak menjadi tujuan yang dapat dicapai dan dijalankan.

Organisasi di bidang apapun harus menyadari bahwa jatuh dan tumbuhnya mereka sangat dipengaruhi oleh inovasi. Ketika segala data dan teori yang sudah dipahami sebuah organisasi tidak dimanfaatkan untuk berinovasi, mereka tentunya — cepat atau lambat — hanya akan mendatangkan kerugian. Mereka yang mampu berimajinasi untuk berinovasi, akan menjadi jawaban dari segala keresahan masyarakat.

Sebagai contoh, Gojek  memberikan pembelajaran untuk kita bahwa dengan inovasi, seorang pelanggan bisa mendapatkan keamanan ketika memesan ojek karena profil pengendara dapat diketahui. Dahulu menonton film harus dengan membeli DVD atau ke bioskop, kini dengan berlangganan Netflix kita tidak perlu melakukan itu. Dahulu untuk mendengarkan musik harus membeli CD, kini kita bisa memilih playlist lagu yang kita inginkan melalui Spotify. Selanjutnya, Jeff Bezos menyadari bahwa Amazon masih bisa mampu untuk berinovasi tidak hanya dengan berjualan buku saja, maka kini Amazon berjualan apa saja untuk menyasar seluruh segmen agar menjadi pelanggannya. Dan bahkan kita juga belajar dari Nokia bahwa terlambatnya berinovasi ternyata berdampak kejatuhan yang sangat signifikan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, jatuh dan tumbuhnya organisasi di bidang apapun memang bergantung kepada inovasi dari waktu ke waktu yang diiringi dengan daya imajinasinya. Imajinasi organisasi untuk menciptakan rekaya sosial  di tengah masyarakat sangat dibutuhkan. Membentuk perilaku masyarakat agar menyukai produk organisasi tersebut adalah cara jitu untuk organisasi tetap eksis, ini yang mungkin juga disebut sebagai building brand awareness.

Imagineering sebagai penunjang inovasi organisasi

Melinda Nurimannisa, mahasiswi program studi imagineering di Breda University of Applied Sciences, memberikan penjelasan tentang membangun pemahaman imagineering.

Imagineering adalah cara bagaimana kita menggunakan seluruh mode berfikir kita sebagai manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Manusia punya dua mode berfikir: mode berfikir logis dan mode berfikir naratif. Dua mode berfikir ini sangat dibutuhkan karena (misalnya) banyak fasilitas pendidikan yang hanya meningkatkan mode berfikir logis saja, padahal mode berfikir naratif memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menggerakkan seseorang atau kelompok untuk melakukan suatu perubahan yang lebih besar.” 

Selanjutnya, Melinda juga membagikan cara memahami konsep imagineering dengan konsep ABC:

  • A: Appreciative

Coba menghargai organisasi dengan cara menjelajahi potensi terbesar yang dimiliki, core value, dan tujuan organisasi. Cara ini lebih ampuh dibanding hanya sebatas mengeluh tentang apa yang dimiliki organisasi.

  • B:Breathing

Tarik napas lalu coba lihat dari sudut pandang yang lebih luas melalui chopper view. Cari ‘tombol’ yang dapat dirubah sekecil-kecilnya, tapi memberikan dampak sebesar-besarnya (butterfly effect).

  • C: Creating

Ketika ‘tombol’ sudah ditemukan, maka buatlah ‘artefak’ yang akan membuat orang-orang akan terus bergantung pada hal itu.

“Berinovasi itu harus keluar dari daily things dan comfort zone” – Melinda Nurimannisa, Imagineer

Organisasi harus berinovasi menghadapi masa depan

Masa pandemi Covid-19 memang merupakan hal yang tidak diduga dampaknya. Di awal masa Covid-19 saja memberikan dampak besar seperti bangkrutnya UMKM. Melansir dari Tempo, Menurut Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki, sejumlah 47% UMKM harus gulung  tikar yang disebabkan pandemi Covid-19. Berdasarkan hal tersebut, dapat dipelajari bahwa organisasi harus menunjukkan resiliensi dengan melakukan inovasi. Covid-19 mungkin tidak banyak masuk dalam imajinasi kita di awal, tapi semua yang sudah terjadi harus dilalui dan kita harus tetap berinovasi. Membayangkan langkah-langkah terbaik ke depan agar produk organisasi tetap dapat diterima masyarakat dan sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk selanjutnya. Organisasi yang tetap mempertahankan status quo akan semakin kesulitan menghadapi era yang semakin dinamis. Maka dari itu, ada 6 tahapan yang dapat organisasi lakukan untuk berinovasi dengan imagineering:

  1. Imagination

Lakukan brainstorming dengan anggota tim untuk membangun kesadaran bersama pentingnya berinovasi dan cari inspirasi.

  1. Design

Lakukan storyboard building dan prototyping product.

  1. Development

Berdasarkan prototype yang sudah dibuat, lakukan testing pada produk dari berbagai perspektif dengan tujuan untuk menguji apakah produk dapat menjadi solusi yang ramah.

  1. Illustration

Presentasikan hasil yang telah diuji dan mintakan masukan dari pihak eksternal untuk menghindari groupthink bias.

  1. Improvement

Revisi segala kekeliruan produk yang dibuat untuk menciptakan produk yang lebih baik dan ramah diterima masyarakat

  1. Evaluation

Setiap anggota coba diminta untuk merefleksikan apa yang sudah mereka kerjakan: apa yang belum berjalan dengan baik lalu apa yang butuh diatasi, dan apa yang sudah berjalan dengan baik lalu apa yang butuh dikembangkan.

Imagineering akan memudahkan untuk membuat inovasi produk. Eksistensi organisasi akan selalu diuji setiap saat, kemampuan organisasi menunjukkan resiliensi dapat dilihat dari kesadaran organisasi itu untuk terus berinovasi.

Melakukan inovasi di sistem kerja internal organisasi dan tetap memberikan produk inovatif yang ramah bagi masyarakat akan membuat organisasi tetap hidup. Selama organisasi tetap termotivasi untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat — betapapun sulitnya situasi, organisasi itu akan belajar. Menempatkan diri untuk menjadi long-life learner akan sangat baik, sedangkan dengan hanya menjadi status quo akan mematikan daya imajinasi, beserta inovasinya.

Redaksi Pemimpin.ID