HeadlineJurnalGen-Z dalam Putaran Konflik

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/10/markus-spiske-5sh24a7m0BU-unsplash-1280x853.jpg

Sebagai generasi yang ekspresif dan menerima keberagaman, perbedaan pendapat menjadi hal yang wajar bagi generasi Z. Namun, tanpa disadari hal ini  seringkali menyebabkan konflik dalam lingkungan kerja maupun organisasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh  Generasi Z adalah generasi yang menganggap pentingnya dialog dan sangat menerima adanya perbedaan pendapat dalam lembaga tempat mereka beraktivitas dan bahkan dengan keluarga sendiri. Fakta inilah yang membuat generasi z bertindak realistis dalam menyampaikan pandangan yang mereka anggap benar dan tidak takut untuk akhirnya terlibat dalam dialog, serta perbedaan pendapat.

Dalam lingkungan kerja yang heterogen, generasi z dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan mereka bersosialisasi dengan berbagai generasi lain, yang tentunya memiliki karakteristik yang berbeda. Tidak jarang hal ini menimbulkan konflik, terutama dalam kasus perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan generasi terdahulu ⎯Generasi boomers, X, dan y⎯ lebih idealis dan kurang mau menerima sudut pandang yang beragam. Hal itu dapat dilihat sesuai gambar di bawah, Generasi Z memiliki karakteristik yang “dialoguer” dan realistik, berbeda dengan generasi sebelumnya yang idealis, individualistik, dan sebagainya. Karena itu, kondisi ini  mendorong Generasi Z untuk memiliki skill seperti cognitive flexibility, sebuah skill yang mendorong kemampuan adaptasi dalam berbagai kondisi, khususnya dalam berkomunikasi antar generasi.

Gambar 1. Karakteristik antar generasi (McKinsey & Company)

Hal ini selaras dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh Pemimpin Indonesia kepada Safda Riva, Staf Analis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, narasumber kami mengungkapkan bahwa di dunia kerja, tata krama dalam menyampaikan pandangan menjadi hal yang sangat penting.

“Tata krama itu menjadi penting ketika menyampaikan pendapat, sebagus apapun idenya kalau tidak memperhatikan tata krama akan sulis diterima. Kalau kita bisa menjembatani gagasan antar generasi yang lama dan baru, akan bagus sekali

Tata krama untuk saling menghormati bisa menjadi satu solusi dalam mengatasi konflik perihal perbedaan pendapat, rasa saling menghormati juga termasuk kemampuan terjun pada aktivitas sosial yang harus dikuasai dalam dunia kerja. Apabila tidak mampu membangun respect, perbedaan pendapat dapat membuat kamu terjebak dalam konflik di lingkungan kerja. Konflik akan menghadirkan masalah baru seperti adanya gosip, saling menyalahkan, bahkan saling menjatuhkan antar sesama dan membuat suasana kantor menjadi tidak kondusif. 

Untuk menghadapi realitas berkomunikasi dengan berbagai rekan kerja antar generasi, kamu dapat melakukan hal-hal berikut ketika terjebak dalam sebuah konflik:

  1. Berusahalah untuk jujur

Dalam sebuah konflik yang terjadi, berusahalah untuk mengatakan suatu hal dengan jujur dan apa adanya, karena sering kali berkata tidak jujur justru akan membuat orang-orang yang terlibat tidak akan menyadari kesalahannya dan terjebak dalam bias perspektif mereka sendiri. Disisi lain, berusahalah untuk memberikan dan meminta feedback produktif dan jujur terhadap permasalahan yang kamu hadapi. Karena berdasarkan penelitian, kebanyakan dari kita kurang memiliki kesadaran diri dalam bekerja. Untuk itu, jangan takut untuk akhirnya membuka dialog yang jujur dan terus terang ya.

  1. Menjaga ego diri sendiri

Menjaga ego atau emosi dalam sebuah konflik penting untuk kamu lakukan. Berusahalah untuk menghindari adanya balas dendam terhadap tindakan yang kamu dapatkan. Cobalah ubah fokusmu terhadap tujuan pekerjaan, sehingga lambat laun kamu akan dijauhkan dari ego emosi untuk menang/kalah dalam sebuah konflik.

  1. Cobalah berkomunikasi dengan atasan

Ketika konflik terjadi, cobalah untuk proaktif menceritakan dan mencoba memberi saran kepada atasan agar menegaskan kembali norma-norma dalam lingkungan kerja dan membahas konflik yang terjadi. Hal ini dapat membuat atasanmu membantu menyelesaikan konflik dengan menjadi mediator, sehingga pihak-pihak yang berkonflik akan dipertemukan untuk akhirnya saling menceritakan masalah dengan perspektif masing-masing. Sebagai pihak yang lebih tinggi dan berwenang, atasan akan mengarahkanmu untuk mencari titik temu masalah dan memberi solusi terbaik yang disepakati oleh masing-masing pihak.

  1. Jaga dirimu sendiri

Terakhir, hal yang kamu harus lakukan ketika berkonflik adalah menjaga diri untuk tidak sakit secara fisik maupun emosional. Lakukanlah hal-hal yang bisa kamu atasi saja, dan jangan terlalu sibuk dengan permasalahan yang ada di luar kendalimu. Jika usaha yang kamu lakukan tidak berdampak apa-apa, pertimbangkanlah untuk akhirnya tidak ambil pusing dengan konflik yang terjadi dan fokus terhadap tujuan pekerjaan. Karena hidup terlalu singkat untuk meladeni konflik-konflik yang tidak penting. 

Apabila keseluruhan hal tersebut telah kamu lakukan, dan sebagai generasi Z kamu bisa memposisikan diri sesuai keadaan, perbedaan pendapat akan menjadi hal yang membangun dalam lingkungan pekerjaan loh! Hal ini dikarenakan kamu dapat melihat dan saling bertukar informasi dari orang lain antar generasi, dengan tetap mengedepankan norma-norma yang berlaku dan memperhatikan tata krama. Berusahalah untuk menghargai pendapat orang lain, karena bagaimanapun, rasa saling menghormati adalah wujud terbaik yang membuat suasana lingkungan pekerjaan menjadi lebih baik dan produktif, sehingga konflik-konflik kecil tidak mengganggu tujuan pekerjaan yang telah ditetapkan.

 

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020