JurnalGravity Problems; hal-hal yang harus kamu relakan terjadi.

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/09/1_TQRpLuaTsCNLbRExBX3fSQ.jpeg

Sadarkah kawan? sebagai manusia kita dibekali dengan kelebihan untuk menjadi jalan kita berkontribusi. Namun sebagai manusia kita juga diiringi kekurangan sebagai pertanda kita tidaklah abadi.

Mei 2019 adalah bulan yang sangat membekas untukku, bagaimana tidak persiapanku untuk sidang akhir sudah hampir 90% namun naas bahwa dosenku mengatakan aku belum bisa mengikuti jadwal untuk sidang akhir karena satu hal. Sedih, kecewa dan sebal sudah pasti memenuhi pikiran dan berafeksi pada tindakan yang dilakukan. Tentu upaya negosiasi sudah ditempuh, namun tetap saja hal yang terjadi berada di luar kendali.

Pernah mengalami kejadian serupa? Di saat semua rencana dan persiapan sudah dilakukan dengan sempurna, namun tetap saja ada faktor eksternal yang membuat rencana itu tiba-tiba sirna.

Hal-hal di luar kendali kita yang namun menjadi masalah atau menurut kita adalah masalah disebut oleh Bill Burnett dalam bukunya Designing Your Life sebagai Gravity Problems.

Gravity Problems memang memiliki banyak bentuk dan rupanya, namun satu hal yang harus kita pahami; Gravity Problems adalah masalah yang berawal dari hal-hal yang tidak bisa diubah oleh diri kita. Layaknya sebuah gravitasi di bumi, kita tak punya kuasa untuk bisa mengapung di udara seperti saat di luar angkasa karena adanya gravitasi.

Masalah yang bukan masalah.

Manusia memang dilahirkan dengan muatan baik dan positif dalam dirinya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yale University mengungkapkan bahwa semua orang sesungguhnya memiliki hati dan insting yang baik. Lantas wajar, saat keresahan berubah menjadi sebuah masalah untuk seseorang.

Saat berorganisasi tak lagi menjadi menyenangkan karena ide dan gagasanmu dirasa tak sesuai dengan visi misi menurut sang ketua.
Saat bekerja tak lagi menjadi tantangan karena pengharapanmu pada promosi jabatan ataupun karena pekerjaanmu hanya sesuai yang terinstruksi.
Saat hubunganmu dengan seseorang tak lagi menjadi berharga karena sebuah pertikaian dan permintaan maaf adalah yang paling kamu tunggu.
Saat ide-ide brilianmu tak lagi kamu lanjutkan hanya karena permasalahan dana yang membuat ide itu tak bisa terselesaikan.
Saat mimpi-mimpimu harus rela kau gadaikan karena dirimu tak dinyatakan lolos seleksi beasiswa impian.
Saat perkataan orang pun dijadikan pembenaran ataupun masalah baru, padahal kita hanya berbeda.
Saat wabah pandemi pun dijadikan alasan dan pelampiasan karena banyak hal yang kemudian tertunda menjadi kenyataan.

Semua hal diatas adalah sebuah masalahh yang sering membuat kita stuck. Namun apa daya kita tak punya kuasa untuk menyelesaikannya.

Jika dipikir dengan kepala jernih, gravity problems adalah masalah yang bukan masalah. Hal-hal ini terlalu sering terjadi pada kita dan berdampak pada diri kita, pada keraguan kita pada diri kita sendiri yang kemudian merasa kita tak dapat berbuat banyak dalam menyelesaikan masalahnya.

Sadarkah saat kita terus-terusan berfokus pada gravity problems lama kelamaan pun tidak hanya menghabiskan waktu dan tenaga kita dalam mencari penyelesaian masalah itu, dan tak ada aksi yang bisa kita lakukan.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Melihat Sebuah Masalah secara Objektif

Masalah tentu akan selalu ada dalam diri kita, entah itu berasal dari faktor internal atau berasal dari faktor eksternal. Masalah yang berasal dari internal dapat kita kuasai dengan mengenal diri kita sendiri lebih jauh. Namun masalah yang berasal dari eksternal terkadang sulit kita kendalikan karena juga membawa masalah internal dalam diri kita.

Mengenali masalah yang terjadi menjadi poin penting, karena setiap masalah akan melahirkan tindakan yang kita ambil. Saat kita tidak bisa mengenali masalah pun akan membuat kita mengambil tindakan yang ceroboh dan membuat kita tidak bisa melihat kesempatan lain yang ada.

“Andai saja bosku itu lebih peduli pada karyawan”
“Andai saja ketua BEM itu lebih fleksibel dan tidak terlalu idealis”
“Andai saja uang yang ku miliki bisa lebih banyak, pasti…”

Banyak sekali faktor-faktor eksternal yang sering kita jadikan masalah pribadi. Hal-hal di luar kuasa kita yang kemudian berimbas pada pengandaian kita; saat sesuatu tak sesuai dengan harapan kita pun berdampak pada kekecewaan.

Saat kita tak bisa melihat masalah secara objektif, apakah masalah itu berasal dari faktor eksternal atau internal, hal itu akan membuat kita fokus pada kekecewaan dan kesedihan berlarut.

Sehingga mencoba mengenali Masalah itu berasal dari eksternal atau internal, kemudian cobalah memetakan apa yang bisa kita lakukan dan tidak bisa kita lakukan. Mengetahui hal-hal itu akan mengambil pada keputusan kita dalam bertindak.

Penerimaan dan Merelakan

Melihat kembali ke belakang, banyak hal yang terjadi dalam hidup kita entah itu adalah hal yang baik ataupun buruk berafeksi pada; siapa di kita hari ini. Tentu kita tidak dapat menyalahkan kondisi ataupun orang lain, namun kita dapat melakukan pengendalian diri untuk menjadi diri kita yang lebih baik lagi.

Pengendalian diri kita berhubungan dengan penerimaan dan juga merelakan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah di luar kendali kita atau gravity problems. Ada dua hal yang dapat kita lakukan saat berhadapan dengan hal-hal seperti itu; Menerima atau merelakannya.

Penerimaan membawa kita pada kenyataan bahwa hal itu diluar kendali kita, yang bisa kita lakukan adalah bersifat open mind dengan mengubah sudut pandang dalam melihat masalah yang ada. Kemampuan kita untuk melakukan penerimaan membuat kita melihat masalah itu sebagai tantangan dan kesempatan lain yang akhirnya menjadi sebuah bentuk rencana lain yang dapat kita lakukan. Penerimaan membuat masalah menjadi ruang belajar.

Contohnya saat kita dipertemukan dalam sebuah kelompok dengan teman yang tidak kita sukai. Daripada fokus dengan hal-hal yang tidak kita sukai darinya, lebih baik kita mengubah sudut pandang dan fokus untuk mencapai tujuan besar kelompok. Bagaimana cara menyatukan sifat-sifat yang berbeda? bagaiaman karakter tiap tim di kelompok dapat mencapai tujuan? atau lainnya.

Merelakan membuat kita sadar bahwa kita tidak punya andil dan kuasa dari masalah itu, artinya kita hanya perlu merelakannya terjadi seperti adanya. Merelakan bukan berarti kita tidak mencoba mencari solusi dari masalah, namun artinya kita menyadari kapasitas dan kemampuan kita.


Dalam hidup, kita sering dipertemukan dengan hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tak jarang hal itu menjadi masalah saat tak sesuai dengan pendapat ataupun idealisme kita. Pada dasarnya, semua manusia memang terlahir berbeda bukan? entah karena sukunya, latar belakang pengasuhan, pengalamannya hingga berbeda karena buku-buku yang dibacanya.

Ketahui masalah yang kamu rasakan berasal dari dalam atau dari luar dirimu.
Belajarlah menerima dan merelakan.
Ubahlah hal-hal yang negatif menjadi positif.
Lihatlah masalah yang kamu rasakan sebagai tantangan.
Kenali perasaan negatif yang kamu rasakan, namun bukan dijadikan sebuah pembenaran.
Lakukan sesuatu! Coba ubah perspektifmu dalam melihat sesuatu.

Berfokus pada masalah di luar kendali kita akan membawa kita pada kebutuan dan kebingungan terjadi. Namun saat kita mengenal diri kita sendiri, kita akan mengenali pula masalah yang dapat kita lakukan dan selesaikan.

Lantas, kapan mau mulai mengenali diri sendiri dan fokus pada masalahmu sendiri?
Karena, bukankah hidup adalah tentang membangun cerita tentang dirimu?
Jadi, relakan saja yang di luar kuasamu itu terjadi!

Ditulis oleh Hasna Jamilah

Referensi

https://depree.org/gravity-problems/

https://www.youtube.com/watch?v=SemHh0n19LA

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020